Sunday, August 17, 2014

Sekolah Tinggi Theologia Tidak Punya Ijtihad dan Jihad Akademik

Permasalahan akademik yang sedang terjadi di dalam diri Sekolah Tinggi Theologia (STT) Kristen di Indonesia adalah karena ia masih berparadigma sempit, yakni studi teologia. Akibatnya, lulusannya kurang berkontribusi terhadap perkembangan pemikiran Kekristenan dan pemecahan terhadap masalah-masalah yang ada dan realitas sosial yang sedang terjadi. Paradigma yang digunakan masih mono-pendekatan yaitu kajian teologia yang bertitik tekan pada pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritualitas belum dengan pendekatan multi-keilmuan dan pemahaman langsung terhadap kehidupan riil orang Kristen yang dijelaskan di dalam kajian-kajian teologia tersebut. Hasilnya, lulusan pendidikan theologia dan ilmu itu sendiri sering dianggap remeh diantara sosial sains lainnya karena tidak mengerti soal-soal kehidupan nyata. Kalau sudah demikian komplikasi persoalannya, lulusan STT itu akan kemana? Bagaimana solusi persoalan ini bisa mulai dilihat dan diurai dari sisi keilmuan? Tulisan ini akan mengulas hal itu dengan terlebih dahulu mendalami persoalan mendasar dari dalam diri lembaganya sendiri, secara khusus STT diluar kelompok mainstream, semacam STT Protestan. 
 


Masalah Keilmuan di STT:
Pendidikan Theologia di STT di lingkup gereja dan yaysan penyelenggara semacam Pantekosta, kharismatis ataupun yang sering dikelompokkan secara besar 'injili' menyimpang jika diukur dari esensi Tridarma Perguruan Tinggi. Soal pengajaran lebih didominasi kurikulum teologia, meskipun jurusannya non- teologia misalnya PAK, Kongseling dan Musik Gereja. Hampir semua lembaga membanyak-banyaki kurikulum teologia. Penelitian yang sering dilakukan masih seputar teks-teks keagamaan, literatur atau studi kepustakaan. Penelitian empiris berbasis lapangan terhadap manusia dan kompleksitas kehidupan nyata sangat dihindari dengan berbagai alasan oleh mahasiswa dan dosen terkait. Akibatnya, terjadilah kurangan pengertian yang benar terhadap hakikat jemaat sebagai masyarakat luas yang mempercayai isi dan tulisan kitab suci dibanding .apa makna isi dan tulisan itu dan bagaimana itu berproses dimasyarakat menjadi luput dari pengamatan. Mereka tidak melakukan penelitian empiris mendalam dan objektif terhadap dinamika komunitas masyarakat luas dan Kristen pada khususnya.
Pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat memang disebut-sebut di dalam kelas tetapi apa dan bagaimana itu berproses di kehidupan nyata sangat tidak terpikirkan secara mendalam.
 
Pengabdian masyarakat melulu hanya ditempatkan berpraktek di gereja. Semestinya, pengertian masyarakat disana tidak sesempit warga gereja tetapi juga orang-orang di luar gereja. Bandingkan dengan KKN atau PPL universitas yang langsung terjun ke desa tertinggal dan bersentuhan langsung dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat lokal. Padahal, misi Kristen adalah merealisasikan misi messianik berdasarkan keterangan-keterangan injil kedalam alam nyata. bagaimana mungkin bias mengabdi ke masyarakat sedangkan ilmu soal masyarakat itupun tidak dikaji secara matang di dalam kelas. Memang, jika mengingat lamanya STT eksis di Indonesia semua orang pantas mengapresiasi eksistensinya bukan kontribusinya. Apakah yang menyebabkan timpangnya antara ilmu teks di dalam kelas dengan ilmu kehidupan di luar kelas itu?
 
 
Sebab Masalah:
Saya melihat, tampaknya persoalan akademik itu disebabkan oleh paradigma yang keli

ru bahwa STT dianggap berbeda dengan perguruan tinggi umum atau ilmu teologia ditempatkan berbeda dengan ilmu umum. Saya tidak setuju dengan pembedaan itu, seharusnya meskipun pembeda itu ada hanya sebagai alat identifikasi untuk memfokuskan cara melihat persoalan, bukan malahan membatasi ilmu melihat dan mengurainya. Jika dilihat dari Surat Keputusan dari Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Bimas Kristen untuk semua STT negeri atau swasta di Indonesia, memang wilayahnya keilmuannya adalah Sekolah Tinggi Theologia dengan berbagai program studi. Tetapi, saya menterjemahkan itu sebagai  payung besar saja atau titik berkumpul bersama sebagai awal untuk memperjelas siapa kita dan lembaga apa yang menaungi kita ketika mengkaji persoalan-persoalan hidup. Ini “make sense”. Bukankah STT berada di bawah otoritasi Departemen Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen? Ia tidak berada dibawah asuhan Departemen Theologia Direktorat Bimbingan Teologi Kristen. Bahkan, pun jika ada Biro atau Divisi ataupun Seksi dalam Sinode Gereja tertentu, ia sering dinamai Biro Pendidikan bukan Biro Theologia.
 
Perluasan Ilmu:
Sudah saatnya dan seharusnyalah proses edukasi di STT disebarluaskan dengan cara pendekatan yang mengutamakan kajian terhadap hidup seperti yang banyak dijelaskan contoh-contohnya di dalam kitab suci, namun belum disebutkan bagaimana itu ada di dalam hidup hari ini sesuai dengan lokasi terjadinya kehidupan itu itu sendiri. Dengan adanya kajian-kajian terhadap kehidupan teks dan kehidupan nayata itu, maka hasilnya akan menaikkan level keilmuan di STT. Lapangan risetnya sudah harus berinterrelasi dengan masalah masyarakat Kristen dan masyarakat lainnya bukan lagi hanya berputar-putar di dalam kitab suci Kristen. Melaksanakan kelimuannya seharusnya lebih disesuaikan dengan realitas sosial hari ini sesuai dengan persoalan-persoalan lokal dimana STT itu bertempat. Pendekatan keilmuannya seharusnya diperluas dengan paradigma multi-disciplinary dan multi-purpose. Multi-disciplinary, saya terjemahkan perpaduan antara beragam pendekatan keilmuan dalam satu keahlian khusus dalam satu disiplin akademik. Multipurpose disini, saya artikan hanya sebagai alat atau metode , bukan tujuan dari  kelimuan itu sendiri, sekaligus sebagai pendekatan yang digunakan dengan beragam cara.

Misalnya, untuk membahas teologia Perjanjian Lama soal bagaimana Tuhan eksis di dalam kehidupan komunitas beragama bangsa Israel lewat kisah Ester bisa saja dilihat dari ilmu politik, bagaimana konspirasi Naaman dikalahkan oleh konspirasi Ester bersatu padu dengan Mordekhai bersama dengan intervensi Tuhan. Ilmu politik itu bisa diundang ke dalam ilmu teologia PL untuk menjelaskan fenomena di dalam teks yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan komunitas umat beragama Kristen yang selalu diposisikan sebagai minoritas ditengah-tengah komunitas mayoritas lain. Sulitnya kita beribadah kepada Tuhan, jika dilihat dari penutupan dan pembakaran gereja dan kasus-kasus kriminalisasi berbau-bau SARA lainnya tentulah ada konspirasi dengan level tertentu dan dari pihak tertentu yang perlu disingkapkan siapa dan bagaimana itu masih bisa terjadi. Kisah teologis dari teologi PL Ester itu akan sangat canggih dan  betul-betul berguna bagi kita dan bangsa Indonesia bila dikaitkan dengan ilmu politik dan kajian sosiologi masyarakat dengan pendekatan-pendekatan teori sosial lain.

Kasus Ester ini juga sekaligus memberikan ilmu dan pendekatan yang 'beraroma lain' soal kawin campur tidak seagama atau tidak seiman yang masih menjadi polemik agama dan sosial yang tak berujung di Indonesia  hingga detik ini, apalagi jika dikaitkan dengan Fatwa-fatwa agama Islam dan doktrin Kristen misalnya. Kasus ini menarik dan sangat relevan ketimbang isi dan pesan-pesan teologis semata. Bagaimana mungkin si Ester seorang turunan Israel biasa 'dikawinkan Tuhan dengan sang Tuanku Raja Ahasweros yang nota benenya adalah 'kafir' (tidak ber-TUHAN-kan YAHWEH), tetapi itu terjadi dan kita yakini itu Firman Tuhan. Padahal, ajaran Perjanjian Baru dan konsep-konsep 'keesaan Tuhan' dan 'pernikahan kudus' sangat mengharamkan model nikah campur  dan mensekutukan Tuhan seperti itu. Bagaimana hal-hal polemik teologis itu dikaji dan dikaitkan dengan ilmu politik, sosial, budaya, komunikasi dll sesuai dengan ketertarikan dan sudut kajian sesesorang terhadap kasus itu. Model kajian multi-pandang itu hari ini akan sangat memberikan jalan keluar dan pencerahan baru dari kasus Ester yang sudah silam itu. 
 
Oleh karena itu, disini multi-purpose ini lebih luas yakni sebagai ‘titik perpaduan’ atau katakanlah

‘integrasi dan interkoneksi’ sosial sains dan ilmu keberagamaan. Ini jauh lebih luas karena berparadigma yang sangat beragam antara tujuan, metode, disiplin akademik dan keilmuan lainnya yang dipakai untuk membantu mengembangkan ilmu, agama dan hal-hal yang terkait dengan teologi dan proses pendidikan di dalamnya. Ini penting karena inputnya semakin variatif dan outputnya pun sedang menghadapi masalah-masalah yang semakin multi-kompleks pula.  Untuk itu, pendekatan keilmuan harus bersifat multi dan lulusannya harus bersifat multi pula, bukan hanya dibatasi oleh pendidikan teologia semata.
 
Disinilah pentingnya interrelasi antara pendekatan keilmuan sains, sosial sains, dan sains humanities dengan theologia apalagi dengan mengingat masyarakat yang diteliti, mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademiknya bersifat multikultural. Karena itu, jika ingin menjadi lebih religius harus menjadi interreligius di dalam pemikiran dan keilmuan. Ini perlu bagi STT dan mahasiswa untuk mendapatkan multi-eksperimen dan multi-eksperien.
 
Kontribusi STT:
Harapannya STT sanggup berkontribusi untuk mengembangkan struktur berpikir dan sikap teologis dalam  tindakan sosial  secara baru di kalangan Kristen. Kini, di STT perlu cara berpikir yang bukan lagi hanya mono-pendekatan (‘single-approach’) tetapi harus mulai bergeser (dalam artian meluas) kepada ragam pendekatan (multi-approach) yang dipadukan dengan berbagai tujuan dan pendekatan. Artinya ilmu yang dihasilkan memang bisa berfaedah untuk perbaikan kehidupan sosial Kristen. Semua ini sebagai upaya untuk memberikan kontribusi kongkrit dan demi peningkatan dan pengembangan  keilmuan tanpa harus membedakan umum atau awam, sekular atau non-sekular. Disinilah perlunya metodologi riset social dan ilmu-ilmu social lainnya sebagai alat analisis terhadap masalah sosial yang telah terjadi di dalam Alkitab dan yang sedang terjadi di alam kehidupan kini.
 
Berbicara mengenai multi-cara pandang tentu akan membutuhkan seperangkat keilmuan demi tercapainya perubahan sosial baru juga. Perubahan ini penting karena civitas akademik STT bukan lagi hanya milik gereja tertentu dan tidak bisa lagi dilabeli dengan denominasi tertentu. Faktanya tidak ada lagi lembaga yang “murni atau asli produk internal. Bahkan, dapat dikatakan theologianyapun sudah campur-campur. Mahasiswa dan dosen semakin heterogen, pun pemakai lulusan semakin multi-dimensi pula.  Malahan, jika berani mengaku dengan jujur, hampir terpastikan tidak satupun lembaga yang merekrut civitas akademiknya hanya dari kalangan intern. Malah akan semakin dianggap hebat dan berbobot jika dosen dikuliahkan di lembaga lain yang asing.

Contoh, bukankah lebih ampuh rasanya, ketika membahas islomologi dengan membentuk team teaching dari ulama atau cendikiawan Muslim bersama dengan teolog Kristen di dalam mata kuliah itu? Ketimbang, mata kuliah iu hanya diajarkan oleh pendeta Kristen yang paradigmanya selalu menganggap Islam itu agama sesat dan Muslim itu perlu diselamatkan agar masuk sorga?  Bisa diprediksi ajaran seperti apa yang keluar dari mulut pendeta-dosen tersebut di dalam kelas yang pasti langsung diyakini dan diikuti mahasiswanya, ketika membahas soal-soal keislaman. Padahal sang pendeta itu tidak pernah kuliah satu semester pun di Universitas Islam secara formal. Lalu, pantat pendeta-dosen itupun tidak pernah duduk bersila di Masjid mendengarkan tausiah pak haji atau pengajaran dari dosen Muslim di kampus Islam. Paling-paling, ia hanya ikut-ikutan seminar dan membaca satu dua buku yang ia sortir sendiri. Saya merasa, timbulnya perang teologis diantara pimpinan umat dan umat itu sendiri adalah karena ketololan ilmu para pengajarnya saja yang disebabkan oleh tidak adanya kerjasama lintas lembaga antara Kristen dan Islam secara massal diantara kita.   
 
Fakta sosial yang telah ditutrkan diatas itu seharusnya mendorong STT secara cepat untuk melakukan reaktualisasi keilmuannya. Ini membutuhkan reposisi banyak hal. Bagi yang tidak siap akan mengalami turbulensi akademik dan akan menjadi orang pertama yang mencemooh tulisan ini, bahkan menghujat namaku. Meskipun demikian, dalam hal pergeseran-pergeseran ini, saya mengarahkan STT tetap memegang ilmu dibawah payung besar seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, namun tetap memiliki “core values,lembaga masing-masing.
 
Saya melihat selama ini apa yang dipelajari di STT secara umum belum sampai menyentuh core

values tadi. Tesis saya ‘kebanyakan pendidikan di wilayah ini  tidak memahami bahwa STT adalah sebagai studi keberagamaaan (study of religiousity), tetapi dianggap hanya sebatas yang saya namakan ‘pergi ke sekolah teologia.’ Ini titik penekanannya hanya pada objek materil, yakni membahas ‘Studi Teologia”. Hal itu tampak dari empat pembidangan keilmuan (historika, sistematika, biblika, dan praktika) yang dipelajari. Catatan tambahan STT Mainstream biasanya menambah satu pembidangan lain sehingga menjadi lima, yakni bidang-bidang umum, semacam sosologi, budaya, politik dan social sains lainnnya. Padahal jika diamati secara mendalam keempat  pembidangan tadi hanyalah salah satu dari objek materi kajian dari studi keberagamaan.
 
Jika STT juga termasuk pendidikan keagamaan di bawah Departemen Agama di wilayah otoritas Bimas Kristen tentu tidak melulu hanya menekankan kajian soal teologis dalam 4 pembidangan tadi. Saya mengamati secara mendalam lewat standar proses pembelajaran, rasanya sangat beralasan jika hal-hal itu hanya fokus pada kajian teologia dengan berkonsentrasi kepada rumusan-rumusan yang diambil dari Kitab Suci dan teks-teksnya. Artinya, konsentrasi seperti itu dalam wilayah metodologi riset disebut sebagai texts analyzise. Ia hanya berkutat di dalam analisis teks kitab suci yang dipercayai masyarakatnya, belum sampai pada human analyzise, yaitu pemahaman langsung terhadap masyarakat yang mempercayai teks Kitab Suci itu.
 
Untuk itu, saya menganggap bahwa proses dan pendekatan pendidikan di STT tetap dilakukan sesuai ‘core values’ atau disesuaikan dengan ciri khas STT setempat, misalnya kepantekostaan, kebaptisan, kecalvinan, kewesleyan, kelutheran, dan kean-kean lainnya. Tetapi, pendekatan dan keilmuan untuk mencapai maksud itu perlu diperbaiki dan harus diperlebar. Jika hanya mendekati dengan membangga-banggaan ciri khas golongannya itulah yang saya anggap sebagai ‘syndrom selfie’ karena dsebabkan kepicikan berpikir. Mereka yang seperti itu sedang mengidap penyakit yang sudah akut ‘yang lain tidak sama dengan saya’ karena faktor fanatisme berlebihan terhadap diri sendiri. Memiliki ciri khas itu sangat penting, namun jangan sampai itu menjadi alat diskriminasi dan melainkan orang lain. Mencintai diri sendiri secara berlebihan akan bisa membeci orang lain. Oleh karenanya, sering-seringlah menilik keluar kampus sehingga nampak gambaran dan kebutuhan riil yang lebih luas. Malahan, leih baik dosen STT studi lanjut di lembaga atau universitas agama lainnya, yang memang mereka terbuka untuk itu. Saya menjadi contoh nyata soal kuliah lintas lembaga ini.
 
Zaman sedang berubah. Kini, pendekatan keilmuan juga berubah, pun gelar berubah. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Saur Bernardus Hasugian (pernah menjadi Dirjen Bimas Kristen Depag RI), ketika visitasi ke STT Salatiga 24 Agustus 2010. Teologi telah menjadi dan diakui sebagai ilmu (maksudnya: sains atau pengetahuan), meskipun sebetulnya baru-baru saja pengakuan itu didapat. Walau demikian, tetap banyak hal yang perlu disiapkan soal ini. Ini tidak segampang dan semudah kelihatan untuk mengoperasionalkannya karena terkait soal kaidah-kaidah dan syarat-syarat keilmuan dan metodologi, atau filsafat keilmuannya.
 
Perubahan itu sekaligus sebagai tantangan yang harus dijawab oleh orang-orang di STT. Di label kesarjanaan juga terjadi pula pergantian penyandangan gelar. Jika selama ini Pendidikan Agama Kristen hanya Sarjana Theologia (S.Th) jurusan Pendidikan Agama Kristen, biarpun pernah juga Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.PAK), atau S.Th, maka menjadi S.Pd (k) Sarjana Pendidikan Kristen. Saya melihat adanya perubahan teologia menjadi ilmu di STT, mau tidak mau hal ini harus mereposisi proses dan metode kelembagaannya ke wilayah masyarakat yang lebih luas demikian juga lulusan. Mereka telah menjadi konsumsi masyarakat luas bukan lagi hanya dikonsumsi oleh denominasi penyelengara. Jika memang demikian, seharusnya mahasiswa STT menyiapkan mental untuk siap melayangkan lamarannya untuk bekerja diinstansi umum lainnya selain berputar-putar di dalam gereja, yayasan dan sekolah-sekolah Kristen lainnya.

Perluasan seperti yang dijelaskan sebelumnya itu memberanikan saya untuk mendorong mahasiswa untuk memperluas jaringan kerjanya di semua bidang. Misalnya bekerja di bank, jadi duta besar, bekerja di luar negeri sebagai TKI tapi manajer industri rumah tangga Mmnuman ringan dan sirup seperti sahabat saya Merry Manullang di Malaysia (tentu bukan lagi hanya TKI pembantu rumah tangga saja) departemen lainnya, perusahaan, industri musik, perusahaan-perusahaan yang menjual ide-ide kreatif, UKM dan bidang-bidang kewiraan lainnya.

Akan senang rasanya mendengar berita mahasiswa yang kita ajar menjadi karyawan atau manajer di bank Danamon di Pangkalanbun-Kalimantan Tengah, (BII, Mandiri, BNI atau bank lainnya) selain Bank Bapa di Sorga atau bekerja di dinas sosial Kabupaten Nias, dan broadcaster radio di Malang seperti kasus beberapa mahasiswa yang pernah saya 'kuliahi' di STT Salatiga, Jateng, STT Nazarene Indonesia Yogyakarta. Meskipun, awalnya saya di kecam habis-habisan, diolok-olok sedemikian rupa. Pun, bahkan ada ketua STT yang mem-blacklist ketika saya mengajarkan hal itu di kelas. Saya tetap berjuang dan sekarang hanya bias senang  ketika sejumlah mahasiswa itu berterimakasih atas dukungan dan penunjukan 'jalan lain' yang bisa mereka tempuh untuk menginjili orang lain. Sialnya, sejumlah Big Boss atau Yang Dipertuan-besarkan di STT 'amat benci' melihat cara yang saya tempuh untuk memotivasi mahasiswa berpikir, bertindak atau melayani di luar kotak. Lebih sialan lagi, ternyata, sejumlah STT dengan bangga memampang phota-photo lulusannya yang telah bekerja di sejumlah instansi itu di kantor ketua STT atau di kantor admisi, plus brosur yang dengan senang hati diberikan gratis, ditambah dengan tesminoni lainnya ketika promosi untuk membesar-besarkan diri dan lembaganya sendiri. Padahal, ilmu untuk sampai bias bekerja di luar institusi lbel Kristen nihil diajarkan di STT. Pun, pengarahan untuk menjadi saksi dan terang Injil itu hanya diumbar di depan kelas dan mimbar-mimbar kapel, tanpa tahu-menahu bagaimana caranya.

Saya hanya berpikir, jika masih ada yang menentang ini, pastilah mereka lupa, bahwa tidak semua Sarjana Teologia itu dipanggil khusus oleh Tuhan untuk menjadi Pendeta, tetapi seharusnya semuanya terpanggil menjadi 'activist Kristen' di dalam dan di luar gereja. Bukankan injil itu harus diberitakan sampai ke ujung bumi? Artinya, Injil itu harus bersinar di Bank Danamon. Injil itu harus bersinar di NGO khusu orang Hutan di suku Komring Ilir Lampun dan Palembang. Lalu, siapa yang akan menyinarkan jika para Sarjana Thologia yang ngerti betul soal itu hanya dikerangkeng di gereja? Siapa yang akan membawa kabar baik, jika kaki para pengerja lulusan teologia itu diikat dengan urusan rumah tangga pendeta selalu? Bagaimana mahasiswa bisa pergi menyampaikan Injil, jika kamera cctv selalu mengintai kemana mereka pergi, jika sekuriti dan menjulangnya tembok gereja yang tinggi membatasi mereka bermimpi?
 
Dengan demikian pendidikan di STT saya posisikan sebagai Lembaga Ilmu Pengetahuan Kristen

Indonesia yang berperan sentral sebagai institusi akademik sebagai salah satu wadah untuk pencarian dan pematangan ilmu pengetahuan Kristen dengan mandat khusus sebagai bidang think thank pengembangan keilmuan dan masyarakat Kristen itu sendiri. Sisi baik jika Theologi diakui kesejajarannya dengan ilmu-ilmu lainnya maka lulusannya akan semakin diakui sejajar dengan lulusan jurusan ekonomi, sains, tehnik, komputer, matematika, sastra, teknik sipil, hukum dan bidang ilmu lainnya. Kebahagian lain, bagi lulusannya akan diterima sebagai abdi negara atau hamba negara secara hukum karena bisa diterima sebagai PNS-Pegawai Negeri Sipil, meskipun seharusnya PNS bukanlah pilihan yang terlalu baik untuk S.Th, atau SPd.K tetapi lebih baik ketimbang tidak bekerja sama sekali.
 
Menurut saya, dengan menggunakan multi-pendekatan itu, ini sekaligus sebagai upaya sadar kita untuk membungkus ilmu dan agama dalam satu bungkus khusus sebagai ‘ijtihad’ akademik dalam rangka mensejajarkan STT dengan ilmu-ilmu sosial lain dan meluluskan mahasiswa yang semakin religius dalam keilmuan dan perilakunya di dalam kelompok internal dan juga terhadap siapapun. Ini misi atau ‘jihad’ ilmiah yang harus kita emban agar STT tidak lagi termarginalkan jika disandingkan dengan lembaga dan keilmuan lain.
 

Mahasiswa memerlukan ragam keilmuan, proses pendidikan keberagamaan yang memberikan kesempatan kepada mereka akses luas kepada ragam keilmuan agar mereka memiliki multi-eksperimen dan multi-eksperien bukan hanya pengalaman spiritual dan pencarian ketuhanan di jalan agama semata. Keragaman ini perlu direalisasikan secara kongkrit supaya bisa sampai mencipta perubahan di lingkungan, denominasi gereja tertentu dan masyarakat luas. Ah, mungkin ada yang mencibir, itu tidak mungkin, muluk-muluk, itu bukan panggilan kita? Hal itu bisa saja demikian terjadi sebagai petanda ketidaksiapan belaka. Bagi saya, lebih baik untuk mencari cara untuk melaksanakannya secara tepat sesuai dengan ciri khas kita sendiri sehingga STT berhasil menjadikan dirinya berilmu dan sebagai lembaga yang meluluskan sarjana Kristen milik publik yang selevel bahkan melewati sosial sains yang lain. Ringkasnya, saya akan mengakhiri dengan cara seperti ini. Mustinya isi, proses dan metode berilmu dan pendidikan di STT itu diperluas esensi pemahamannya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memang betul berilmu dan berperilaku tinggi yang berproses dalam kehidupan rill dengan mempunyai dan mendalami ilmu keberagamaan dan kehidupan kekristenan bukan hanya pengajaran hal-hal teologis  semata sehingga lembaga itu berguna untuk banyak orang atau lulusannya bisa terpakai di masyarakat. Karena hanya dari gunanyalah kita bisa diukur orang apakah ada manfaat dan kontribusi dari hadinya STT itu di dunia ini, titik. (Bang Elia).

Friday, February 28, 2014

GENERASI MUDA GPdI-GEREJA PANTEKOSTA DI INDONESIA HARI INI



(Tulisan ini pernah dimuat di Pantekosta News Manado, Edisi November 2013)


Telah terjadi kebangkitan generasi muda GPdI kedua di Jateng dan Jabar. Itu diukur dari atmosfir Youth Camp 9-11/7/2013 Cipanas, dan di Kampus STT Salatiga, 2-5/7/2013 silam. Bagaimana tidak, “di Jabar 71 orang dibaptis di acara itu,” kata Pdt. Bernath Hutagaol. Di Jateng, “260 peserta ingin jadi hamba Tuhan,” kata Pdt. Rudi Siahaan. Belum lagi acara serupa digelar MD/KD hampir di seluruh Indonesia, luar negeri mungkin saja. Tampaknya, Juli adalah bulan kegerakan Api Pantekosta di Indonesia. Mungkinkah ini pembenaran Api Pantekosta sedang menyala kembali? Inikah awal kegerakan besar kedua GPdI abad 21? Inikah tanda positifnya respon dari generasi muda ke GPdI sekarang? Semoga!

Pahami Isi Hati Generasi Muda
            Sejak Agustus 1997, ketika pertama sekali menjadi hamba Tuhan GPdI, hingga zaman meledaknya pengguna jejaring sosial dan telekomunikasi lain hari ini, banyak diantara kita bebas berkomentar soal GPdI. Ada yang sinis, banyak juga komentar membangun. Memang, tiap pelayanan, oknum, organisasi, dan sistem punya keterbatasan, tidak bisa ditutup-tutupi. Komentar itu menginspirasi saya kerjasama dengan KD, Panitia Youth Camp, Konselor meneliti “ada apa dengan generasi muda GPdI.” Tidak ada jalan selain bertanya langsung, mengenali isi hati mereka.

            Saya sendiri merancang 14 items pertanyaan angket/survey. Intinya, “apa yang pemuda inginkan dari gereja supaya rohaninya bertumbuh?” Memang, angket punya keterbatasan, seperti metode penyelidikan lain. Apa alasan menjawab YA atau TIDAK belum dikomunikasikan. Itu berarti tugas kita memahami belum usai. Itu membuka ruang bagi kawan lain mengamati lewat metode lain, sehingga ilmu pengetahuan bisa dipekerjakan memajukan pekerjaan Tuhan. Tujuan penyelidikan ingin menggambar secara umum keinginan hati generasi muda GPdI.

            Tulisan ini, termasuk pencitraan: “Inilah kondisi terkini sejumlah generasi muda, yaitu Remaja, Pemuda, Mahasiswa GPdI,” (apapun orang bilang),” namun berdasarkan mata orang muda, bukan opini, apalagi rekayasa. Memang, penelitian ini hanya diwakili dua provinsi. Namun, jumlah responden 947 orang. Setidaknya mereka mewakili lainnya. Jawaban mereka adalah fakta, jangan disepelekan.

Keinginan Generasi Muda
            Setelah olah data sistem komputerirasi (IBM SPSS Statistics 19-Analyze Frequency), umumnya pengalaman generasi muda sangat positip kepada GPdI. Hal itu terlihat dari data disini. Beberapa bagian disoroti disini. Itu bukan sisnisme, tapi pilihan agar tahu mengatasi. Bukankah, memberikan solusi lebih mulia, ketimbang gemar membicarakan persoalan?
           
            Berikut ini penjelasan dan temuan penting dari penelitian. Satu, 81,8 % yaitu 775 orang, bangga dengan identitas dan berjemaat di GPdI, tapi 18,2 % (172 orang) mengaku tidak. Angka ini kelihatannya tidak terlalu banyak, tapi sangat menyakitkan ketika pengakuan ini didengar gembala sidang. Apa jadinya kalau mendapati jemaat berkata seperti itu, meskipun mungkin itu jujur dan realita. Fakta ini mendesak kita untuk “membarukan makna” pengajaran untuk menegaskan kebanggaan jadi jemaat Tuhan di GPdI.
            Dua, 79,9 % (757 orang) mengalami pertumbuhan rohani di GPdI, meskipun 20,1 %  (190 orang) tidak. Kenapa tidak bertumbuh? Ini pekerjaan besar yang harus kita selidiki lagi, sehingga pelayan yang diperjuangkan siang-malam tepat sasaran. Tiga, 80,6 % (763 orang) merasakan isi dan model khotbah cocok untuk konsumsi orang muda. 19,4 % (184 orang) merasa tidak terpenuhi selera dan standar mereka. Empat, 78,5 % (743 orang) cara dan penyampaian khotbah disukai. 21,5 % (204 orang) tidak suka dengan apa yang didengarkan.

            Lima, 76,0 % (720 orang) merasakan jamahan Tuhan hadir dalam pujian penyembahan, 24,0 % (227 orang) tidak. Enam, 76,8 % (727 orang) instrumen musik, pilihan lagu bisa membawa hubungan erat-intimasi dengan Tuhan. 23,2 % (220 orang) tidak bisa merasakan apa-apa. Tujuh, 77,3 % (732 orang) menganggap para pemusik, songleader, singer pujian dan penyembahan bisa memimpin untuk menikmati suasana, kehadiran Tuhan di gereja. Ada 22,7 % (215 orang) yang tidak menikmati apapun.

            Delapan, sebanyak 69,4 % (657 orang) melihat pengerja, aktivis, pembina rohani bisa mendampingi pertumbuhan rohani dan memotivasi untuk mengahadapi masalah. Senang rasanya mendengar itu. Walaupun, ada 30,6 % (290 orang) merasa kehadiran para pelayan Tuhan tidak membantu. Ada apa dengan mereka? Kita perlu berkaca diri. Ini petunjuk bagi gereja lokal agar mengaktifkan pemuridan dan pendewasaan jemaat sehingga bersedia belajar melayani atau PA-Pendalaman Alkitab. Kelihatannya, PA seakan tidak lagi diminati jemaat, selain ibadah raya. Padahal, itu dulunya amat kuat, bahkan ciri GPdI.

            Sembilan, 65,4 % (619 orang) gembala bersedia memberikan kebebasan  pemuda mengelola acara sendiri. 34,6 % (328) tidak membolehkan mereka mengelola pelayanan sesuai keinginan. Ini tergantung kepada kondisi gereja lokal. Gembala punya visi dan misi Tuhan, dan kebijakan membangun pelayanan ke level tertentu. Sepuluh, 72,9 % (690 orang) gembala sudah tepat memilih, memberikan tanggungjawab pelayanan pada orang. Namun, masih ada 27,1 % (257 orang) tidak setuju.

            Sebelas, 56,6 % (536 orang) pindah gereja karena dipengaruhi gereja lain. Artinya, memang benar kehadiran gereja lain menyebabkan generasi muda undur diri dari GPdI. Tapi, 43,4 % (411 orang) menyatakan, pindah karena faktor lain. Itu karena isi dan metode pengajaran lewat khotbah, pujian penyembahan, musik dan lagu, tim musik ibadah, tim pelayanan, otoritas gembala atau kebutuhan umum lain. Dua belas, 52,9 % (501 orang) pindah bukan pengaruh gereja lain. Pengalaman dari 446 orang, yakni 47,1 % adanya migrasi generasi muda ke gereja lain karena gerejanya tidak lagi sesuai kebutuhan. Tigabelas, 79,2 % (750 orang) mengaku, pelayanan dan program gereja membuat makin mengerti Firman Tuhan. 20,8 % (197 orang) tidak mengerti Firman Tuhan. Data ini mendorong gembala sidang membuat cara tertentu mengetahui bagian pelayanan mana tidak lagi sesuai kebutuhan hari ini.

            Empatbelas, 85,4 % (809 orang) ingin program, pelayanan atau khotbah mengenai masalah umum. Misalnya ketrampilan hidup, kebutuhan jasmani, pengetahuan sekuler, cara membuka lapangan kerja, bantuan studi atau pelajaran sekolah, cara menghasilkan uang, cara memanfaatkan teknologi, komputer dan gadget, dan masalah kehidupan umum. Ini pertanda gereja diminta memfasilitasi kebutuhan umum generasi muda GPdI hari ini. Meskipun 14,6 % (138 orang)  meyakini gereja dipanggil untuk urusan rohani.
           
            Youth Camp sudah usai. Acara itu mengajari kita banyak hal. Tapi apa, bagaimana, dan kemana mereka setelah itu, jauh lebih penting? Menangani generasi Muda GPdI adalah tanggung jawab bersama. Setidaknya lewat data, kita pahami hatinya, setelah itu, mereka bisa ditemani ke jalan Tuhan. Data ini membantu kita melayani kebutuhan mereka sesuai sasaran, dan pekerjaan Tuhan semakin terfokus. Hendaklah demikian!

532 Anak Muda GPdI Ngumpul: Ngapain? Siapa Bisa Tandingi?



(Tulisan ini pernah dimuat di Pantekosta News Manado Edisi November 2013)


Anak muda GPdI kolot, nggak gaul, mati gaya, cinta Tuhan tapi nggak open-minded.” Itu gosip yang santer terdengar. Bukan hanya hari ini, tapi sudah puluhan tahun. SEMUA ITU KELIRU. Itu gosip murahan. Kami punya citra dan jati diri, “Generasi Muda Penerus GPdI.” Kami bukan ikut-ikutan gaul supaya mudah digauli, tapi memang kami suka bergaul, setidaknya dengan Tuhan, sesama denominasi plus interdenominasi. Di dunia maya, kami bergaul dan berselancar juga. Ke gereja? Jangan tanya! Kami ada didalam, lebih dari yang kalian tahu.”

Kelihatannya itulah yang mau dibuktikan 532 peserta Youth Camp 2-5 Juli 2013 di Kampus STT Salatiga, Jateng kemaren. Lihatlah, “Remaja, Pemuda, Mahasiswa, mulai 11 tahun hingga usia 30, semua berbaur,” seperti penuturan Pdt. Barnabas Tri, ketua seksi pendaftaran.

Asik rasanya disini, rugi yang tidak ikut, seperti kata Fitri, peserta dari GPdI Telaga Kasih Semarang. Bahkan, “ingin jadi muda kembali melihat mereka itu. Tak seorangpun keberatan dan tanpa protes. Mereka jauh-jauh meninggalkan rumah demi even akbar itu”, kata Pdt. Rudi H. Siahaan, S.Th, Ketua Seski Acara. Rela kurang tidur, padahal 3 hari 3 malam melompat-lompat kegirangan karena lawatan, jamahan dan pengurapan Tuhan. Belum lagi, peserta itu diisi dengan acara dan sesi yang padat. Mulai dari doa pagi jam 4 subuh ditengah dinginnya Kota Gunung Salatiga, hingga talent show. “Semua acara itu demi memperlengkapi anak muda menuju kesempurnaan gereja, dan menyambung tema besar GPdI,” seperti kata Pdt. Paulus Suyatno. S.Th., M.Pd, Ketua Panitia.

Lepas dari kurang lebih teknis pelaksanaan, acara ini sukses membuktikan, “Api Pantekosta tetap berkobar dan menyala-nyala di hati anak muda GPdI. Belum lagi even serupa di seluruh MD/KD/KW, bahkan di luar negeri. Bagaimana tidak kewalahan, acara yang semula direncanakan hanya 400 orang, nyatanya membludak melewati batas kemampuan dan daya tampung, seperti penjelasan dari Pdt. Yason Marbun Ketua seksi Konsumsi. Padahal, mereka  harus membayar 75.000/orang.

Dari animo dan total peserta, sejauh ini belum ada denominasi lain yang bisa menandingi jumlah peserta dalam satu even dari satu provinsi, yang baru hanya dihadiri 94 gereja. Bukan untuk gagah-gagahan, apalagi pamer, tapi itu bukti nyata maunya beberapa pihak berdamai untuk pekerjaan Tuhan. “Itu baru setengah dari jumlah GPdI se-Jateng. Jumlah segitu bukan karena konflik, tapi lebih karena tempatnya yang terbatas. Disamping, mulai banyak yang mendaftar sekolah dan kuliah lanjutan,” seperti kata Pdt. Juswardi Tarigan, S.Th, Ketua Panitian I.

Acara ini sebagai tanda Api Pantekosta masih berkobar dan semakin berkobar dalam diri pemuda Pantekosta. Itu bukan untuk mengatakan, acara ini tidak ada atau lebih baik dari periode sebelum-sebelummnya. Tapi, ini cara untuk tetap mengobarkan semangat dan kecintaan pada Tuhan. Itu upaya lain untuk menyala-nyalanyakan semangat muda untuk cinta Tuhan dan memobilisasi mereka cinta pekerjaan Tuhan. Itulah dibenak seluruh panitia Acara. Makin terbukti, hal itu terasa dalam pujian penyembahan mulai acara pembukaan, yang dipimpin oleh Pdm. Noni Pandjaitan, S.Th, diteruskan dalam KKR. Lalu, demikian pun oleh Pdt. Timotius Ngatmin di hari ke-3, silih berganti juga dilakukan Pdt. Leo Mailuhu, S.Th di akhir acara.

Yang melengkapi gemerlapnya acara itu, selalu terdengar pujian kebesaran kita: “Api Pantekosta kupunya, kubiarkan menyala,” begitu terus berulang-ulang, diulang dan diulang lagi.  Salam Pantekosta, Haleluyah! Itu diteriakkan berkali-kali. Rupanya, itu sebagai satu cara memotivasi peserta yang sedang belajar mengenali jati diri Pantekosta. Tidak salah panitia memilih tema: “Generasi Muda yang Diurapi dan Dipenuhkan Roh Kudus.” Memang betul, even ini bisa jadi sebagai pembuka jalan untuk kebangkitan kedua aksi melayani Tuhan dalam diri kaum muda GPdI. Biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 21:1) makin cocok untuk ayat pendukung acara itu.

Inikah awal kegerakan besar kedua GPdI abad 21? Inikah tanda positifnya respon dari generasi muda ke GPdI sekarang? Jangan-jangan, “inilah manifestasi dari proyek Illahi yang besar di GPdI lewat orang muda” seperti kata Pdt. G.A. Pandjaitan, M.Th Ketua II MD Jateng, di kata sambutannya? Mungkin itu baru awal saja, karena yang penting pembinaan kembali setalah even ini. Terus, untuk follow up pertumbuhan iman orang-orang muda itu, khususnya bagi bagi 80-an orang yang membuka diri untuk dibaptis selam karena acara itu. Ditambah 260 orang (dihitung dari jumlah deretan kursi kosong, dijelaskan oleh Pdm. Denny Padamara, S.Th, Seksi Perlengkapan dan Akomodasi) yang maju dan rela menjadi hamba Tuhan, ketika altar call oleh Pdt. Franky Rhewa dalam khotbah penutupan.

Jika saja masih ada yang berkomentar miring ke GPdI, mereka belum tahu apa dan siapa orang Pantekosta. Tidak perlu diperdebatkan, perbanyak saja acara-acara seperti ini diberbagai KD/KW. Hanya itulah bukti nyata yang bisa menjawab keraguan orang terhadap kita. Sekaligus, even itu sanggup membetulkan persepsi publik mengenai jati diri orang muda GPdI.