Friday, February 28, 2014

GENERASI MUDA GPdI-GEREJA PANTEKOSTA DI INDONESIA HARI INI



(Tulisan ini pernah dimuat di Pantekosta News Manado, Edisi November 2013)


Telah terjadi kebangkitan generasi muda GPdI kedua di Jateng dan Jabar. Itu diukur dari atmosfir Youth Camp 9-11/7/2013 Cipanas, dan di Kampus STT Salatiga, 2-5/7/2013 silam. Bagaimana tidak, “di Jabar 71 orang dibaptis di acara itu,” kata Pdt. Bernath Hutagaol. Di Jateng, “260 peserta ingin jadi hamba Tuhan,” kata Pdt. Rudi Siahaan. Belum lagi acara serupa digelar MD/KD hampir di seluruh Indonesia, luar negeri mungkin saja. Tampaknya, Juli adalah bulan kegerakan Api Pantekosta di Indonesia. Mungkinkah ini pembenaran Api Pantekosta sedang menyala kembali? Inikah awal kegerakan besar kedua GPdI abad 21? Inikah tanda positifnya respon dari generasi muda ke GPdI sekarang? Semoga!

Pahami Isi Hati Generasi Muda
            Sejak Agustus 1997, ketika pertama sekali menjadi hamba Tuhan GPdI, hingga zaman meledaknya pengguna jejaring sosial dan telekomunikasi lain hari ini, banyak diantara kita bebas berkomentar soal GPdI. Ada yang sinis, banyak juga komentar membangun. Memang, tiap pelayanan, oknum, organisasi, dan sistem punya keterbatasan, tidak bisa ditutup-tutupi. Komentar itu menginspirasi saya kerjasama dengan KD, Panitia Youth Camp, Konselor meneliti “ada apa dengan generasi muda GPdI.” Tidak ada jalan selain bertanya langsung, mengenali isi hati mereka.

            Saya sendiri merancang 14 items pertanyaan angket/survey. Intinya, “apa yang pemuda inginkan dari gereja supaya rohaninya bertumbuh?” Memang, angket punya keterbatasan, seperti metode penyelidikan lain. Apa alasan menjawab YA atau TIDAK belum dikomunikasikan. Itu berarti tugas kita memahami belum usai. Itu membuka ruang bagi kawan lain mengamati lewat metode lain, sehingga ilmu pengetahuan bisa dipekerjakan memajukan pekerjaan Tuhan. Tujuan penyelidikan ingin menggambar secara umum keinginan hati generasi muda GPdI.

            Tulisan ini, termasuk pencitraan: “Inilah kondisi terkini sejumlah generasi muda, yaitu Remaja, Pemuda, Mahasiswa GPdI,” (apapun orang bilang),” namun berdasarkan mata orang muda, bukan opini, apalagi rekayasa. Memang, penelitian ini hanya diwakili dua provinsi. Namun, jumlah responden 947 orang. Setidaknya mereka mewakili lainnya. Jawaban mereka adalah fakta, jangan disepelekan.

Keinginan Generasi Muda
            Setelah olah data sistem komputerirasi (IBM SPSS Statistics 19-Analyze Frequency), umumnya pengalaman generasi muda sangat positip kepada GPdI. Hal itu terlihat dari data disini. Beberapa bagian disoroti disini. Itu bukan sisnisme, tapi pilihan agar tahu mengatasi. Bukankah, memberikan solusi lebih mulia, ketimbang gemar membicarakan persoalan?
           
            Berikut ini penjelasan dan temuan penting dari penelitian. Satu, 81,8 % yaitu 775 orang, bangga dengan identitas dan berjemaat di GPdI, tapi 18,2 % (172 orang) mengaku tidak. Angka ini kelihatannya tidak terlalu banyak, tapi sangat menyakitkan ketika pengakuan ini didengar gembala sidang. Apa jadinya kalau mendapati jemaat berkata seperti itu, meskipun mungkin itu jujur dan realita. Fakta ini mendesak kita untuk “membarukan makna” pengajaran untuk menegaskan kebanggaan jadi jemaat Tuhan di GPdI.
            Dua, 79,9 % (757 orang) mengalami pertumbuhan rohani di GPdI, meskipun 20,1 %  (190 orang) tidak. Kenapa tidak bertumbuh? Ini pekerjaan besar yang harus kita selidiki lagi, sehingga pelayan yang diperjuangkan siang-malam tepat sasaran. Tiga, 80,6 % (763 orang) merasakan isi dan model khotbah cocok untuk konsumsi orang muda. 19,4 % (184 orang) merasa tidak terpenuhi selera dan standar mereka. Empat, 78,5 % (743 orang) cara dan penyampaian khotbah disukai. 21,5 % (204 orang) tidak suka dengan apa yang didengarkan.

            Lima, 76,0 % (720 orang) merasakan jamahan Tuhan hadir dalam pujian penyembahan, 24,0 % (227 orang) tidak. Enam, 76,8 % (727 orang) instrumen musik, pilihan lagu bisa membawa hubungan erat-intimasi dengan Tuhan. 23,2 % (220 orang) tidak bisa merasakan apa-apa. Tujuh, 77,3 % (732 orang) menganggap para pemusik, songleader, singer pujian dan penyembahan bisa memimpin untuk menikmati suasana, kehadiran Tuhan di gereja. Ada 22,7 % (215 orang) yang tidak menikmati apapun.

            Delapan, sebanyak 69,4 % (657 orang) melihat pengerja, aktivis, pembina rohani bisa mendampingi pertumbuhan rohani dan memotivasi untuk mengahadapi masalah. Senang rasanya mendengar itu. Walaupun, ada 30,6 % (290 orang) merasa kehadiran para pelayan Tuhan tidak membantu. Ada apa dengan mereka? Kita perlu berkaca diri. Ini petunjuk bagi gereja lokal agar mengaktifkan pemuridan dan pendewasaan jemaat sehingga bersedia belajar melayani atau PA-Pendalaman Alkitab. Kelihatannya, PA seakan tidak lagi diminati jemaat, selain ibadah raya. Padahal, itu dulunya amat kuat, bahkan ciri GPdI.

            Sembilan, 65,4 % (619 orang) gembala bersedia memberikan kebebasan  pemuda mengelola acara sendiri. 34,6 % (328) tidak membolehkan mereka mengelola pelayanan sesuai keinginan. Ini tergantung kepada kondisi gereja lokal. Gembala punya visi dan misi Tuhan, dan kebijakan membangun pelayanan ke level tertentu. Sepuluh, 72,9 % (690 orang) gembala sudah tepat memilih, memberikan tanggungjawab pelayanan pada orang. Namun, masih ada 27,1 % (257 orang) tidak setuju.

            Sebelas, 56,6 % (536 orang) pindah gereja karena dipengaruhi gereja lain. Artinya, memang benar kehadiran gereja lain menyebabkan generasi muda undur diri dari GPdI. Tapi, 43,4 % (411 orang) menyatakan, pindah karena faktor lain. Itu karena isi dan metode pengajaran lewat khotbah, pujian penyembahan, musik dan lagu, tim musik ibadah, tim pelayanan, otoritas gembala atau kebutuhan umum lain. Dua belas, 52,9 % (501 orang) pindah bukan pengaruh gereja lain. Pengalaman dari 446 orang, yakni 47,1 % adanya migrasi generasi muda ke gereja lain karena gerejanya tidak lagi sesuai kebutuhan. Tigabelas, 79,2 % (750 orang) mengaku, pelayanan dan program gereja membuat makin mengerti Firman Tuhan. 20,8 % (197 orang) tidak mengerti Firman Tuhan. Data ini mendorong gembala sidang membuat cara tertentu mengetahui bagian pelayanan mana tidak lagi sesuai kebutuhan hari ini.

            Empatbelas, 85,4 % (809 orang) ingin program, pelayanan atau khotbah mengenai masalah umum. Misalnya ketrampilan hidup, kebutuhan jasmani, pengetahuan sekuler, cara membuka lapangan kerja, bantuan studi atau pelajaran sekolah, cara menghasilkan uang, cara memanfaatkan teknologi, komputer dan gadget, dan masalah kehidupan umum. Ini pertanda gereja diminta memfasilitasi kebutuhan umum generasi muda GPdI hari ini. Meskipun 14,6 % (138 orang)  meyakini gereja dipanggil untuk urusan rohani.
           
            Youth Camp sudah usai. Acara itu mengajari kita banyak hal. Tapi apa, bagaimana, dan kemana mereka setelah itu, jauh lebih penting? Menangani generasi Muda GPdI adalah tanggung jawab bersama. Setidaknya lewat data, kita pahami hatinya, setelah itu, mereka bisa ditemani ke jalan Tuhan. Data ini membantu kita melayani kebutuhan mereka sesuai sasaran, dan pekerjaan Tuhan semakin terfokus. Hendaklah demikian!

532 Anak Muda GPdI Ngumpul: Ngapain? Siapa Bisa Tandingi?



(Tulisan ini pernah dimuat di Pantekosta News Manado Edisi November 2013)


Anak muda GPdI kolot, nggak gaul, mati gaya, cinta Tuhan tapi nggak open-minded.” Itu gosip yang santer terdengar. Bukan hanya hari ini, tapi sudah puluhan tahun. SEMUA ITU KELIRU. Itu gosip murahan. Kami punya citra dan jati diri, “Generasi Muda Penerus GPdI.” Kami bukan ikut-ikutan gaul supaya mudah digauli, tapi memang kami suka bergaul, setidaknya dengan Tuhan, sesama denominasi plus interdenominasi. Di dunia maya, kami bergaul dan berselancar juga. Ke gereja? Jangan tanya! Kami ada didalam, lebih dari yang kalian tahu.”

Kelihatannya itulah yang mau dibuktikan 532 peserta Youth Camp 2-5 Juli 2013 di Kampus STT Salatiga, Jateng kemaren. Lihatlah, “Remaja, Pemuda, Mahasiswa, mulai 11 tahun hingga usia 30, semua berbaur,” seperti penuturan Pdt. Barnabas Tri, ketua seksi pendaftaran.

Asik rasanya disini, rugi yang tidak ikut, seperti kata Fitri, peserta dari GPdI Telaga Kasih Semarang. Bahkan, “ingin jadi muda kembali melihat mereka itu. Tak seorangpun keberatan dan tanpa protes. Mereka jauh-jauh meninggalkan rumah demi even akbar itu”, kata Pdt. Rudi H. Siahaan, S.Th, Ketua Seski Acara. Rela kurang tidur, padahal 3 hari 3 malam melompat-lompat kegirangan karena lawatan, jamahan dan pengurapan Tuhan. Belum lagi, peserta itu diisi dengan acara dan sesi yang padat. Mulai dari doa pagi jam 4 subuh ditengah dinginnya Kota Gunung Salatiga, hingga talent show. “Semua acara itu demi memperlengkapi anak muda menuju kesempurnaan gereja, dan menyambung tema besar GPdI,” seperti kata Pdt. Paulus Suyatno. S.Th., M.Pd, Ketua Panitia.

Lepas dari kurang lebih teknis pelaksanaan, acara ini sukses membuktikan, “Api Pantekosta tetap berkobar dan menyala-nyala di hati anak muda GPdI. Belum lagi even serupa di seluruh MD/KD/KW, bahkan di luar negeri. Bagaimana tidak kewalahan, acara yang semula direncanakan hanya 400 orang, nyatanya membludak melewati batas kemampuan dan daya tampung, seperti penjelasan dari Pdt. Yason Marbun Ketua seksi Konsumsi. Padahal, mereka  harus membayar 75.000/orang.

Dari animo dan total peserta, sejauh ini belum ada denominasi lain yang bisa menandingi jumlah peserta dalam satu even dari satu provinsi, yang baru hanya dihadiri 94 gereja. Bukan untuk gagah-gagahan, apalagi pamer, tapi itu bukti nyata maunya beberapa pihak berdamai untuk pekerjaan Tuhan. “Itu baru setengah dari jumlah GPdI se-Jateng. Jumlah segitu bukan karena konflik, tapi lebih karena tempatnya yang terbatas. Disamping, mulai banyak yang mendaftar sekolah dan kuliah lanjutan,” seperti kata Pdt. Juswardi Tarigan, S.Th, Ketua Panitian I.

Acara ini sebagai tanda Api Pantekosta masih berkobar dan semakin berkobar dalam diri pemuda Pantekosta. Itu bukan untuk mengatakan, acara ini tidak ada atau lebih baik dari periode sebelum-sebelummnya. Tapi, ini cara untuk tetap mengobarkan semangat dan kecintaan pada Tuhan. Itu upaya lain untuk menyala-nyalanyakan semangat muda untuk cinta Tuhan dan memobilisasi mereka cinta pekerjaan Tuhan. Itulah dibenak seluruh panitia Acara. Makin terbukti, hal itu terasa dalam pujian penyembahan mulai acara pembukaan, yang dipimpin oleh Pdm. Noni Pandjaitan, S.Th, diteruskan dalam KKR. Lalu, demikian pun oleh Pdt. Timotius Ngatmin di hari ke-3, silih berganti juga dilakukan Pdt. Leo Mailuhu, S.Th di akhir acara.

Yang melengkapi gemerlapnya acara itu, selalu terdengar pujian kebesaran kita: “Api Pantekosta kupunya, kubiarkan menyala,” begitu terus berulang-ulang, diulang dan diulang lagi.  Salam Pantekosta, Haleluyah! Itu diteriakkan berkali-kali. Rupanya, itu sebagai satu cara memotivasi peserta yang sedang belajar mengenali jati diri Pantekosta. Tidak salah panitia memilih tema: “Generasi Muda yang Diurapi dan Dipenuhkan Roh Kudus.” Memang betul, even ini bisa jadi sebagai pembuka jalan untuk kebangkitan kedua aksi melayani Tuhan dalam diri kaum muda GPdI. Biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 21:1) makin cocok untuk ayat pendukung acara itu.

Inikah awal kegerakan besar kedua GPdI abad 21? Inikah tanda positifnya respon dari generasi muda ke GPdI sekarang? Jangan-jangan, “inilah manifestasi dari proyek Illahi yang besar di GPdI lewat orang muda” seperti kata Pdt. G.A. Pandjaitan, M.Th Ketua II MD Jateng, di kata sambutannya? Mungkin itu baru awal saja, karena yang penting pembinaan kembali setalah even ini. Terus, untuk follow up pertumbuhan iman orang-orang muda itu, khususnya bagi bagi 80-an orang yang membuka diri untuk dibaptis selam karena acara itu. Ditambah 260 orang (dihitung dari jumlah deretan kursi kosong, dijelaskan oleh Pdm. Denny Padamara, S.Th, Seksi Perlengkapan dan Akomodasi) yang maju dan rela menjadi hamba Tuhan, ketika altar call oleh Pdt. Franky Rhewa dalam khotbah penutupan.

Jika saja masih ada yang berkomentar miring ke GPdI, mereka belum tahu apa dan siapa orang Pantekosta. Tidak perlu diperdebatkan, perbanyak saja acara-acara seperti ini diberbagai KD/KW. Hanya itulah bukti nyata yang bisa menjawab keraguan orang terhadap kita. Sekaligus, even itu sanggup membetulkan persepsi publik mengenai jati diri orang muda GPdI.

Mahasiswa, Pemuda, Remaja Gereja Pantekosta di Indonesia Jawa Tengah: Apa Mau Kalian?



(Tulisan ini telah dimuat di Majalah "Suara Pantekosta: Media Komunikasi Hamba-Hamba Tuhan Daerah GPdI-Jawa Tengah," Edisi ke 2, Vol. 2. Jan-Juli 2014).

Sejak masuk ATHAS-Akademi Theologia Alkitab Salatiga tahun 1997, saya serius mengamati pelayanan
mahasiswa, pemuda, remaja (disingkat Pelmaprap) gereja kita. Kian sering terdengar pengerja dan aktivis berkeluh: “banyak orang yang tidak datang ibadah”. Tahun berganti hingga kini, saya makin gelisah dengan keluhan itu. Rasanya, ada alasan menyatakan, ada fenomena generasi muda GPdI sedang undur tinggalkan gereja. Padahal, generasi muda adalah penerus dan pilar ministri. Ada apa, mengapa begitu, apa maunya mereka, sih?

Apa Kata Orang?
Apa kata orang (yang melayani) tentang kondisi Pelmaprap sekarang? Saya bertanya (secara kualitatif korespondensi) ke beberapa teman lewat Facebook “Alumni ATHAS.” Apakah fenomen itu terjadi di pelayanannya? Ada yang mengatakan pelayanannya baik saja. Marsudi Siregar, bilang: “Kalo ditempat saya, justru pelayanan pemuda sekarang yang banyak melalukan penginjilan, kkr, padahal mereka bukan seperti kita ini lulusan theologia.” Namun, ada temuan menarik yang penting ditelusuri.

Melvin Tjiang di Bandung mengatakan: “Gereja memang semakin kurang menarik untuk anak muda.” Di Banten, “banyak pemuda meninggalkan gerejanya dengan alasan bahwa dia tidak bertumbuh di dalam,” kata Robert Simbara. Sedangkan di Makassar: “sejauh yang diamati dan sudah liat antara lain: suasana gereja yang kurang persaudaraan, ada pula alasan musik kurang seru, ada pula yang karena pacar atau suami/istri,” kata Imung Saputra di Makassar. “Mungkin karena yang berdiri di mimbar terlalu jadul,” kata Darius Tarigan di Tangerang.

Andreas Sembiring di Medan akui: “Ya kasustik memang. Ada juga pendapat para gembala tidak dapat memberikan pelayanan yang lebih menyentuh kehidupan. Trend hidup, pergaulan zaman yang terus berubah, membuat pola hidup anak muda seolah-olah harus hidup seperti zamannya. Tanpa disadari arus duniawi menarik perlahan sehingga hal rohani diangga tidak penting. Tugas gereja di pelayanan anak muda bagaimana pola ibadah dikreasikan untuk mengimbangi gaya hidup asal tidak keluar dari kebenaran firmanNYA. Terutama tugas orang tua/keluarga menanamkan sejak anak”. Tigor Yunus Sitorus turut berkomentar: “saya cuma heran saja banyak orang sudah tidak takut lagi kepada Tuhan, ini baru fenomena,” di Yogyakarta.

Kawan-kawan lain mengakui hal yang sama terjadi di Jateng. Armisari Bangun di Bandungan berkata: “Benar itu, setuju sekali.” Malahan, Yefta Hani Silitonga di Juwana tegas mengatakan: “ditempat dimana saya membantu pelayanan yang menyebabkan faktor tinggalkan gereja karena pemimpin sudah jarang urusi ibadah pemuda dan remaja. Sehingga mereka merasa tidak diperhatikan gembalanya. Sisi lain peran orang tua menyuruh anaknya ibadah pemuda sudah tidak lagi. Karena selesai ibadah malah anaknya keluyuran pacaran”. Ia juga mengakui: “Di pelayan orang tua (Rantau Parapat) juga demikian. Bahkan, banyak gereja yang seperti itu. Dengan tidak bermaksud menyinggung, tapi, perlu dibenahi. Gembala punya tanggung jawab juga mengurus domba yang masi muda, bukan hanya tua saja. Di Prambanan Lusia Pujiningtiyas berkata: “Perlu gereja memfasilitasi kreativitas ibadah pemuda sesuai dengan hati pemuda, pembicara yang gawuuuulll...gawulll”.

Pengakuan mereka itu seolah membuktikan adanya fenomena itu. Itu tidak bisa didiamkan. Tulisan ini mencoba memaparkan hasil penyelidikan (secara kuantitatif) lain terkait fenomena itu agar kita bisa betul-betul mengerti masalah itu dan apa maunya Pelmaprap dari gereja.


Apa Kata Mereka Sendiri?
Rasanya belum puas dengan pendapat sebelumnya. Saya berupaya menemukan apa kata Pelmaprap itu
sendiri. Tidak ada cara lain selain bertanya langsung. Jadi, naskah ini dibangun hasil penyelidikan, apa kata mereka berdasarkan sudut pandang dan pengalaman mereka sendiri sebagai orang yang dilayani. Lebih khusus lagi, apa sebenarnya yang diinginkan Pelmaprap GPdI Jateng dari gereja masing-masing, agar mengalami pertumbuhan rohani.

Untuk memahami fenomena itu, saya sendiri merancang 14 pertanyaan angket untuk menyelidik 14 indikator pelayanan Pelmaprap untuk mengerti apa maunya mereka. Sebanyak 502 peserta (responden) Youth Camp MD Jateng 2-5 Juli 2013 di Kampus ATHAS-Salatiga diteliti. Itu dihitung dari angket yang dibagi ke responden sebanyak 532 yang kembali 502 lembar. Penelitian itu selesai karena bantuan dan kebaikan hati Panitia, Orang-orang KD, Konselor atau Pembina Kelompok.

Setelah olah data lewat IBM SPSS Statistics 19-Analyze Frequency, secara umum respon atau pengalaman anak muda GPdI terbilang positip kepada gerejanya. Walau ada data temuan menarik yang perlu diperhatikan. Berikut pengakuan atau pengalaman generasi muda GPdI terhadap pelayanan Pelmaprap di gerejanya.

1.      27,7% (139 orang) mengaku tidak bangga jadi jemaat GPdI di gerejanya, walaupun 63,9 % (321 orang), tetap bangga.
2.      29,9 %  (150 orang), mengaku tidak mengalami pertumbuhan di gerejanya. Meskipun, masih ada 70,1 % (352 orang) mengalami pertumbuhan rohani.
3.      29,7 % (149 orang) merasakan isi dan model khotbah tidak cocok dikonsumsi dan selera orang muda. Artinya, kebutuhan spiritual mereka tidak terpenuhi. Walaupun demikian, masih ada 70,3 % (353 orang) merasakan isi dan model khotbah cocok untuknya.
4.      27,9 % (140 orang) tidak suka dengan cara penyampaian khotbah dan Firman Tuhan tidak menarik. Sebaliknya, masih ada saja 72,1 % (362 orang) merasa diberkati dengan itu.
5.      27,7 % (139 orang) tidak bisa merasakan jamahan Tuhan hadir dalam pujian penyembahan. 72,3 % (363 orang) bisa merasakan.
6.      27,3 % (137 orang) instrumen musik, pilihan lagu tidak bisa membawa hubungan erat-intimasi dengan Tuhan. Artinya, pada saat pujian dan penyembahan, mereka tidak merasakan apa-apa. Sedangkan, 72,7 % (365 orang) bisa menikmati.
7.      25,9 % (130 orang) mengakui para pemusik, songleader, singer pujian dan penyembahan tidak bisa memimpin ibadah untuk menikmati atmosfir, suasana dan kehadiran Tuhan di gereja. 74,1 % (372 orang) berkata, mereka bisa
8.      28,1 % (141 orang) melihat pengerja, aktivis, pembina rohani tidak bisa mendampingi pertumbuhan
rohani dan memotivasi ketika mengahadapi masalah. Artinya, kehadiran para pelayan Tuhan tidak membantu. Meskipun, masih ada 71,9 % (361 orang)  menunggu kehadiran para pembina rohaninya.
9.      30,3 % (152) merasa gembala sidang tidak membolehkan mereka mengelola pelayanan sesuai keinginan. 69,7 % (350 orang) merasa dibebaskan oleh gembala.
10.  28,3% (142 orang) kecewa dengan gembala karena memilih, memberikan tanggungjawab pelayanan pada orang yang tidak tepat. 71,7 % (360 orang) merasa gembala sudah melakukan yang tepat.
11.  27,9 % (140 orang) pindah gereja karena dipengaruhi gereja lain. 72,1 % (362 orang) menyatakan pindah karena faktor lain. Misalnya, isi dan metode pengajaran lewat khotbah, pujian penyembahan, musik dan lagu, tim musik ibadah, tim pelayanan, otoritas gembala atau kebutuhan umum.
12.  28,3 % (142 orang) pindah ke gereja lain karena gerejanya tidak lagi sesuai kebutuhan. 71,7 % (360 orang) pindah bukan merek gereja lain, tapi memang tidak sesuai dengan gereja lokal.
13.  27,5 % (138 orang) mengaku lewat pelayanan di gereja, ia tidak mengerti Firman Tuhan. 72,5 % (364 orang) bisa mengerti Firman Tuhan.
14.  87,3 % (438 orang) menginginkan ada program, pelayanan atau khotbah mengenai masalah umum di gereja. Misalnya ketrampilan hidup, kebutuhan jasmani, pengetahuan sekuler, cara membuka lapangan kerja, bantuan studi atau pelajaran sekolah, cara menghasilkan uang, cara memanfaatkan teknologi, komputer dan gadget, dan masalah kehidupan umum. 12,7 % (64 orang)  meyakini gereja lebih dipanggil untuk urusan rohani.

Meskipun kelihatannya prosentasi pengalaman negatif (TIDAK) dari responden lebih sedikit tinimbang positif (YA), tetapi jangan lantas dicuekin begitu saja. Itu perlu dicermati lagi. Ternyata hampir separohnya dari mereka merasa negatif dan merasa positif ke Pelmaprap. Jawaban itu merupakan bentuk lain dari apa maunya Pelmarap GPdI Jateng, sekaligus sedang menunjukkan apa-apa saja yang ingin dilakukan gereja untuk mereka sehingga imannya bertumbuh. Data ini sedang menyodorkan 14 petunjuk mengapa mereka tidak betah bergereja. Padahal, Tuhan sedih melihat anak muda berpaling dari gereja. Ia berfirman dalam Ibrani 11:25a “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita,  seperti dibiasakan oleh beberapa orang...” Bagi Tuhan, persekutuan sesama orang beriman di gereja penting.

Jawaban itu sekiranya dipahami lebih jauh sehingga tahu apa tindakan berikutnya. Angket hanya sebagai alat penampung “saran.” Ia salah satu cara penelitian dan alat evaluasi. Hasilnya penting diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan. Data ini adalah gambaran nyata dan kondisi terkini pelayanan Pelmaprap GPdI Jateng. Responden adalah contoh (sample) yang mewakili Jateng, karena yang disurvei 84 gereja yang mengirim utusan ke acara itu, seperti penuturan Pdt. Barnabas Tri, ketua seksi pendaftaran.

Mau Apa Lagi?
Temuan ini mendorong kita semua, baik MD, KD, Gembala, Aktivis, dan Pelayan Tuhan di gereja lokal semakin mengenali keadaan pelayanan. Lewat data itu, kita seakan dituntut bertambah giat memperhatikan Pelmaprap. Dan, mendorong kita menaikkan mutu pelayanan, dan menambah upaya untuk memenuhi kebutuhan nyata jemaat, dan membuat pelayanan semakin tepat sasaran, dan makin fokus bersandarkan pertolongan Tuhan Yesus.

Tulisan tidak punya tendensi pribadi, murni sebagai tanda perhatian demi kemajuan GPdI. Ini bantuan untuk mengenali persoalan seputar pelayanan Pelmaprap GPdI se-Jateng secara keilmuan. Artinya, ilmu sedang dipakai untuk meningkatkan kualitas ministri di GPdI. Bagaimanapun, akhirnya kita tahu apa kebutuhan mendesak pelayanan lewat atau yang diwakili oleh 502 responden itu.
           
Perlu dipertimbangkan, MD dan KD bisa membuat pertemuan atau acara khusus untuk kebutuhan para aktivis Pelmaprap se-Jateng menindaklanjuti hasil ini, termasuk kepada gembala sidang. Secara teknis pelaksanaan, pastilah MD dan KD Jateng sangat bisa diandalkan. Youth Camp lalu hanya untuk kebutuhan orang-orang yang dilayani di gereja masing-masing. Sekarang perlu juga bagi orang yang melayani.

Pertemuan itu bisa menjadi follow up untuk membekali para aktivis agar siap pakai di ladang Tuhan, sekaligus menjadi jalan baru yang bisa ditempuh agar visi dan misi MD dan KD Jateng bisa semakin dikerjakan oleh seluruh pelayan Tuhan di ketiga wadah pelayanan itu. Temuan ini hendaknya memicu semua orang GPdI bekerja keras untuk memobilisasi anak muda agar semakin mencintai gereja Tuhan terlepas kekurangannya. (Jika mau dikutip, TOLONG, cantumkan sumbernya!)

Monday, July 15, 2013

Allah Hadir di Nasi Telor: Bagaimana Jadi Muslim Kota, Sebuah Kasus.


Meskipun aku pendeta, kepalaku penuh dengan kajian Islam garis keras. Sebetulnya, entah apanya yang keras, seperti stigma orang-orang, aku juga nggak pernah temui. Tidak heran, aku adalah mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri di  Jogja. Sunan Kalijaga, itu nama kampusku. Seakan, aku tahu banyak tentang Islam.

Hari ini aku bisa didikte sendiri, bagaikan anak TK, “bagaimana menjadi Muslim di masyarakat kota”. Disini, Muslim itu rela berkorban untuk saudaranya yang bukan seiman. Hal itu, aku simpulkan dari sejumlah Muslim yang kuajak bicara hari ini, tepatnya 3 orang. Muslim disini amat sangat toleran, bahkan terbuka untuk siapa saja, Mereka rela mengorbankan nafsunya, dalam hal ini nafsu makan.

Bagaimana nggak. Mbak Mimin, itulah namanya. Ia muslimah tulen. Setidaknya, karena ia berpuasa. Bukankah, puasa adalah salah satu petanda kepatuhan menjalankan ritus agama? Ia dan dua orang karyawannya, bukan kebetulan, memang Muslimah. Warung makan seukuran dua setengah kali delapan meter itu, (2.5 X 8 ), itu sudah eksis di tengah Pasaraya I, Kota Salatiga, sejak 1976. Meski bulan berpuasa, ia tetap buka layaknya hari-hari pasar dari jam 6 pagi sampe 4 sore.

Lihat saja, bagaimana mereka hidup di tengah-tengah Nasrani yang banyak disitu, sejak 1960-an. Mereka rela mengorbankan nafsu makannya, bahkan untuk sekedar tidak mau mencicipi makanan yang dimasak, karena setia berpuasa.  Meski demikian, aku tetap saja nambah. Bukan karena aku Batak, tapi memang maknyusss menu hari itu.

Suer till death deh, nasi telor, pake es teh, sambalnya dengan mudah memaksaku memintah lebih banyak lagi. Apalagi, lengkap dengan sayur berkuahnya.  Aku seolah-olah tidak peduli dengan sejumlah minuman bermerek dijejerkan di depan mataku, yang biasa kudapat dihotel-hotel mewah yang pernah kuinapi. Tak salah, Allah hadir hari itu di nasi telor tempe pesananku. Keramahan Muslimah kurasakan disana, seakan ingin kembali.
Sengaja kuamat-amati warungnya dan suasana seputar, khas pasar rakyat yang bersehaja. Saat itu pukul 2.30 Wib siang, (Senin 15 Juli 2013) ketepatan terlihat dari jam dinding yang sengaja bergantung di warung bercat biru langit itu.

Memang, tempat itu memiliki nuansa romans di dalamnya. Sepasang suami istri tukang pikul
sayuran pasar pagi, asik dan dengan bebasnya bersendagurau, senyum-senyum simpul persis muda-mudi yang sedang kasmaran. Pertama kali kulihat si suami itu, otakku langsung mengingat si Kumis komedian Indonesia yang terkenal itu. Mirip sih, setidaknya kumisnya.

Awalnya,  seakan mereka pasangan selingkung, dari usianya yang bukan lagi muda. Itu dugaan awal di kepalaku, Oh.. ternyata aku salah, maaf.

Mereka adalah warga pasar yang rutin makan siang disana, yang akrab dengan para Muslimah tadi. Kehangatan sosial dan emosi itu diperkuat dengan Mbak Mimin terlihat awet dan bersih. Semakin kelihatan dari senyum dan cara melayani orang-orang di warung, yang katanya, itulah sumber kehidupan bagi 3 anak-anaknya. Ia ramah dan informatif, samahalnya  kayak kedua Muslimah lainnya.

Hmmm... nikmat makannya, berwarna dan beragam pilihan sajian, pas buat pencinta kuliner ala rakyat kecil. Nyaman suasananya, ramah lingkungannya, meskipun tidak sebersih dan semengkilat tegel rumah warga Tionghoa yang mendominasi “Pecinaan” Kota Salatiga. Kayaknya, nikmat hidangan hari itu, gambaran dari bersihnya hati Muslim si pemilik warung tersebut. Bisakah dibilang ini implikasi dari kebersihan itu sebahagian dari iman, yang diyakini para Muslim kebanyakan? Entahlah, tapi, yang kulihat hari itu, membantah keraguanku.

Semakin kuselidik makin kedalam. Ada kain penutup, bukan untuk membatasi atau sok-sok ekskusif, tetapi itu indikator jelas, bagaimana tingginya tingkat toleransi para Muslimah itu.

Ia berkata: “warung ini sengaja ditutupi kain seperti itu, supaya yang lain enak makan disini, tanpa mengganggu jalannya puasa bagi yang lain. Orang-orang yang makan disinipun, tidak merasa tidak enak terhadap Muslim lainnya,” demikianlah penjelasan padat dan tajam penuh makna bagi orang didalam agama yang mereka ikuti dan saudara tidak seimannya. Ini menyadarkanku, betapa bijaksananya mereka itu. Hal itu, ketika kulihat sendiri di banyak TV nasional.

Saat ramadhan begini, banyaknya sweeping dari kelompok “tertentu” yang memaksa dengan pedang dan lembing, plus batu disaku kiri kanan untuk menutup paksa tempat-tempat makan dan hiburan ditengah tingginya tingkat stress warga Jakarta dan kota-kota lain se-Indonesia. Biasanya, tindakan main atur sendiri itu demi alasan, yang katanya untuk menghargai umat yang berpuasa. Kamu bisa menilai sendiri, dimana letak kebenaran dari alasan toleransi yang ingin dibentuk oleh mereka. Bukannya, orang seperti mereka menjadi intoleransi. Malahan, mereka menimblkan terorisme sosial yakni karena orang merasa ketar-ketir dibuatnya, ditengah usaha yang telah berpajak tinggi itu.

Para Muslimah pasar tadi, membuktikan kecerdasan teologis berbarengan dengan kebijaksanaan sosial. Gimana nggak, disaat-saat mereka menahan lapar dan haus dihari panas kayak itu, mereka bersedia kerja keras untuk memenuhi kebutuhan perut sesama pengguna pasar rakyat di Kota yang terkenal dengan enting-entingnya itu? Beda bangat dengan kelompok “tertentu” yang menakutkan tadi.

Mereka ini, muslimah yang tidak pernah bisa jadi imam, karena mereka perempuan, bukan laki-laki yang harus jadi mama dalam ibdah dan amalah. Tetapi bagiku, tindakan yang berbarengan dengan cara keberagamaan mereka itu telah mampu mengimami, maksudnya mampu memimpin sesama pengguna pasar yang tidak sama agama dan ritusnya untuk melangsungkan kehidupan jasamani dan ekonomi di masyarakat sekitar.

Tindakan terpuji dari Muslimah, di tengah orang-orang nasrani yang mayoritas populasinya,
di kota kelahiran Rudi Salam dan Roy Martin, bapaknya Gading Martin, para selebriti papan atas itu mampu membukakan mataku. Banyak Orang Kristen makan bersama siang itu disana.

Alhamdulillah, setelah merasakan Allah hadir lewat pribadi Muslimah dan makanan sajiannya, aku makin kagum 7.000 perak saja kubayar hari itu.

Mungkin orang bisa saja berkata sejenak, “ah.. terlalu banyak
pujian disana-sini. Memang, melaknati orang baik karena didorong nilai agama dan keyakinannya, tanda kita bukan orang beragama yang terpuji.