Sunday, May 27, 2012

DO YOU STILL LOVE ME?

Is there any reason, YOU WON’T LOVE ME, when you see the problems? 
Materi Khotbah KKR Pemuda/Remaja BKSAG-Badan Kerjasama Antar Gereja Komisi Pemuda se-Kec. Kaliwungu, Kab. Semarang Selatan, Sabtu 12 Mei 2012, Pukul 15-18.00, Wib.
 
Elia Tambunan, S.Th., M.Pd

Nats utama jadi sesuatu untuk Direnungkan, Wahyu 2 ayat 1-7:
1. Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. 2. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. 3. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. 4. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 5. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. 6. Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. 7. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.

Apa yang Terjadi Disini?
Background masalahnya, pemuda di daerah ini (Kaliwungu sekitarnya) sudah lama vacum (bukan berarti hilang atau mati sama sekali), tidak mengadakan KKR pemuda. Kesannya tidak ada gairah ibadah, tidak ada spirit untuk bangkit dan apalagi memulai, tidak ada pertumbuhan iman, perasaan anak muda jauh dan ogah-ogahan dekat ke Tuhan. Lalu, menjadi timbul pertanyaan “Do you still love Me”? Artinya, dulu kita pecinta Tuhan. Tapi, waktu seakan memupus dan memudar KASIH MULA MULA (seperti di Wahyu 2:4b, lengkapnya 2:1-7). Analoginya sederhana, tidak cinta Tuhan, boro boro mau denger Firman, baca/SaTe saja malesnya tidak “ketulungan”. Hasilnya, tidak bergairah/bersemangat untuk Tuhan. Cinta ke Tuhan meluntur.

Ingatkah, kita anak muda yang “falling in love.” Ketika jatuh ke cinta, “mupeng” adalah sinyal yang mudah dideteksi. Misalnya ingin ketemuan, smsan, atau calling-calling. Ingin menggratiskan banyak hal, seolah-olah ingin menjadi pelayan cinta, seperti mentraktir, memberi kado, jalan jalan, antar jemput dan seterusnya. Itu terjadi they have relationship and LOVE. Memberi yang terbaik, mengobarkan dan mengorbankan “harga diri” demi si Cinta.

Mengapa kita memilih tema “LOVE”? Itulah inti utama PASKAH. YESUS adalah korban CINTANYA kepada kita. Lewat KKR ini, pemuda pemudi kembali merasakan “falling in love” atau pecinta Tuhan, dan “growing in love,” artinya kualitas cinta kita menaik dan bermutu bersama Tuhan. Untuk itu saya akan menjelaskan bagian ini, tetapi bukan lagi bagaimana cara mencintai Tuhan, dan bukan lagi untuk apa sebenarnya tujuannya, tetapi untuk “MENGGUGAH DAN MENGGUGAT” Pemuda/i disini, apakah ada alasan lain yang bisa diterima untuk tidak mencintai Tuhan Yesusmu dan Yesusku atau Yesus kita semua ketika melihat masalah yang menindas kaummu dan Tuhanmu itu sendiri.

Itulah alasannya, kali ini saya memilih untuk membeberkan fakta soal segudang masalah yang menginjak-injak harkat dan martabat Tuhan dan kaum Kristen itu sendiri. Penjelasan ini bukan untuk menaikkan dendam dan menyulut amarah kita semua, tetapi untuk mengkritisi diri sendiri kenapa lagi saya tidak mencitai Tuhanku dan berbuat untuk Tuhanku.

DO YOU STILL LOVE ME?:
Is there any reason, YOU WON’T LOVE ME, when you see the problems?
Apakah kalian masih mencintai TUHAN YESUS? Apakah akan ada alasan lain untuk tidak mencintaNya ketika kamu akhirnya mengetahui data dan fakta ini? Inilah dia.  (Data ini, terpaksa saya ulang-ulangi untuk kesekian kalinya. Namun, itu memang harus seperti itu untuk menggugah kita soal ketertinggalan kita).
*        Sejak serdadu, pedagang dan imam Portugis tiba di pulau Ternate pada tahun 1538 untuk pertama kalinya, maka sejak waktu itulah telah dimulai pendidikan Kristen di Indonesia. Mereka mendirikan sekolah di pantai Ternate sebagai instrumen vital untuk penyemaian Injil. Sejak awal telah didirikan lembaga pendidikan keguruan sejak dahulu, demikian paparan historis dari Robert R. Boehlke.[1] Artinya, memang benar telah ada ilmu pendidikan Kristen, dan telah dilahirkan pemimpin dan pendidik Kristen untuk  mendidik dan mengajar orang Kristen.
*        Telah ada sekolah untuk tenaga pengerja pribumi khususnya guru sekolah seperti yang telah dilakukan di “sekolah Kateket Parausorat” pada bulan April 1868 di tanah Batak oleh RMG lembaga Zending dari Bremen German dalam wadah “Batak Mission,” demikian kata Jan S. Aritonang[2]. Pada tahun 1821 Joseph Kam dan kemudian Roskott pada tahun 1835-1864, telah menyelenggarakan sekolah untuk guru Injil (wakil pendeta) di Ambon.[3]
*        Th. Van den End, J. Weitjens, S.J[4], menjelaskan, ternyata pendidikan dalam sistem klasikal persekolahan juga telah diselenggarakan di beberapa daerah. Misalnya Minahasa (Sonder) tahun 1851 oleh N. Graaflaand Ibrahim Tunggal Wulung (kyai Sadrackh) khusunya di Jawa Tengah, Pong Lengko di Toraja, Filipus di Mansinam (Irian-Papua) abad ke 19an.
*        B. F. Drewes dan Julianus Mojau[5] membuktikan bahwa tahun 1885 di Ambon dan di Tomohon tahun 1886 telah didirikan wadah pendidikan atau Sarjana Theologia formal yakni STOVIL-School tot Opleiding van Inlandsche Leeraren.
*        Robert R. Boehlke[6] menjelaskan sangat baik, bahwa Elmer G. Homrighausen Professor Pendidikan Agama Kristen dari Princenton Seminary Theologi pernah datang sebagai pembicara di Konferensi Pendidikan Agama Kristen secara nasional tanggal 20 Mei-10 Juni 1955 di Asrama pendidikan di jl. Cipelang No 8 Sukabumi. Ia mengubah praktek pendidikan agama Kristen di Indonesia, yang awalnya hanya di gereja, tetapi sudah masuk ke sekolah-sekolah umum. Saat itu telah dimulai pelayan, pekerja atau teologi kaum awam yang bisa terlibat dalam melayani, yang sebelumnya hanya hak istimewa dan hak khusus hamba Tuhan lulusan sekolah teologi. Artinya, jemaat yang awalnya sebatas pinggiran, dan pelayanan sambil lalu menjadi berposisi sentral dalam seluruh model pelayanan Kristen.
           
Sepintas dari data dan fakta sejarah di atas, seolah-olah ada bukti bahwa memang orang Kristen di Indonesia sangat Hebat. Kelihatannya memang begitu. Apa lagi jika dilihat dari dusut pandang Panitia Teologia DGI-Dewan Gereja Indonesia pada tahun 1955. Mereka sukses menyatukan gereja dan masyarakat, jika dilihat dari hadirnya 53 utusan dari 21 sinode, 15 peninjau, 8 diantaranya dari dalam negeri, 7 tenaga missi dari luar negeri, 2 orang staff dari 2 sinode dan 1 dari DGI, 2 pemimpin serta 26 anggota GMKI, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kenyataan hari ini berbicara lain. Sekarang Orang Kristen atau agama Kristen mengalami intimidasi sosial dan terororisme sosial. Berarti ada yang salah dalam cara dan oreintasi berTuhan, berorganisasi, berkomunitas dalam diri Kristen di Indonesia seak dahulu hingga kini.

Mengapa demikian? Saya melihatnya dengan cara seperti ini, dan saya buktikan dengan data berikut:
*      Setelah sampai dengan 571 tahunan (hitung mundur sekolah di pantai Ternate oleh serdadu Portugis tahun 1538), juga setelah sampai dengan 176 tahunan (hitung dari usaha pendidikan yang dilakukan Joseph Kam tahun 1821), Sekolah Tinggi theologia di Indoensia masih harus lewat ujian negara dengan alasan penjaminan mutu segala. Artinya, sekolah atau orangnya belum atau tidak bermutu.
*      Setelah 65 tahun kita diakui memiliki institusi pendidikan Kristen modern, jika dihitung sejak tanggal 3 Januari 1946 telah didirikan Departemen Agama (sekarang disebut Kementrian Agama), termasuk Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen. (Ditjen Bimas Kristen).[7] Artinya, kita sudah sekian puluh tahunan disusui oleh Ditjen Bimas Kristen. Tetapi, mengapa para pemimpinnya harus (biar agak lebih keren) ujian penjaminanan mutu, atau yang dahulunya disebut ujian negara. Padahal IAIN, STAIN, UIN lembaga pendidikan tinggi Islam, Khatolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, Saksi Yehova, yang negeri ataupun swasta, yang dimiliki perorangan atau amal usaha perserikatan tidak lagi melakukan itu sudah sejak lama.
*      Setelah hampir 14 abad atau 1400 tahun lebih (hitung dari masuknya Kristen abad ke 7 Kristen Nestorian dari Khaldea-Syria dan Persia di pantai Barat Sumatera Utara, sejak abad ke-7) atau setelah 7 abad atau 700 tahun lebih (hitung mundur ke kunjungan beberapa missionaris Katholik ke beberapa tempat di Nusantara abad ke-14), tetapi kita masih harus menerima dan mengalami intimidasi sosial dan terorisme sosial. Mengapa demikian? Apa buktinya? Hasil riset SETARA Institute Jakarta,[8] melakukan penelitian. Masyarakat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, (Jabodetabek) masih bisa terjadi kasus pelarangan pembangunan, perusakan rumah ibadah dan penyelenggaraan ibadah agama dan orang Kristen. Sejak tahun 2007-2010 terjadi 691 kasus pelanggaran kebebasan beragama.
*      Zaman Presiden Soekarno, 1945-1967 hanya ada dua gereja yang dibakar itupun hanya di daerah yang dikuasai pembangkang dari kelompok DI/TII-Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia. Zaman Soeharto 1967-1969 ada 10. Setelah keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri tahun 1969 jumlahnya merangsek jadi 460 hingga Ia lengser 1998. Sejak tahun 1998 hingga awal 2011 sekitar 700 gereja dirusak, dibakar, dicabut izin dan dilarang ibadah.  Demikian pemfaktaan oleh Theofilus Bela[9], sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ). Bela juga menegaskan, sejak proklamasi kemerdekaan hingga awal 2011 telah menembus angka 1.200 gereja yang dikriminalisasi, bukan hanya gedungnya, tetapi juga ada tindakan kekerasan, penyiksaan dan pembunuhan.
*      Selanjutnya ketiga, masih di Majalah itu di halaman 28, dari hasil laporan investigasi Setara Institusi lainnya yang dilansir 24 Januari 2011 mencatar 216 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama yang mengandung 286 bentuk tindakan selama 2010 di 20 provinsi di Indonesia. Dengan demikian, ada alasan untuk mengatakan kita sedang mengalami intimidasi sosial dan terorisme sosial yang melukai, terlepas siapa yang memulai, dan entah tujuan apa, atau oleh kelompok yang mana?
*      Setelah 126 tahun (dihitung mundur ke 1885 di Ambon dan di Tomohon tahun 1886 setelah didirikannya pendidikan teologi formal yakni STOVIL, tetapi hingga  tahun tanggal 15 Juni 2011, pukul 10:57:29 wib, baru hanya 223 Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen, baik Prodi Teologi dan PAK yang berhasil lulus mendapatkan izin penyelenggaraan pendidikan tinggi Kristen di Indonesia. Data ini saya ambil dari Website Resmi Departemen Pendidikan Nasional.[10] Memang dari jumlah itu, tampaknya akan ada yang akan lolos diakreditasi BAN-Badan Akreditasi Nasional, meskipun hanya perkiraan yang hampir pasti,  sisanya hanya sekedar mendapatkan izin penyelenggaraan agar bisa beroperasi perkuliahannya.   Artinya, sekolah tempat para pemimpin gereja itu “berguru” tidak bisa dipercayai oleh pemerintah karena dilihat dari mutunya, bukan jumlah orang di dalamnya, bukan pula dilihat dari kemurnian teologi dan ajarannya.
*      Setelah 56 tahun (dihitung mundur sampai pada kedatangan Homrighausen di Sukabumi tahun 1955 yang lalu) hingga hari ini, jika melihat data dari Website Resmi Departemen Pendidikan Nasional soal 223 daftar sekolah tinggi teologi itu, sangat sedikit program studi Pendidikan Agama Kristen yang tidak lolos izinnya. Artinya, tempat ilmu pendidikan para pemimpin dan pendidik atau pengajar Kristen itu diragukan.
           
Data dan fakta itulah yang menguatkan saya untuk berargumentasi bahwa memang terjadi “malpraktek atau ketimpangan dan penyimpangan proses edukasi, proses pengajaran, dan kekeliruan orientasi teoritis dan sosio-praksis dalam dunia pendidikan Kristen. Malpraktek ini astilah berhubungan langsung dengan seluruh pelayanan Kristen. Karena jika pemimpin tidak bermutu dan diragukan proses belajarnya, maka demikian pula umat yang dipimpinnya. Artinya, memang terjadi salah urus atau salah asuh dalam dimensi pendidikan dan pelayanan Kristen.

Lihatlah hasilnya di sekelilingmu, tanpa menuduh atau menyebut nama dan lembaga gereja dan denominasi seseorang. Ternyata, memang banyak pemimpin atau pelayan Kristen hebat dalam ilmu tafsir ayat-ayat Kitab Suci Alkitab, tetapi “tidak bisa” memperbaiki kehidupan diluar kitab-kitab yang teramat kudus itu. Banyak diantara pemimpin dan pelayan Tuhan dalam masyarakat Kristen yang ahli ilmu tertulis, tetapi “gagap dan gagal” menafsirkan realitas kehidupan nyata. Kita masih lebih banyak terforsir soal-soal dimensi iman saja. Hal itu tidak boleh dibiarkan terus-menerus. Jika sudah demikian, apakah masih ada alasan lain untuk tidakmencitai Tuhanmu?

Apa yang ingin saya tegaskan sebenarnya? Artinya ini adalah kritik tajam dan “nyelekit” kepada saya sendiri sebagai pemimpin Kristen, dan sebagai pemuda Kristen itu sendiri karena itu terjadi didalam diri saya sendiri dan didepan mata dan wajahku sendir, yang tenyata memperburuknya. Ini perlu saya jelaska, bukan untuk menjelek-jelekkan. Tetapi ini seperti untuk menampar wajah sendiri, yang bukan untuk melukai tetapi untuk menyadarkan semata. Memang terasa sakit, tetapi karena kesakitan itulah yang membuat saya bangun dari mimpi dan tidak panjang saya. Keterangan disini ini adalah sebagai sebuah cara dan metode untuk menghasilkan makna yang baru bagaimana sebagai pemuda/i Kristen di Indonesia hari ini. bagaimana menjalankan visi dan misi Kristus disini, sehingga terjadi “revolution Kristen,[11] seperti istilahnya George Barna[12].

Revolusi yang saya maksudkan bukan pembrontakan terhadap pemimpin atau otoritas dan weweang denominasi atau seseorang. Saya ingin menempatkan itu diposisi yang seharusnya, sesuai dengan tujuan visi yang saya bicarakan disini. Saya ingin menempatkan visi dan misi Kristen sebagaimana seharusnya seperti dalam Matius 28 ayat 18 sampai 20 itu.  Saya menyebut revolusi sebagai upaya untuk menciptakan kegerakan dan kebangunan intelektual Kristen di Indonesia, bukan lagi hanya (sekali lagi bukan lagi hanya) KKR-kegerakan dan kebangunan rohani melulu, sehingga tercipta mahasiswa, dosen, dan masyarakat Kristen yang betul-betul intelektual dan intelektual yang betul-betul masyarakat Kristen.

Perlu diberitahukan disini, ketika berbicara visi dan misi Kristen nama George Barna menjadi rujukan nomor satu, khususnya di Indonesia. Kita orang Indonesia hingga hari ini hanya lebih tahu soal “The Power of Vision[13]nya Barna, atau orang lain yang sudah biasa mengajarkan ini. Menurut Barna, pengajaran, pembicaraan, dan diskusi, tentang visi dan misi adalah materi penjelasan yang sangat biasa dan nyatanya hanya muluk-muluk dalam kehidupan Kristen, khususnya di Amerika di kala itu. Ia melihat realitas dan pencapaian Kristen di sana sama seperti “The Frog in the Kettle”,[14] artinya seperti Katak di dalam ketel, maksudnya tempurung. Di Amerika tidak tumbuh pohon kelapa, sehingga ilustrasinya diumpakan sebagai ketel atau mangkok yang biasanya dari aluminium atau keramik, atau juga dari kaca.  Sehubungan dengan kondisi komunitas pemuda/i disini, saya melihat solusinya dengan cara saya sendiri, yakni lewat penguatan hubungan komunitas di dalam dan antar kelompok untuk membuat suatu gerakan intelektual dan sosial Kristen di Indonesia sesuai dengan karakteristik pelayanannnya masing-masing.

Kelompok Kecil dalam Komunitas
Saya ingin membangun kegerakan gerakan intelektual dan sosial Kristen itu lewat pendekatan kelompok kecil dan hubungan komunitas pelayanan. Satu strategi gereja yang dipakai Amerika untuk kegerakan rohani, sosial, intelektual dari sisi Kristen adalah gerakan kelompok kecil atau SGM-Small Group Movement untuk pendalaman Alkitab, atau yang sering kita kenal di Indonesia dengan istilah komsel, KTB, atau kelompok PA dan yang sejenis dengan itu. Sesuai dengan itu, Julie A. Gorman berkata, (Professor di Fuller Theological Seminary), mengatakan, bahwa SGM , secara jelas menguat terjadi pada akhir abad ke-20an merupakan salah satu instrumen yang potensial bagi gereja Kristen untuk bertumbuh, mengalami pembaharuan, semua jenis pelayanan Kristen yang ada, baik di Amerika maupun di dunia.[15]

Kelompok sel sebagai energi terbarukan yang tiada habisnya untuk menumbuhkembangkan gereja di Seol Korea Selatan khususnya di kota-kota untuk program pelayanan pemuridan, kelompok studi Alkitab. Kelompok kecil Kristen ini menyediakan kesempatan yang sangat penting untuk penginjilan dan assimilasi (rasa nyaman masuk menjadi anggota kelompok atau jemaat) dari anggota gereja yang baru. Kelompok persekutuan Kristen yang kecil ini juga merupakan media pelayanan dan penjangkauan untuk me;ibatkan orang yang suka pelayanan dari dimensi sosial, misalnya untuk orang-orang atau anak-anak jalanan, kelaparan dan kemiskinan dan persoalan dunia sosial lainnya. Pertemuan intensif dari komunitas orang perorang ini merupakan wadah yang sangat cocok untuk membangun hubungan yang hangat dan saling membantu atau membangun bagi budaya atau kebiasaan masyarakat atau orang perorang yang punya cenderung penyendiri atau individualistik, atau orang-orang yang galau.

Robert Wuthnow (seorang Professor sosiologi dari Princenton Univesity) melakukan penelitian terhadap orang Kristen di Amerika pada tahun 1990. Ia mengatakan, bahwa ternyata 1 diantara 4 orang dewasa Amerika terlibat atau ikut di dalam kelompok kecil[16]. Menurut Roberta Hosteness (Seorang Hamba Tuhan atau pendeta, yang di Amerika sering disebut dengan istilah “International Minister” dari World Vision), bahwa situasi dan kenyataan itulah yang menyebabkan gereja atau orang Kristen di Amerika melakukan dan mempertahankan kelompok kecil hingga hari ini sebagai salah satu strategi pendalaman pemahaman terhadap Firman Tuhan, sejak perang dunia ke II hingga kini[17]. Intinya sebenarnya adalah komunikasi yang intens diantara sesama anggota group atau komunitas Kristen yang ada disuatu tempat.

Dimensi Lain dari Komunikasi dalam Komunitas   
Ketika berbicara soal komunikasi, sepertinya ini sudah “basi,” karena sudah biasa dan itu-itu saja ternyata yang dijelaskan sebagai obat penawar dari regangnya, atau putusnya kehangatan dan keakraban dari suatu hubungan di dalam satu komunitas Kristen di satu wilayah. Tetapi, memang itulah yang bisa dijadaikan menjadi sebuat alat untuk menghangatkan kembali “cinta,” kedekatan, hubungan, kasih, persekutuan atau persaudaraan dari sebuat komunitas, baik dengan Tuhan, ataupun dengan manusianya Tuhan itu.

Saya tidak ingin menganggap ini sebagai sebuah hal yang sepele, untuk itu saya ingin menjelaskan bagian-bagian lain yang belum pernah diberikan perhatian, ketika berbicara soal komunikasi di dalam suatu komunitas. Ingatlah beberapa hal sejenak, bahwa komunikasi apapun bentuk dan pesannya dan tujuan yang ingin dicapainya komunikasi selalu sebuah proses yang tiada henti dalam suatu komunitas.

Kita tidak selalu mampu bisa menggapai inti dari maksud sesorang atau kelompok lainnya. Tantangan-tantangan atau hambatan-hambatan, ganjalan-ganjalan, kejengkelan-kejengkelan, cercaan-cercaan, hinaan-hinaan, rasa superior dan inferior, rasa lebih kuat atau lebih lemah, rasa lebih modern dan kolot, rasa kota dan “ndeso,” rasa lebih benar atau hebat dan salah dan “tidak gaya”, selalu mewarnai di dalam komunikasi. Tantangan yang berbeda-beda selalu timbul setiap saat dalam komunikasi antar kelompok. Semua kita tahu soal ini, tetapi apakah kita tahu mengapa itu terjadi, dan apa terapi yang paling cocok untuk itu? Saya merasa jawabannya adalah “ya”, tetapi tindakan kita untuk mengatasinya sering kali berkata “tidak.”

Saya ingin mengingatkan kita disini dari sisi yang jarang kita perhatikan yang bisa merusak tujuan mencapai gerakan intelektual dan sosial Kristen di Indonesia. Ternyata, bersama-sama semakin lebih lama, atau menjadi lebih dekat dalam hubungan komunitas, ternyata dapat menyebabkan komunikasi “pecah atau berantakan” dari sebelumnya yang kita inginkan dan bayang-bayangkan. Tanda-tanda yang sering terjadi malahan sebaliknya dari yang kita impikan dari yang kenyataan, mislnya:
1.     Ketika merasa dicintai atau diterima sebagai anggota komunitas, sehingga kita terlalu berharap tinggi atau berlebihan untuk selalu dimengerti, akibatnya saling memaksa untuk slaing mengerti, yang sering berujung konflik.
2.    Semakin lama bersama-sama dengan orang atau komunitas lain, semakin tinggi ekspektasi untuk dipahami. Sering kita berkeyakinan, jika kamu atau kalian tidak mengerti saya atau kami, siapa lagi, padahal kita adalah satu komunitas. Sebagaimana hubungan baik bertumbuh, pada saat yang sama hal-hal ekspektasi yang tidak realistis atau berlebihan juga bertumbuh dengan sendirinya, entah mengapa dan entah pula dengan cara apa. Akibatnya salah paham menjadi sangat menyakitkan, yang sering berujung melukai hubungan dan emosi di dalam komunitas yang telah terbangun. Cinta menjadi alat untuk melukai. Ini kenyataan pahit, tetapi itulah yang sering sebagai realitas, yang mau tidak mau harus diterima.
3.    Semakin dekat dengan seseorang atau komunitas lain, dan lebih lama dekat dengannya semakin rentan untuk menyakitinya, ketika mulut dan tindakan kita melukai meski tidak disengaja atau tidak diketahui, atau tidak diingankan. Ketika hubungan komunitas telah terbentuk dengan solid, semakin tidak ingin kita mengatakan sesuatu yang kita rasa itu akan melukai orang atau komunitas orang lain itu, tetapi inilah yang menumpuk masalah, sehingga sering berujung meledaknya konflik yang tidak terduga, dan meluap-luapnya emosi yang tidak terbendung.
4.   Kesalahpahaman antara anggota komunitas seringkali dianggap sinyal dari kegagalan suatu hubungan.  Seringkali kita tidak mengerti apa yang sejatinya terjadi disini. Tetapi, kita bisa merasakan ada yang mulai runtuh dari hubungan komunitas ini. Apapun itu, biasanya tanda-tanda adanya sinyal keruntuhan hubungan itu, lebih sering saling menjauhkan satu dengan yang lain, yang seringkali dianggap untuk meredam, padahal ini pulalah yang malahan seringkali memperburuk hubungan.
5.    Karena hubungan komunitas telah terbentuk, seringkali timbul pertanyaan mengharapkan, “apakah kamu masih mencintai hubungan ini,” “apakah kalian ada komitmen untuk kebersamaan ini.” Seringkali perpisahan atau pemutusan hubungan dianggap sebagai jalan penyelesaian, padahal sadar atau tidak itu sebagai upaya kompensasi atau pelarian dari harapan yang tidak kenyataan.
6.   Semakin banyak dan semakin lama seseorang atau komunitas menghabiskan atau membagi waktu bersama, maka ternyata semakin banyak perbedaan yang tampak jelas dan nyata-nyata menyakitkan, sehingga kesalahpahaman dan ketidaksaling berterimaan menjadi timbul sedemikian rupa.  Sejumlah perbedaan yang tampak jelas itu, bisa mengancam keutuhan komunitas, yang sering kali berujung “gantungnya” hubungan yang tidak jelas, yang seringkali malahan semakin menyakitkan.

Pertanyaan terakhir, DO YOU STILL LOVE ME? Apalagi jika mengingat, bahwa ternyata tidak kita sadari, ditengah-tengah kita dan di seluruh dunia sedang munculnya Islam yang saya katakan sebagai “Superpower Baru di Dunia dan di Indonesia. Alasan saya adalah jika ditilik dari penjelasan dari Akbar Akhmed secara statistik bahwa, 1 diantara  4 manusia yang hidup diplanet bumi ini adalah muslim, padahal awalnya itu milik Kristen, lebih dari 6-7 juta Muslim hidup di Amerika Serikat, padahal nota benenya Amerika yang katanya adalah negara Kristen.[18]

                [1]Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius hingga Perkembangan PAK di Indonesia, cet.ke-2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 20090, h. 67.
                [2]Jan S. Aritonang, Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988), h. 178-189.
                [3] B. F. Drewes, Julianus Mojau, Apa itu Teologi?: Pengantar ke Dalam Ilmu Teologi, cet.ke-5 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), h. 74-75.
                [4]Th. Van den End, J. Weitjens, S.J, Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an hingga Sekarang, cet.ke-8 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), h. 367-380.
                [5]Ibid., B. F. Drewes, Julianus Mojau, h.  74.
                [6]Ibid., Robert R. Boehlke, h. 767-820.
                [7]Departemen Agama RI berdiri tanggal 3 Januari 1946 dengan Menteri Agama yang pertama ialah K.H. Rasjidi yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Negara dalam zaman Kabinet Presiden Presiden Sokarno. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen tahun itu 1946 disebut Bagian Masehi Kristen yang berdiri bersamaan dengan berdirinya Kementrian Agama itu. Itupun tidak langsung dapat diterima masyarakat dengan baik. Bagian Masehi Kristen ternyata mengalami pergumulan panjang baik di kalangan gereja maupun umat. Kenyataan ini sebagai akibat dari latar belakang pemahaman teologis khususnya “Protestan.” Lihat Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004), h. 1-22, 89-142.
                [8]SETARA Institute Jakarta, Koran Tempo, Selasa 30/11/10: A2),
                [9]Theofilus Bela, Majalah Inspirasi Indonesia, Vol.18/th.II/2011, h. 26.
                [10]http://dbk.evaluasi.net/indeks (diakses, 15 Juni 2011, pukul 10:57:29 wib
                [11]George Barna, Revolution (Carol Stream, IL: Tyndale House Publishers, Inc., 2012).
                [12]Silahkan baca George Barna, The Power of Vision (Ventura, CA: Regal Books, 2001). George Barna adalah pendiri, dan direktur The Barna Group, sebuah layanan lengkap pemasaran perusahaan riset di Ventura, California, USA yang mengkhususkan diri dalam riset untuk pelayanan Kristen. Sebagai penulis dan periset Kristen, buku-buku dan hasil riset yang ditulis dan dilakukan oleh George Barna dipublikasikan secara online di www.barna.org.
                [13]Silahkan baca George Barna, The Power of Vision (Ventura, CA: Regal Books, 2001).
                [14]George Barna, The Frog in the Kettle (Ventura, CA: Gospel Light Publishings, 1990), h. 1-21.
                [15]Julie A. Gorman, Community That Is Christian: A Handbook on Small Group (Grand Rapids, MI: Baker Books, 2011), h. 121.
                [16]Robert Wuthnow, The Restructuring of American Religion: Society and Faith Since World War II (New Jersey: Princeton University Press, 1990), h. 120.
                [17]Roberta Hosteness, “Foreword: Close Encounters of the Human Kind,” dalam Julie A. Gorman, Community That Is Christian: A Handbook on Small Group (Grand Rapids, MI: Baker Books, 2011), h. 1-2.
                [18]Akbar Akhmed, Journey into America: The Challenge of Islam (Washington DC: Brookings Institution Press, 2010), h. 7.

Menjalankan Visi dan Misi Kristen di Indonesia

Elia Tambunan, S.Th., M.Pd
Khotbah Kapel STT ”Nazarene Indonesia,” Kamis, 10 Mei 2012         

A.           Pendahuluan: Sesuatu untuk Dimaknai
Berbicara soal visi dan Misi dalam dimensi kehidupan Kristen, baik itu dalam sistem pendidikan dari dasar hingga sekolah tinggi, gereja, masyarakat, bisnis dan seluruh tipe dan seri ministri lainnya, pastilah selalu dilihat atau dipengaruhi ajaran, pemaknaan dari sisi teologis, yakni Matius 28 ayat 18-20,  dan ayat-ayat Alkitab lain yang “segudang” yang serupa dengan itu. Artinya, saya ingin menegaskan, bahwa topik ini adalah memang topik Alkitabiah atau teologis Kristen.

Namun, ketika ini sudah diposisikan atau diletakkan dalam dimensi akademis, maka ketika berbicara visi dan misi Kristen nama George Barna menjadi rujukan nomor satu, khusunya di Indonesia. Apa yang terjadi dibelakang pemikiran Barna, bagaimana itu berproses, gerakan intelektual seperti apa yang ia kampanyekan, dan apa ujun yang ingin dibongkar-bangkir di Amerika sejak kemunculannya di tahun 1990-an. Perlu diberitahukan disini, orang Indonesia hingga hari ini hanya lebih tahu soal “The Power of Vision[1]nya Barna, ataupun mungkin orang lain yang sudah sering terdengar soal ini.

Sehubungan dengan istilah dan pemahaman itu sudah biasa, saya tidak lagi akan menjelaskan itu disini. Artinya, saya tidak sedang menjadi pengikut Barna dan yang hanya bisa membaca materi tulisan dan pemikirannya. Saya menjelaskan visi disini dengan cara saya sendiri, dan yang dipengaruhi oleh latar belakang akademik dan keilmuan yang saya miliki. Saya menjelaskan ini demi kepentingan Kristen secara nasional. Kali ini saya lakukan untuk mengobati sejumlah penyakit pendidikan tinggi keagamaan Kristen. Dengan terobatinya penyakit tersebut, maka akan terjadi “Gerakan Intelektual Kristen”[2] yang sedang saya kampanyekan terus-menerus. Apa alasan dari gerakan ini adalah karena kita sedang membutuhkan, mengharapkan dan menciptakan kegerakan dan kebangunan intelektual Kristen di Indonesia, bukan lagi hanya (sekali lagi bukan lagi hanya) KKR-kegerakan dan kebangunan rohani melulu, sehingga tercipta mahasiswa, dosen, dan masyarakat Kristen yang betul-betul intelektual dan intelektual yang betul-betul masyarakat Kristen.[3]

Dengan demikian, kali ini, saya juga tidak lagi mau menghabiskan energi untuk mengeksegesis Matius 28 ayat 18 sampi 20 itu, bukan karena saya tidak bisa biblical studies dengan ilmu hermeneutikanya, tetapi alasannya karena  itu sudah biasa saya dengar, meskipun karena biasa seringkali dilupakan bagian-bagian lain dari pemahaman visi teologi didalamnya, yang ternyata sering menjadi diterlantarkan.  Saya memilih apa sebenarnya yang tejadi dibalik pengajaran visi dan misi itu, sehingga pemahaman saya menjadi komprehensif terhadapnya.

B.         Bagaimana Menjalankan Visi?
Issu soal bagaimana menjalankan visi ini sendiri, minimbulkan sejumlah tanya, karena topik ini tidak jelas. Saya katakan tidak jelas karena alasan visinya siapa dan lembaga yang mana? Oleh karena kekurangjelasan itulah sebabnya saya terpaksa kembali ke Matius 28 ayat 18-20 tadi dengan “membanya dari pemikirannya Geroge Barna. Artinya yang saya lakukan disini adalah “kritik pemikiran tokoh Kristen”, yaitu Geroge Barna yang sering menjadi referensi utama, ketika berdiskusi soal visi dalam dimensi akademik Kristen. Saya melihatnya dengan metode ilmu kritik pemikiran dari dokumen atau literatur karyanya sendiri, Artinya ini adalah kritikterhadap sumber pertama dan orang pertama. Artinya bukan sumber kedua, apalagi terjemahan tidak ada disini. Ini saya lakukan untuk mengahsilkan makna yang baru bagaimana menjalankan visi, sehingga terjadi “Revolution,[4]atau revolusi intelektual dalam dimensi kehidupan Kristen, seperti yang diinginkan Barna, ketika ia berbiaca soal visi di tahun 2012.

Revolusi yang dimaksudkan disini bukanlah upaya-upaya sistematis untuk melakukan pembrontakan atau perlawanan berdarah-darah terhadap pemimpin atau otoritas dan wewenang, denominasi atau seseorang pemimpin saat ini yang menjabat. Saya ingin menempatkan kata revolusi itu diposisi yang seharusnya, sesuai dengan tujuan visi yang saya bicarakan disini. Saya ingin menempatkan sebagaimana seharusnya, atau  yang saya jelaskan dengan menciptakan kegerakan dan kebangunan intelektual Kristen di Indonesia, bukan lagi hanya (sekali lagi bukan lagi hanya) KKR-kegerakan dan kebangunan rohani melulu, sehingga tercipta mahasiswa, dosen, dan masyarakat Kristen yang betul-betul intelektual dan intelektual yang betul-betul masyarakat Kristen.

Menurut Goerge Barna, soal-soal pengajaran, pembicaraan, diskusi, ungkapan, angan-angan ataupun mimpi-mimpi yang berbicara tentang visi dan misi adalah materi penjelasan yang sangat biasa dan nyatanya hanya muluk-muluk dalam kehidupan Kristen, khususnya di Amerika di kala itu. Ia melihat realitas dan pencapaian Kristen di sana sama seperti “The Frog in the Kettle”,[5] artinya seperti Katak di dalam ketel, maksudnya tempurung. Di Amerika tidak tumbuh pohon kelapa, sehingga ilustrasi atau personifikasinya diumpakan di dalam ketel atau mangkok yang biasanya dari aluminium atau keramik, atau juga dari kaca.

Tampaknya apa yang dikatakan Barna itu, memang benar demikian, hanya dengan mengingat lagu rohani Kristen yang pernah tenar tahun 1990, yakni “Kupunya Visi tuk Bangsa ini” dan seterusnya itu. Tetapi apa yang terjadi dengan diri saya, dan dunia Kristen saya, yang ironisnya, saya adalah orang dan pelaku didalamnya, sebagai mahasiswa, dosen, pemimpin atau pelaku di dalamnya, jika melihat situasi dan nasib Kristen Indonesia kini. Itulah alasannya saya mengatakan ada yang “salah” dan ada “penyakit akademik yang akut,” dalam proses edukasi dalam pendidikan tinggi keagamaan Kristen di Indonesia sejak tahun 1960-an hingga kini. Ditengah-tengah munculnya Islam yang saya katakan sebagai “Superpower Baru di Dunia dan di Indonesia. Alasan saya adalah jika ditilik dari penjelasan dari Akbar Akhmed secara statistik bahwa, 1 diantara  4 manusia yang hidup diplanet bumi ini adalah muslim, padahal awalnya itu milik Kristen, lebih dari 6-7 juta Muslim hidup di Amerika Serikat, padahal nota benenya Amerika yang katanya adalah negara Kristen[6]. Hal ini sudah saya jelaskan dalam paper “Diskusi Akademik” beberapa waktu lalu di Kapel STT Nazarene.

Fenomena dan kenyataan di dunia Kristen Amerika itu, sangat memuakkan bagi Barna, lalu ia terilhami dengan realitas itu untuk membuat perubahan dalam dunia dan kehidupan Kristen, lewat pelayanan berbasis riset atau penelitian masyarakat, gereja, dan bisnis. Ia membuat satu rumusan pertanyaan utama dalam penelitian dan pelayanannya, “Generation Next: What you Need to Know About Today's Youth.[7] Artinya, jika sudah berbicara soal visa dan missi Kristen untuk generasi masa depan, perlulah untuk melibatan dan menggerakkan anak-anak muda yang penuh aksi. Barna memberdayakan atau mengedukasi anak-anak muda Amerika untuk mengetahui dengan sesunguh-sungguhnya apa yang perlu ia tahu soal masa mudanya hari ini dan apa yang bisa dilakukan mereka untuk Kristen di masa mendatang.

Melihat realitas hidup saat itu, Barna kemudian melanjutkan dengan proyek, Turning Vision Into Action[8] mengubah visi menjadi aksi. Artinya, ia ingin membuat perubahan pemikiran, teori menjadi tindakan. Ia ingin mengubah yang tertulis indah dalam Alkitab orang Kristen itu menjadi tindakan, aksi atau gerakan nyata.  Hal inilah yang sering kali saya sebut dengan “pendidikan Kristen dari edukasi menjadi eduaksi,  atau rekonstruksi teori ke sosio-praksis”.[9]  Dengan kata lain, yang saya butuhkan hari ini adalah bagaimana cara untuk mudah mengikuti rencana untuk menemukan visi yang Tuhan inginkan untuk pelayanan kita, dan bagaimana dapat membawanya atau mempraktekkan sesungguhnya ke dalam kehidupan, baik di gereja, rumah, masyarakat, bisnis, seluruh jenis dan dimensi ministri, dan dalam kehidupan spiritual dan sosial lainnya, khususnya dalam bidang intelektual.

Itulah fenomena yang ia amati, sehingga ia berkata demikian, sehingga ia berketetapan “Keep on Building,”[10] Artinya, saya harus terus mendesain, membangun dan membuat perubahan. Saya melihat, solusi yang ia kerjakan adalah membuat “Leaders on Leadership.”[11]Artinya, Barna menciptakan pemimpin dalam kepemimpinan yang memiliki hati dan jiwa hamba, yang berhikmat, punya semangat dan tindakan keberanian dengan cara, jalan, pertauran, prosedur dan hukum yang benar untuk memimipin umat Allah.

Saya melihat, yang dilakukannya adalah ia sedang mendesai cara dan metode untuk melahirkan kelompok atau institusi pemikir inovatif untuk mendapatkan perspektif baru pada definisi kepemimpinan, ide-ide baru untuk mengatasi tantangan yang menghadang perubahan dan menghadapi pemimpin, otoritas, wewewang yang hanya bisanya berkata-kata mendukung perubahan. Ia menumbuhkan semangat baru untuk menjawab panggilan Tuhan taruh dalam hati setiap orang. Bahkan ternyata, dilihat dari perspektif akademiknya barna, yang menghalangi perubahan itu adalah pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri, sehingga alih-alih untuk mengkritisi dan menjatuhkan pemimpin (dalam dunia Krosten denagn semua sistem istitusi dan sisitem sosialnya)di Amerika, maka ia mendesain “Building Effective Lay Leadership Teams.[12] Artinya, Barna lebih memilih untuk melatih dan memberdayakan kaum awam yang menjadi tim pemimpin dalam ministri Kristen. Hal inilah yang sering saya dengan dengan istilah teologi kaum awam.

Apa yang bisa saya amati dan pahami dari gerakan intelektual Kristen Amerika sejak tahun 1990an hingga kini tersebut? Ini penting menjadi poin yang bisa diapplikasikan di Indonesia sesuai dengan setting sosial dan keadaan disini, tanpa menghancurkan leburkan nilai-nilai inti dari denominasi, institusi, atau keyakinan orang atau lembaga ministri tertentu di semua sistem pelayanan dan sekolah tingggi teologi di Indoesia dan juga secara lokal.

Sangat sederhana yang telah dan sedang gencar-gencarnya yang dilakukan oleh George Barna itu, yitu ia ingin menumbuhkan kegerakan itu dari luar untuk mempengaruhi ke dalam. Hal itu ia istilahkan dengan “Grow Your Church from the Outside In.” [13] Artinya, Barna sedang baru hanya sebatas berupaya dan bertindak sungguh-sungguh untuk menyediakan cara pandang yang tidak biasa atau tidak normal karena tidak biasa dipakai oleh orang lain atau pemimpin lain sezamannya di dunia. Ia mengatakan, bahwa dalam menumbuhkan pelayanan ditumbuhkembangkan dari luar ke dalam. Artinya, dunia nyata atau nilai, sikap, perilaku, keyakinan, praktik keagamaan, demografi, tujuan hidup dan harapan rohani dari luar itulah yang bisa membuktikan apakah visi dan misi pelayana itu memang benar dari Tuhan dan untuk Tuhan, atau hanya untuk kemuliaan, kebesaran, kesuksesan, dan keterkenalan dari pemimpinnya atau orang dalam itu sendiri. Meskipun, saya dengan sadar akan bangga dan memberikan dukungan dengan kekuatan penuh dan kesadaran penuh, jika ada orang, denominasi, lembaga atau institusi Kristen yang terkenal karena mutu dan layanannya memang bermutu baik.

Barna tidak menyerah meski hujat dan hinaan yang tentu tidak bisa dielakkan. Terbukti ia mengulangi lagi tulisannya dan gerakannya dengan sebutan “The Frog in the Kettle and Boiling Point,” [14] artinya, Si Katak di dalam tempurung  dan titik didihnya. Ia sedang mengajar semua orang di Amerika, termasuk para kolega, dan para penikmat buku dan ajarannya, bahwa perubahan tidak bisa dihindari (Change is inevitable), perubahan akan terjadi apakah saya siap atau tidak, apakah saya berkawan atau malah melawannya, apakah menentangnya bahkan menenteng untuk membawanya bersama saya. Perubahan akan terjadi apakah saya suka atau tidak, apakah saya dukung atau saya bendung. Tidak ada perubahan? Tidak ada kesempatan sama sekali (No change? No chance!).

Apa memang benar yang dikatakannya itu? ini merupakan kritik saya terhadap pemikirannya Barna. Tetapi tampaknya hal itu bisa diaminkan hanya dengan melihat ilmu biologi atau segala hal yang tekait dengan botanologis. Dari para ahli biologi memberikan saya pemahaman yang baik untuk ini. Misalnya bibit tanaman atau biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan. Ketidakadaan perubahan dalam diri bibit tanaman atau biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan maka itulah tanda kematian mereka. Dengan kata lain, kehadiran atau keadaan perubahan adalah satu tanda kehidupan. Perubahan adalah komponen penting untuk layak atau pantas disebut ada kehidupan. Demikianlah pula dalam kehidupan atau dalam keadaan sebagai manusia. secara intelektual, emosiona, sosial, dan spiritual, kita harus berubah atau mati, tidak ada ruang, masa atau tempat diantaranya atau ditenngah-tengah keduanya.

Tampaknya memang perubahan selalu tidak menyenangkan, tidak masalah seberapa besar untungya bagi saya atau seberapa ruginya untuk saya karena pengaruhnya. Akibatnya sering kali hanya dua. Saya hanya akan lebih sering fokus pada permasahannya, yang sebenarnya telah saya ketahui, ketimbang saya akan berupaya terus-menerus untuk memperbaiki diri da lingkungan sekitar untuk menemukan dan mencari solusinya yang ternyata belum saya ketahui sama sekali. Jadi, saya bisa memprediksi satu hal soal masa depan, yakni saya tidak selalu menyukai proses menuju masa depan, tetapi mulut saya akan selalu senang mengatakan, saya suka dan mendukung perubahan, meskipun ternyata, saya anti proses kesana, yaitu proses perubahan tadi.  Ini memalukan dan memilukan saya, bahkan hina dan malangnya mulut dan hidup ini karena saya hanya bisa berucap dan menginginkannya semata.

                [1]Silahkan baca George Barna, The Power of Vision (Ventura, CA: Regal Books, 2001). George Barna adalah pendiri, dan direktur The Barna Group, sebuah layanan lengkap pemasaran perusahaan riset di Ventura, California, USA yang mengkhususkan diri dalam riset untuk pelayanan Kristen. Sebagai penulis dan periset Kristen, buku-buku dan hasil riset yang ditulis dan dilakukan oleh George Barna dipublikasikan secara online di www.barna.org.
            [2]Untuk lebih jelas dan komprehensif, silahkan baca Elia Tambunan, “Gerakan Intelektual: Post-Modernisasi Ilmu Pengetahuan Mengobati Penyakit Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen,” Salatiga: Sekolah Tinggi Theologi Salatiga, Jurnal Gema FIRMAN, vol.1, No.1/Jan-Jul 2012, h. 96-138. Ataupun lebih baik kita mendiskusikan hal itu lebih lanjut secara tatap muka dalam nuasa akademik yang formal atau informal.
                [3]Untuk lebih jelas dan komprehensif, silahkan baca Elia Tambunan, “Proposal dan Penelitian Keagamaan Kristen: Dari Kritik Metodologi Riset Sampai ke Horison Baru Keilmuan,”Yogyakarta: Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia, SANCTUM DOMINE, Jurnal Teologi, vol. 1, No. 1 Maret 2011, h. 77-130. Ataupun lebih baik kita mendiskusikan hal itu lebih lanjut secara tatap muka dalam nuasa akademik yang formal atau informal.
                [4]George Barna, Revolution (Carol Stream, IL: Tyndale House Publishers, Inc., 2012).
                [5]George Barna, The Frog in the Kettle (Ventura, CA: Gospel Light Publishings, 1990), h. 1-21.
                [6]Akbar Akhmed, Journey into America: The Challenge of Islam (Washington DC: Brookings Institution Press, 2010), h. 7.
                [7]George Barna, Generation Next: What You Need to Know About Today's Youth (Ventura, CA: Regal Books, 1996), h. 1-49.
               [8]George Barna, Turning Vision Into Action (Ventura, CA: Regal Books, 1996), h. 1.
             [9]Elia Tambunan, Pendidikan Multikultural: Rekonstruksi Teori ke Sosio-Praksis (Yogyakarta: illumiNation Publishing, 2011), h. 2-12.
                [10]Ibid., George Barna, Generation Next, h. 49.
                [11]George Barna, Leaders on Leadership: Wisdom, Advice and Encouragement on the Art of Leading God's People (Ventura, CA: Regal Books, 1996), h. 1.
                [12]George Barna, Building Effective Lay Leadership Teams (Ventura, CA: Gospel Light Publishings, 2001), h. 1.
                [13]George Barna, Grow Your Church from the Outside In:Understanding the Unchurched and How to Reach Them (Ventura, CA: Gospel Light Publishings, 2002), h. 1.
                [14]George Barna Mark Hatch, The Frog in the Kettle and Boiling Point (Ventura, CA: Regal Books,2001), h. 17-20. Supaya lebih jelas, silahkan baca selanjutnya pada bab I,  Change is Our Middle Name: Count on It Being Diffrent,” h. 17-26.