Friday, February 28, 2014

532 Anak Muda GPdI Ngumpul: Ngapain? Siapa Bisa Tandingi?



(Tulisan ini pernah dimuat di Pantekosta News Manado Edisi November 2013)


Anak muda GPdI kolot, nggak gaul, mati gaya, cinta Tuhan tapi nggak open-minded.” Itu gosip yang santer terdengar. Bukan hanya hari ini, tapi sudah puluhan tahun. SEMUA ITU KELIRU. Itu gosip murahan. Kami punya citra dan jati diri, “Generasi Muda Penerus GPdI.” Kami bukan ikut-ikutan gaul supaya mudah digauli, tapi memang kami suka bergaul, setidaknya dengan Tuhan, sesama denominasi plus interdenominasi. Di dunia maya, kami bergaul dan berselancar juga. Ke gereja? Jangan tanya! Kami ada didalam, lebih dari yang kalian tahu.”

Kelihatannya itulah yang mau dibuktikan 532 peserta Youth Camp 2-5 Juli 2013 di Kampus STT Salatiga, Jateng kemaren. Lihatlah, “Remaja, Pemuda, Mahasiswa, mulai 11 tahun hingga usia 30, semua berbaur,” seperti penuturan Pdt. Barnabas Tri, ketua seksi pendaftaran.

Asik rasanya disini, rugi yang tidak ikut, seperti kata Fitri, peserta dari GPdI Telaga Kasih Semarang. Bahkan, “ingin jadi muda kembali melihat mereka itu. Tak seorangpun keberatan dan tanpa protes. Mereka jauh-jauh meninggalkan rumah demi even akbar itu”, kata Pdt. Rudi H. Siahaan, S.Th, Ketua Seski Acara. Rela kurang tidur, padahal 3 hari 3 malam melompat-lompat kegirangan karena lawatan, jamahan dan pengurapan Tuhan. Belum lagi, peserta itu diisi dengan acara dan sesi yang padat. Mulai dari doa pagi jam 4 subuh ditengah dinginnya Kota Gunung Salatiga, hingga talent show. “Semua acara itu demi memperlengkapi anak muda menuju kesempurnaan gereja, dan menyambung tema besar GPdI,” seperti kata Pdt. Paulus Suyatno. S.Th., M.Pd, Ketua Panitia.

Lepas dari kurang lebih teknis pelaksanaan, acara ini sukses membuktikan, “Api Pantekosta tetap berkobar dan menyala-nyala di hati anak muda GPdI. Belum lagi even serupa di seluruh MD/KD/KW, bahkan di luar negeri. Bagaimana tidak kewalahan, acara yang semula direncanakan hanya 400 orang, nyatanya membludak melewati batas kemampuan dan daya tampung, seperti penjelasan dari Pdt. Yason Marbun Ketua seksi Konsumsi. Padahal, mereka  harus membayar 75.000/orang.

Dari animo dan total peserta, sejauh ini belum ada denominasi lain yang bisa menandingi jumlah peserta dalam satu even dari satu provinsi, yang baru hanya dihadiri 94 gereja. Bukan untuk gagah-gagahan, apalagi pamer, tapi itu bukti nyata maunya beberapa pihak berdamai untuk pekerjaan Tuhan. “Itu baru setengah dari jumlah GPdI se-Jateng. Jumlah segitu bukan karena konflik, tapi lebih karena tempatnya yang terbatas. Disamping, mulai banyak yang mendaftar sekolah dan kuliah lanjutan,” seperti kata Pdt. Juswardi Tarigan, S.Th, Ketua Panitian I.

Acara ini sebagai tanda Api Pantekosta masih berkobar dan semakin berkobar dalam diri pemuda Pantekosta. Itu bukan untuk mengatakan, acara ini tidak ada atau lebih baik dari periode sebelum-sebelummnya. Tapi, ini cara untuk tetap mengobarkan semangat dan kecintaan pada Tuhan. Itu upaya lain untuk menyala-nyalanyakan semangat muda untuk cinta Tuhan dan memobilisasi mereka cinta pekerjaan Tuhan. Itulah dibenak seluruh panitia Acara. Makin terbukti, hal itu terasa dalam pujian penyembahan mulai acara pembukaan, yang dipimpin oleh Pdm. Noni Pandjaitan, S.Th, diteruskan dalam KKR. Lalu, demikian pun oleh Pdt. Timotius Ngatmin di hari ke-3, silih berganti juga dilakukan Pdt. Leo Mailuhu, S.Th di akhir acara.

Yang melengkapi gemerlapnya acara itu, selalu terdengar pujian kebesaran kita: “Api Pantekosta kupunya, kubiarkan menyala,” begitu terus berulang-ulang, diulang dan diulang lagi.  Salam Pantekosta, Haleluyah! Itu diteriakkan berkali-kali. Rupanya, itu sebagai satu cara memotivasi peserta yang sedang belajar mengenali jati diri Pantekosta. Tidak salah panitia memilih tema: “Generasi Muda yang Diurapi dan Dipenuhkan Roh Kudus.” Memang betul, even ini bisa jadi sebagai pembuka jalan untuk kebangkitan kedua aksi melayani Tuhan dalam diri kaum muda GPdI. Biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 21:1) makin cocok untuk ayat pendukung acara itu.

Inikah awal kegerakan besar kedua GPdI abad 21? Inikah tanda positifnya respon dari generasi muda ke GPdI sekarang? Jangan-jangan, “inilah manifestasi dari proyek Illahi yang besar di GPdI lewat orang muda” seperti kata Pdt. G.A. Pandjaitan, M.Th Ketua II MD Jateng, di kata sambutannya? Mungkin itu baru awal saja, karena yang penting pembinaan kembali setalah even ini. Terus, untuk follow up pertumbuhan iman orang-orang muda itu, khususnya bagi bagi 80-an orang yang membuka diri untuk dibaptis selam karena acara itu. Ditambah 260 orang (dihitung dari jumlah deretan kursi kosong, dijelaskan oleh Pdm. Denny Padamara, S.Th, Seksi Perlengkapan dan Akomodasi) yang maju dan rela menjadi hamba Tuhan, ketika altar call oleh Pdt. Franky Rhewa dalam khotbah penutupan.

Jika saja masih ada yang berkomentar miring ke GPdI, mereka belum tahu apa dan siapa orang Pantekosta. Tidak perlu diperdebatkan, perbanyak saja acara-acara seperti ini diberbagai KD/KW. Hanya itulah bukti nyata yang bisa menjawab keraguan orang terhadap kita. Sekaligus, even itu sanggup membetulkan persepsi publik mengenai jati diri orang muda GPdI.
Post a Comment