Friday, February 28, 2014

Mahasiswa, Pemuda, Remaja Gereja Pantekosta di Indonesia Jawa Tengah: Apa Mau Kalian?



(Tulisan ini telah dimuat di Majalah "Suara Pantekosta: Media Komunikasi Hamba-Hamba Tuhan Daerah GPdI-Jawa Tengah," Edisi ke 2, Vol. 2. Jan-Juli 2014).

Sejak masuk ATHAS-Akademi Theologia Alkitab Salatiga tahun 1997, saya serius mengamati pelayanan
mahasiswa, pemuda, remaja (disingkat Pelmaprap) gereja kita. Kian sering terdengar pengerja dan aktivis berkeluh: “banyak orang yang tidak datang ibadah”. Tahun berganti hingga kini, saya makin gelisah dengan keluhan itu. Rasanya, ada alasan menyatakan, ada fenomena generasi muda GPdI sedang undur tinggalkan gereja. Padahal, generasi muda adalah penerus dan pilar ministri. Ada apa, mengapa begitu, apa maunya mereka, sih?

Apa Kata Orang?
Apa kata orang (yang melayani) tentang kondisi Pelmaprap sekarang? Saya bertanya (secara kualitatif korespondensi) ke beberapa teman lewat Facebook “Alumni ATHAS.” Apakah fenomen itu terjadi di pelayanannya? Ada yang mengatakan pelayanannya baik saja. Marsudi Siregar, bilang: “Kalo ditempat saya, justru pelayanan pemuda sekarang yang banyak melalukan penginjilan, kkr, padahal mereka bukan seperti kita ini lulusan theologia.” Namun, ada temuan menarik yang penting ditelusuri.

Melvin Tjiang di Bandung mengatakan: “Gereja memang semakin kurang menarik untuk anak muda.” Di Banten, “banyak pemuda meninggalkan gerejanya dengan alasan bahwa dia tidak bertumbuh di dalam,” kata Robert Simbara. Sedangkan di Makassar: “sejauh yang diamati dan sudah liat antara lain: suasana gereja yang kurang persaudaraan, ada pula alasan musik kurang seru, ada pula yang karena pacar atau suami/istri,” kata Imung Saputra di Makassar. “Mungkin karena yang berdiri di mimbar terlalu jadul,” kata Darius Tarigan di Tangerang.

Andreas Sembiring di Medan akui: “Ya kasustik memang. Ada juga pendapat para gembala tidak dapat memberikan pelayanan yang lebih menyentuh kehidupan. Trend hidup, pergaulan zaman yang terus berubah, membuat pola hidup anak muda seolah-olah harus hidup seperti zamannya. Tanpa disadari arus duniawi menarik perlahan sehingga hal rohani diangga tidak penting. Tugas gereja di pelayanan anak muda bagaimana pola ibadah dikreasikan untuk mengimbangi gaya hidup asal tidak keluar dari kebenaran firmanNYA. Terutama tugas orang tua/keluarga menanamkan sejak anak”. Tigor Yunus Sitorus turut berkomentar: “saya cuma heran saja banyak orang sudah tidak takut lagi kepada Tuhan, ini baru fenomena,” di Yogyakarta.

Kawan-kawan lain mengakui hal yang sama terjadi di Jateng. Armisari Bangun di Bandungan berkata: “Benar itu, setuju sekali.” Malahan, Yefta Hani Silitonga di Juwana tegas mengatakan: “ditempat dimana saya membantu pelayanan yang menyebabkan faktor tinggalkan gereja karena pemimpin sudah jarang urusi ibadah pemuda dan remaja. Sehingga mereka merasa tidak diperhatikan gembalanya. Sisi lain peran orang tua menyuruh anaknya ibadah pemuda sudah tidak lagi. Karena selesai ibadah malah anaknya keluyuran pacaran”. Ia juga mengakui: “Di pelayan orang tua (Rantau Parapat) juga demikian. Bahkan, banyak gereja yang seperti itu. Dengan tidak bermaksud menyinggung, tapi, perlu dibenahi. Gembala punya tanggung jawab juga mengurus domba yang masi muda, bukan hanya tua saja. Di Prambanan Lusia Pujiningtiyas berkata: “Perlu gereja memfasilitasi kreativitas ibadah pemuda sesuai dengan hati pemuda, pembicara yang gawuuuulll...gawulll”.

Pengakuan mereka itu seolah membuktikan adanya fenomena itu. Itu tidak bisa didiamkan. Tulisan ini mencoba memaparkan hasil penyelidikan (secara kuantitatif) lain terkait fenomena itu agar kita bisa betul-betul mengerti masalah itu dan apa maunya Pelmaprap dari gereja.


Apa Kata Mereka Sendiri?
Rasanya belum puas dengan pendapat sebelumnya. Saya berupaya menemukan apa kata Pelmaprap itu
sendiri. Tidak ada cara lain selain bertanya langsung. Jadi, naskah ini dibangun hasil penyelidikan, apa kata mereka berdasarkan sudut pandang dan pengalaman mereka sendiri sebagai orang yang dilayani. Lebih khusus lagi, apa sebenarnya yang diinginkan Pelmaprap GPdI Jateng dari gereja masing-masing, agar mengalami pertumbuhan rohani.

Untuk memahami fenomena itu, saya sendiri merancang 14 pertanyaan angket untuk menyelidik 14 indikator pelayanan Pelmaprap untuk mengerti apa maunya mereka. Sebanyak 502 peserta (responden) Youth Camp MD Jateng 2-5 Juli 2013 di Kampus ATHAS-Salatiga diteliti. Itu dihitung dari angket yang dibagi ke responden sebanyak 532 yang kembali 502 lembar. Penelitian itu selesai karena bantuan dan kebaikan hati Panitia, Orang-orang KD, Konselor atau Pembina Kelompok.

Setelah olah data lewat IBM SPSS Statistics 19-Analyze Frequency, secara umum respon atau pengalaman anak muda GPdI terbilang positip kepada gerejanya. Walau ada data temuan menarik yang perlu diperhatikan. Berikut pengakuan atau pengalaman generasi muda GPdI terhadap pelayanan Pelmaprap di gerejanya.

1.      27,7% (139 orang) mengaku tidak bangga jadi jemaat GPdI di gerejanya, walaupun 63,9 % (321 orang), tetap bangga.
2.      29,9 %  (150 orang), mengaku tidak mengalami pertumbuhan di gerejanya. Meskipun, masih ada 70,1 % (352 orang) mengalami pertumbuhan rohani.
3.      29,7 % (149 orang) merasakan isi dan model khotbah tidak cocok dikonsumsi dan selera orang muda. Artinya, kebutuhan spiritual mereka tidak terpenuhi. Walaupun demikian, masih ada 70,3 % (353 orang) merasakan isi dan model khotbah cocok untuknya.
4.      27,9 % (140 orang) tidak suka dengan cara penyampaian khotbah dan Firman Tuhan tidak menarik. Sebaliknya, masih ada saja 72,1 % (362 orang) merasa diberkati dengan itu.
5.      27,7 % (139 orang) tidak bisa merasakan jamahan Tuhan hadir dalam pujian penyembahan. 72,3 % (363 orang) bisa merasakan.
6.      27,3 % (137 orang) instrumen musik, pilihan lagu tidak bisa membawa hubungan erat-intimasi dengan Tuhan. Artinya, pada saat pujian dan penyembahan, mereka tidak merasakan apa-apa. Sedangkan, 72,7 % (365 orang) bisa menikmati.
7.      25,9 % (130 orang) mengakui para pemusik, songleader, singer pujian dan penyembahan tidak bisa memimpin ibadah untuk menikmati atmosfir, suasana dan kehadiran Tuhan di gereja. 74,1 % (372 orang) berkata, mereka bisa
8.      28,1 % (141 orang) melihat pengerja, aktivis, pembina rohani tidak bisa mendampingi pertumbuhan
rohani dan memotivasi ketika mengahadapi masalah. Artinya, kehadiran para pelayan Tuhan tidak membantu. Meskipun, masih ada 71,9 % (361 orang)  menunggu kehadiran para pembina rohaninya.
9.      30,3 % (152) merasa gembala sidang tidak membolehkan mereka mengelola pelayanan sesuai keinginan. 69,7 % (350 orang) merasa dibebaskan oleh gembala.
10.  28,3% (142 orang) kecewa dengan gembala karena memilih, memberikan tanggungjawab pelayanan pada orang yang tidak tepat. 71,7 % (360 orang) merasa gembala sudah melakukan yang tepat.
11.  27,9 % (140 orang) pindah gereja karena dipengaruhi gereja lain. 72,1 % (362 orang) menyatakan pindah karena faktor lain. Misalnya, isi dan metode pengajaran lewat khotbah, pujian penyembahan, musik dan lagu, tim musik ibadah, tim pelayanan, otoritas gembala atau kebutuhan umum.
12.  28,3 % (142 orang) pindah ke gereja lain karena gerejanya tidak lagi sesuai kebutuhan. 71,7 % (360 orang) pindah bukan merek gereja lain, tapi memang tidak sesuai dengan gereja lokal.
13.  27,5 % (138 orang) mengaku lewat pelayanan di gereja, ia tidak mengerti Firman Tuhan. 72,5 % (364 orang) bisa mengerti Firman Tuhan.
14.  87,3 % (438 orang) menginginkan ada program, pelayanan atau khotbah mengenai masalah umum di gereja. Misalnya ketrampilan hidup, kebutuhan jasmani, pengetahuan sekuler, cara membuka lapangan kerja, bantuan studi atau pelajaran sekolah, cara menghasilkan uang, cara memanfaatkan teknologi, komputer dan gadget, dan masalah kehidupan umum. 12,7 % (64 orang)  meyakini gereja lebih dipanggil untuk urusan rohani.

Meskipun kelihatannya prosentasi pengalaman negatif (TIDAK) dari responden lebih sedikit tinimbang positif (YA), tetapi jangan lantas dicuekin begitu saja. Itu perlu dicermati lagi. Ternyata hampir separohnya dari mereka merasa negatif dan merasa positif ke Pelmaprap. Jawaban itu merupakan bentuk lain dari apa maunya Pelmarap GPdI Jateng, sekaligus sedang menunjukkan apa-apa saja yang ingin dilakukan gereja untuk mereka sehingga imannya bertumbuh. Data ini sedang menyodorkan 14 petunjuk mengapa mereka tidak betah bergereja. Padahal, Tuhan sedih melihat anak muda berpaling dari gereja. Ia berfirman dalam Ibrani 11:25a “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita,  seperti dibiasakan oleh beberapa orang...” Bagi Tuhan, persekutuan sesama orang beriman di gereja penting.

Jawaban itu sekiranya dipahami lebih jauh sehingga tahu apa tindakan berikutnya. Angket hanya sebagai alat penampung “saran.” Ia salah satu cara penelitian dan alat evaluasi. Hasilnya penting diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan. Data ini adalah gambaran nyata dan kondisi terkini pelayanan Pelmaprap GPdI Jateng. Responden adalah contoh (sample) yang mewakili Jateng, karena yang disurvei 84 gereja yang mengirim utusan ke acara itu, seperti penuturan Pdt. Barnabas Tri, ketua seksi pendaftaran.

Mau Apa Lagi?
Temuan ini mendorong kita semua, baik MD, KD, Gembala, Aktivis, dan Pelayan Tuhan di gereja lokal semakin mengenali keadaan pelayanan. Lewat data itu, kita seakan dituntut bertambah giat memperhatikan Pelmaprap. Dan, mendorong kita menaikkan mutu pelayanan, dan menambah upaya untuk memenuhi kebutuhan nyata jemaat, dan membuat pelayanan semakin tepat sasaran, dan makin fokus bersandarkan pertolongan Tuhan Yesus.

Tulisan tidak punya tendensi pribadi, murni sebagai tanda perhatian demi kemajuan GPdI. Ini bantuan untuk mengenali persoalan seputar pelayanan Pelmaprap GPdI se-Jateng secara keilmuan. Artinya, ilmu sedang dipakai untuk meningkatkan kualitas ministri di GPdI. Bagaimanapun, akhirnya kita tahu apa kebutuhan mendesak pelayanan lewat atau yang diwakili oleh 502 responden itu.
           
Perlu dipertimbangkan, MD dan KD bisa membuat pertemuan atau acara khusus untuk kebutuhan para aktivis Pelmaprap se-Jateng menindaklanjuti hasil ini, termasuk kepada gembala sidang. Secara teknis pelaksanaan, pastilah MD dan KD Jateng sangat bisa diandalkan. Youth Camp lalu hanya untuk kebutuhan orang-orang yang dilayani di gereja masing-masing. Sekarang perlu juga bagi orang yang melayani.

Pertemuan itu bisa menjadi follow up untuk membekali para aktivis agar siap pakai di ladang Tuhan, sekaligus menjadi jalan baru yang bisa ditempuh agar visi dan misi MD dan KD Jateng bisa semakin dikerjakan oleh seluruh pelayan Tuhan di ketiga wadah pelayanan itu. Temuan ini hendaknya memicu semua orang GPdI bekerja keras untuk memobilisasi anak muda agar semakin mencintai gereja Tuhan terlepas kekurangannya. (Jika mau dikutip, TOLONG, cantumkan sumbernya!)

No comments: