Friday, February 3, 2012

MICROTEACHING & REALTEACHING: Panduan PPL I, II dan Siswa Berkebutuhan Khusus

A. Sinopsis Buku:
MICROTEACHING & REALTEACHING:
Panduan PPL I, II dan Siswa Berkebutuhan Khusus

Siapa yang cinta “panggilan” dan rela menjadi Guru benaran, yang diGUgu dan ditiRu, bukan jadi guru-guruan apalagi guru gadungan akan terbantu dengan membaca buku ini. Yang dibicarakan adalah ketrampilan teknis dan metodis mengajar (teaching skill and methods) dalam program microteaching (PPL I) dan realteaching (PPL II). Fokusnya pada penguasaan ‘isi’, ‘proses’, dan ‘upaya-upaya akademik’ (academik enterprises) mengenai substansi pengetahuan ilmu pedagogis-kritis.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman, pengamatan secara personal, dan bacaan literatur dari “hasil pemikiran ‘educator asing’ berbahasa Inggris. Artinya semua referensinya, saya acu langsung dari sumber dan penulis pertama. Ini sengaja saya lakukan demi kualitas referensi sebuah “academic writing” saja. Ada kesulitan ketika mencari literatur microteaching dan realteaching. Disamping faktor lain, itu disebabkan oleh pertama, Universitas, Sekolah Tinggi, dan LPTK lainnya, mempunyai lembaran panduan tipis-tipis, ibarat buku manual bagaimana mengoperasikan mesin cuci yang baru. Ini tidak menarik, karena hanya out line, mirip daftar isi skripsi, sehingga mahasiswa bekerja secara mekanik, statik, dogmatik, dan tidak bebas mengekspresikan diri karena hanya ‘manut’ tepat seperti yang tertulis. Kedua, ada juga lembaga dan dosen pembimbing micro-realteaching yang hanya memiliki diktat fotocopyan.

Sebagai seorang  pencinta dunia akademik dan dunia eduaksi-pendidikan, saya mengamati, masih sangat minim buku yang bisa di jadikan referensi untuk teks akademik terkait soal pengajaran micro dan real-teaching. Umumnya yang ada ditangan dosen masih berupa diktat yang sudah ‘kumal’, ‘lecek’, dan ‘kusam’ sudah dipakai sejak pertama sekali ia menjadi mahasiswa dan kini bekerja sebagai dosen. Selama ini, seringkali hanya ‘recycle’, ‘reduction’, dan ‘reuse’, (terjemahkan: mengulang-ulangi yang itu-itu saja). Kurangnya literatur soal itu perlu dicarikan solusinya, sehingga ilmu pedagogi-kritis bermakna bagi pengalaman belajar dan kehidupan mahasiswa, guru dan siswa.

Buku ini saya desain khusus untuk ‘orang-orang pilihan’ yaitu mahasiswa dan guru yang cinta ‘proses eduaksi’ dan rela mengadakan pembaruan metodik dan teknik dan reorientasi edukasi ke eduaksi dalam sistem persekolahan. ‘Customernya’ adalah mereka yang berkecimpung dalam  Pendidikan baik itu keagamaan atau pendidikan keguruan umum, atau mereka yang sedang menempuh program ‘AKTA MENGAJAR’, mulai tingkat Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) hingga level Sarjana Satu  (S1).

Buku ini juga menyediakan sejumlah contoh format isian, misalnya cara membuat RPP, instrument penilaian lengkap dengan skor dan indikatornya, dan alat evaluasi keberhasilan program, dan sejumlah kelengkapan lainnya, yang secara langsung dibutuhkan oleh mahasiswa, dosen pengampu, dan guru pembimbing di sekolah. Sejumlah  tabel, gambar, serta sejumlah lampiran juga ada, yang berguna sebagai contoh yang bisa dimodifikasi, dan yang bisa dipakai oleh mahasiswa ketika praktikum micro-realteaching. Formulir penilaian juga disediakan bagi dosen pembimbing untuk mempercepat tugasnya mengampu mata kuliah ini, dan bagi guru pendamping di sekolah untuk membantu meringankan tugas mereka ketika menerima mahasiswa PPL.

Jika dipetakan, maka buku ini saya fokus pada dua substansi kajian: yakni soal microteaching dan realteaching. Dalam microteaching pembaca diarahkan agar memiliki pemahaman makna tentangnya. Ini diperlukan sebagai skill dan kerangka kerja kritis dalam mendesain proses pembelajaran hingga mengevaluasinya. Dalam merumuskan “Lesson Plann” (RPP) pembaca dituntun sebagai perencana namun juga menjadi pelaksana, lengkap dengan manajemen pengelolaannya.

Selanjutnya dijelaskan cara mendesain model pengaturan ruang kelas untuk pengajaran efektif. Ini untuk merancang pelajaran yang efektif dan metode mendesain lingkungan pembelajaran dan siswa. Ini masalah skill dalam hal manajemen kelas demi pengajaran yang efektif. Tindakan pencegahan kekacauan di kelas jauh lebih baik dari pada tindakan menghukum siswa karena kelas tidak tertata dengan baik. Skill lainnya, mendesain skenario atau narasi pengajaran. Ini tentang kemampuan merancang rumusan yang bermakna bagi pengalaman belajar dan kehidupan siswa dalam bentuk operasional kongkrit, spesifik dan terukur. Itu juga akan merancang materi pengajaran yang mampu membelajarkan siswa dengan rasa senang, tenang dan bebas merdeka tanpa paksaan yang sering dihambat karena tekanan dan keharusan karena otoritarianisme dari sisi guru. Ini tidak boleh dilestarikan. Belajar dan mengajar adalah aktifitas bebas dan membebaskan pembelajarnya secara akademik.

Skill selanjutnya adalah kesanggupan mendesain standar penerapan pengajaran dari perspektif student learned-centered dan guru sebagai sahabat bermain. Oleh karena itu, fokusnya adalah bagaimana cara guru mengajar dan membelajarkan siswa (how you teach and how they learn) sesuai dengan gaya belajar siswa (student learning style). Disini, akan merancang beragam strategi yang variatif untuk mencapai tujuan mereka. Fokusnya bagaimana mendekonstruksi sistem belajar dan mengajar selama ini yang hanya “recycle,” “reduction,” dan “reuse,” yang saya terjemahkan hanya mengulang-ulangi yang itu-itu saja. Itulah yang perlu rekonstruksi dengan cara mengkritisi ilmu-ilmu pedagogis selama ini, sehingga terlihat jelas konstruksi dari strategi pembelajaran yang bermakna.

Sebuah pembelajaran yang berpusat untuk pembangunan kapasitas siswa sebagai manusia, serta memposisikan guru pada fungsi fasilitator. Akhirnya dilengkapi dengan kecakapan untuk mendesain standar penilaian pengajaran. Ini soal kecermatan dan ketepatan untuk merancang instrumen sebagai alat ukuran, indikator, standarisasi dan item-item lainnya yang terstruktur. Ini diupayakan untuk memahami sudah sampai dimana dan sudah sejauh mana penguasaan belajar terjadi. Itu bukan untuk stigmatisasi “bodoh atau pintar”, “cerdas atau goblok”, “terbelakang atau maju, gagal atau lulus, tuntas atau tidak.  

Micro-realteaching yang dirancang, diharapkan mampu menciptakan model dan metode pembelajaran dan pengajaran sesuai kebutuhan dan makna kehidupan setiap siswa sekalipun ia mungkin terkategori sebagai “siswa yang berkebutuhan khusus” (student who has a special needs), seperti yang dijelaskan dalam halaman epilog. Bahkan, diharapkan pembaca akan terlatih menciptakan trend atau model-model pembelajaran dan pengajaran menurut gayanya sendiri, dan sesuai dengan realitas pendidikan setempat.

B. DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Halaman Persembahan iv
Daftar isi v
Daftar Tabel dan Gambar vii
Daftar Lampiran viii

Bab I. Pendahluluan                                                                                                    
A.   Esensi yang harus Dipahami 1
B.   Makna Microteaching 3
C.   Kedudukan Microteaching 4
D.   Tujuan Microteaching 5
E.    Manfaat Microteaching 5

Bab II. STANDAR KOMPETENSI MICROTEACHING    
A.   Standar Kompetensi Microteaching 7
B.   Kompetensi Dasar dan Indikator Microteaching 9
C.   Menyusun Komponen RPP 10
D.   Ketrampilan Dasar Mengajar 17

Bab III. MANAJEMEN PRAKTIKUM MICROTEACHING        
A.   Dasar Manajemen Microteaching 26
B.   Scopa Manajemen Microteaching 27
  1.    Orientasi  28
  2.    Observasi Proses Pendidikan di Sekolah 28
  3.    Praktikum Microteaching 29
C.   Deskripsi Tugas Manajemen Microteaching 32
  1.    Dosen Pembimbing 32
  2.    Mahasiswa 32
D.   Layanan Bimbingan Microteaching 33

Bab IV. MAKNA PENILAIAN MICROTEACHING       
A.   Dasar Manajemen Microteaching 35
B.   Kriteria Penilaian Microteaching 37
C.   Pedoman Konversi Penilaian 38

Bab V. REALTEACHING         
A.   Makna Realteaching 40
B.   Tujuan Realteaching 41
C.   Kedudukan Realteaching 42

Bab VI. MANAJEMEN PRAKTIKUM REALTEACHING           
A.   Praktikum Realteaching di Sekolah 44
B.   Proses Pembelajaran Realteaching 44
C.   Tugas Manajemen Realteaching 48
1.    Guru Pembimbing 49
2.    Mahasiswa 49
D.   Layanan Bimbingan Realteaching 51

Bab VII. MAKNA PENILAIAN TEACHING 53
A.   Dasar Penilaian Realteaching 53
B.   Kriteria Penilaian Realteaching 54
C.   Pedoman Konversi Penilaian 55

Bab VIII. PENUTUP 57
DAFTAR PUSTAKA 60
LAMPIRAN  63

Epilog:
Siswa Berkebutuhan Khusus:  Secercah Harapan dan Perjuangan demi Makna Hidup 91
A.   Mengapa Berkebutuhan Khusus? 91
B.   Proses Pembelajaran dan Pengajaran secara Spesial 91
C.   Strategi Model Sentuuhan 92
D.   Penilaian untuk Menghargai 93
E.   Manajemen Pelaksanaan Edukasi Khusus 94

C. Legalitas dan Identitas Buku:
ISBN: 978-602-19080-2-0
KATALOG DALAM TERBITAN (KDT)
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
National Library of Indonesia-National ISBN Agency
Jl. Salemba Raya No. 28 A Jakarta Pusat 10430-Indonesia, P.O. Box 3624
Telp: 021-3101411, psw 437; 021-68293700/92920979, fax: 021-3927919/31908479
E-mail: isbn.indonesia@gmail.com-http://www.pnri.go.id

Tambunan, Elia
MICROTEACHING & REALTEACHING:
Panduan PPL I, II dan Siswa Berkebutuhan Khusus

Cetakan Pertama: Januari, 2012 (14-1-2012-05)
Harga: Rp. 29.500,- (Tambah Ongkos Kirim)

Jumlah lembaran halaman: 105
Ukuran Kertas: A5 (14,8 x 21 cm), 70 gr.
Font teks: Georgia 9/Spasi: 1,15/Font Footnote: Times New Romans 7

Penerbit:
illumiNation Publishing
Perum Permata Land, No 1.
Pojok Tiyasan Rt 02-Rw 01, Condongcatur 55283
Yogyakarta-Indonesia
Telp. 0274-4533025
E-mail: illumination.publish@gmail.com

Wednesday, January 4, 2012

Metodologi Riset: Dari Skill Mendesain Proposal Teologi & PAK hingga Mempublikasikan

         Selamat datang di dunia ‘riset’ pendidikan keagamaan Kristen, yakni program studi Theologia dan PAK-Pendidikan Agama Kristen. Di buku ini sebanyak 215 halaman ini, pembaca sedang diajak memasuki kawasan metodologis dengan multi-pendekatan dan multi-disciplinary, lengkap dengan segala kebebasan akademik untuk ‘menyuarakan’ hasil risetnya. Saya tidak terlalu mempersoalkan apakah riset dengan cara kuantitatif dan kualitatif, atau gabungannya. Bagi saya yang lebih penting adalah bagaimana memperoleh skill dari dalamnya, dan bagaimana menggunakan paket-paket pengetahuan dari riset ‘kuan-kual’ yang sudah ada itu, dan yang sering ‘dikonsumsi’ di kelas lewat mata kuliah metode penelitian bisa diintegrasikan dengan ‘multi-pendekatan’ keilmuan, sesuai dengan tujuan riset yang diinginkan pelakunya. Metode riset harus berdasarkan atau dituntun oleh fenomena keagamaan dan realitas lapangan sesungguhnya. Ia dirancang berdasarkan perspektif orang dalam (insider perspective) atau sumber data sebagai subjek bukan objek yang diteliti.
          Riset teologi dan PAK, seharusnya memang ‘fun’, atau menyenangkan. Riset adalah “petualangan-adventure” sebagai aktifitas bersenang-senang secara akademis, dan memberikan kebebasan akademik bagi periset untuk mengatakan “apa saja,” yang penting caranya benar secara keilmuan, dan ada data-evidence dan fakta-facts yang ditemukan dari lapangannya. Riset disini bukan tugas akhir yang lagi menakutkan, membuat stress, gagal, sehingga sering berakhir DO-drop out, maksudnya ‘gak jadi SaRJoNo. Riset juga bukan lagi hanya sebagai syarat mendapatkan gelar. Ia adalah tanggung jawab sosial akademik untuk pengembangan komunitas akademik dan masyarakat, seperti ‘ruh’ tridharma perguruan yang sangat tinggi itu.
          Saya mengajak mahasiswa S1-S3 ikut menikmati petualangan intelektual di dunia Kristen yang nyata, dan ‘dunia maya’, bukan lagi dunia ‘rohani’, metafisis, abstrak, yang dahulu, bahkan hingga kini masih saja menjadi andalan di wilayah kajian PAK apalagi Teologi. Saya tidak sedang ‘mendoseni’ pembaca sekedar bisa, biasa, dan tahu ‘meneliti,’ seperti yang diulang-ulangi dalam mata kuliah ‘metode penelitian’. Asal tahu saja, metode itu selama ini lebih terforsir pada riset deskriptif. Hasilnya seringkali baru sebatas laporan penelitian, atau sekedar bisa membuktikan, bahwa hipotesis A, B, Ho, H1 ditolak atau diterima, terbukti benar atau salah, yang dilengkapi dengan data mentah. Itu seringkali seolah-olah kelihatan sudah selesai karena telah ada angka-angka statistik ditambah persentase disana-sini. Saya tidak sedang memberikan itu disini, dan ini bukan buku mata kuliah yang deskriptif itu. Maksud saya, saya tidak sedang memperkenalan ilmu metodologi, yakni materi, isi, dan muatan atau kandungan pembahasannya dalam penelitian, seperti yang sudah ada mata kuliahnya tersendiri sesuai dengan level kesarjanaannya. Saya sedang menyediakan seperangkat instrumen riset, tetapi petualangan itu sendiri adalah pengalaman pribadi dari pembaca, sehingga ia bisa secara mandiri dan bebas mencipta risetnya sendiri, itulah fokusnya.
          Di bab 1, saya melengkapi peta perjalanan intelektual di buku ini. Jika tidak, maka pembaca akan menghadapi ‘turbulensi akademik’ atau goncangan adrenalin yang sangat hebat, ketika ‘memasuki’ rute yang bergelombang di dalam buku ini. Di bab 2 saya mengeksploitasi dengan narasi kritis sejumlah persoalan riset di lingkungan akademik STT dengan cara lain yang lebih kreatif-kritis. Selama ini mahasiswa STT Kristen bisa dan terbiasa dengan ilmu teks, kata-kata, ilmu omong-omong dan ilmu tafsir. Rasanya tidak lagi bisa diterima rasio akademik yang waras, dan oleh mahasiswa dan dosen yang waras, tujuannya untuk mengatasi persoalan kompleks yang sedang dihadapi oleh komunitas masyarakat beragama Kristen, tetapi para ilmuan, mahasiswa, teolog dan ahli agama, atau ahli masyarakatnya, duduk tenang, sibuk mondar-mandir, bahkan ‘asik’ atau keranjingan melahap ratusan literatur di perpustakaan. Bukankah lebih tepat untuk menolong masyarakat Kristen, dengan cara mendiagnosis dan menganalisis persoalannya dengan cara berada diantara mereka dan melihat dari sudut pandang mereka sendiri?
          Kualitas skill mahasiswa ‘representasi’ dari kualitas pribadi, dosen, dan iklim kebebasan akademik kampusnya. Jika ada yang salah dengan satu komunitas masyarakat beragama, maka mintalah pertanggungjawaban dari komunitas intelektual atau ilmuwan, dan rohaniawan atau agamawannya. Jika ada yang salah dengan mereka, cobalah ‘cek’ secara langsung, bagaimana mereka ‘dikuliahi’ di pendidikan tingginya, nilailah bagaimana kemampuan mereka cara meneliti, dan memahami masyarakatnya. Saya sengaja menulis buku ini untuk memperkarakan dan mempertanyakan ‘kebenaran’ dari tradisi keilmuan dalam metodologi penelitian yang selama ini dikonsumsi di level pendidikan para sarjana itu. Riset teologi dan PAK disini, saya lokalisasikan dari kacamata sains, sosial sains, dan sains humanities sebagai instrumen kerja akademik secara metodologis (metode, prosedur, proses, hasil), yang sistematik dan saintifik untuk menyelidiki fenomena atau realitas keagamaan Kristen yang terjadi sesungguhnya secara empiris. Riset dipekerjakan untuk penyelidikan dengan standar ilmiah secara investigasi akademik, sehingga menemukan “pengertian yang baru dan segar,” dibalik fenomena atau realitas yang tampak secara kasat mata. Hasilnya direkonstruksi menjadi ‘sesuatu yang bermakna dan berguna positif’ bagi komunitas akademik dan komunitas masyarakat beragama Kristen di Indonesia, seperti ditulis di bab 3.
          Disini, skill diartikan sebagai seperangkat ketrampilan kreatif riset yang lengkap, mulai dari bagaimana cara sistematis untuk mendesain dan  mengembangkan proposal, mengorganisasikannya dan membawanya pergi ke lapangan, melaporkan atau menuliskan hasil temuannya, menganalisis, menginterpretasikan, dan menteoritisasikannya kembali. Lalu, dipertahankan lewat ujian, direvisi kembali lewat bimbingan supervisior, dan dipublikasikan lewat jurnal atau buku oleh penerbit, seperti terpampang di bab 4 hingga 6. Skill riset seperti inilah yang sedang dinarasikan di buku ini, sehingga hasil penelitian di kampus-kampus, tidak ‘jamuran’ dirak-rak perpustakaan, tanpa diketahui publik apa hasilnya, dan tidak dipakai secara tepat untuk tujuan perkembangan komunitas akademik dan masyarakat beragama Kristen. Oleh karena itu, skill melakukan riset setara dengan skill kreatif menggunakan hasil akhir proyek riset dalam kemasan, bahasa, isi, dan narasi penyampaiannya, sehingga sehat untuk ‘dikonsumsi’ atau ‘dikunyah’ publik, sesuai dengan segmen pembaca dan pangsa pasar.

Wednesday, December 14, 2011

Mempekerjakan Logika: Merekonstruksi Pikiran Menuju Kebangkitan Intelektual Kristen

A. Apa yang Didiskusikan Disini, Mengapa?

Mempekerjakan Logika: Merekonstruksi Pikiran Menuju  Kebangkitan Intelektual Kristen, inilah fokus diskusi dalam buku ini. Secara detail, yang sedang kita bicarakan adalah terletak pada “bagaimana cara” berpikir, berilmu dan bertindak untuk mengkritisi secara konstruktif segala ilmu pengetahuan, sistem nilai dan cara pandang teologis, dan praktek hidup keseharian, yang berkaitan dengan dan dipergunakan dalam pendidikan keagamaan Kristen.



Saya tidak menyebutnya LOGIKA KRISTEN. Alasan saya tidak menyebutnya logika Kristen untuk menghindari perampokan secara akademik, yang mengkalim dengan semena-mena, seolah-olah ada logika milik Kristen, ada milik yang bukan Kristen. Jikapun ada orang lain yang menamai demikian, itu hanya sebagai upaya kristenisasi ilmu pengetahuan.

Upaya yang tidak terpuji ini, jika dilihat dari kejujuran atau prosedural epistemologis, metodologis, ontologis, dan aksiologi keilmuannya, maka orang seperti itu bisanya atau biasanya hanya menempelkan atau melabelkan kata Kristen dibelakangnya, sehingga langsung terlihat Kristennya. Artinya Kristen disini hanya stiker, cap, atau hologramnya saja.


Pertanyaannya bagi orang yang berilmu stempelan atau hologram, apakah logika itu murni datang dan dikonstruksi atau karena hasil riset dan pengembangan yang dilakukan oelh Kristen sendiri? Jika mau jujur mengakui dan terbuka melihatnya, sebenarnya ilmu, literaturnya yang dipakai untuk menulis buku Logika kristen tersebut sangat sedikit dari Kristen? Artinya, tetap saja diderivasi, “dicaplok atau dirampok” dari ilmu filsafat umum, yang bermula dari hikmat dan kebijaksanaan pemikiran Yunani yang bukan Kristen.


Saya hanya ingin menjadi orang yang tahu diri dan jujur dalam berilmu dan berKisten. Itulah alasannya saya lebih senang menyebutnya bagaimana cara mempekerjakan logika (ini pengakuan yang jujur dan penghormatan kepada ilmu logika yang sudah ada) untuk membantu pembangunan keilmuan Kristen, yang berujung pada kebangkitan intelektual Kristen. Dengan itu, akhirnya, kita tidak akan merasa malu nantinya menyebut dikemudian hari “logika Kristen” (dalam tanda kuotasi-petik).


Hal itu akan bisa dinamai demikian karena telah melewati proses teoritis dan empiris, atau berdasarkan penyelidikan atau riset pengembangan yang meneliti dengan benar secara empiris bagaimana orang Kristen itu berlogika atau berpikir dalam realitas keilmuan, secara akademik, dan dalam realitas kehidupan nyata. Tetapi ini memang membutuhkan proses empiris dengan seperangkat metodologi keilmuan, yang hingga saat ini, tampaknya teolog, Indonesia, belum sampai kearah ini. Sebenarnya, realitas inilah yang dikemudian hari penting untuk dirumusan atau direkonstruksi kembali oleh ilmuwan dan agamawan Kristen untuk keperluan Kristen.


Pokok pembicaraan yang dikedepankan dalam diskusi ini sebagai dasar-dasar saja dalam rangka persiapan pembangunan keilmuan Kristen. Kali ini, lewat buku ini, baru hanya sampai didasar dan mendasar itu saja, sesuai dengan tujuan dan kepentingan penulisan buku ini. Saya ingin memposisikan buku ini sebagai syarat atau kelengkapan lain untuk membentuk struktur berpikir untuk kebangkitan intelektual kristen. Pembangunan dan kebangkita itu bisa dilakukan dengan cara kerja yang ilmiah.


Disinilah kita mempraktekkan logika, nalar, rasio, akal sehat, pikiran, otak, dan ilmu pengetahuan Kristen, tanpa menanggalkan iman Kristen, apalagi menyangkali atau mengingkarinya, dengan cara-cara yang baru dan segar dalam kemasan yang attraktif karena bernilai tambah lebih baik atau nilai jual lebih kompetitif sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan di setiap setting sosialnya.


Kali ini, saya sedang melakukan penggabungan teori dengan praksis untuk membangun ulang kesadaran, kecerdasan, keberakalan, dan keberpikiran secara jernih, terukur, dan bisa dibuktikan yang sering disebut dengan kecendekiawanan yang tinggi berdasarkan ilmu pengetahuan, spiritual, dan sosial Kristen. Selama ini, kita hanya sering diajar-ajari atau diindoktrinasi hal-hal yang benar saja, (meskipun belum tentu benar). Bisa saja hal itu dianggap benar karena tidak ada yang mengatakan itu salah, atau kita belum pernah mengupayakan untuk membuktikan itu salah, atau benar. Pertanyaan filosofisnya adalah: “Bagaimana kita tahu, ini dan itulah benar, jika ternyata kita tidak pernah diajarkan dan mengajarkan (bukan melakukan) siapa, apa, mengapa, dan bagaimana yang salah? 
Pertanyaan ini, menggundang kita untuk menggunakan logika untuk menganalisisnya. Dan pernyataan atau pertanyaan seperti inilah yang mestinya kita “mainkan” dalam level pendidikan tinggi tehologi Kristen. Tujuannya untuk menghasilkan Kristen cendekiawan yang intelektual dan intelektual yang Kristen cendekiawan, agamawan yang ilmuwan, dan ilmuwan yang agamawan yang berpikir secara kreatif dan kritis atau kreatif secara kritis dalam makna positif dan kontributif bagi manusia entah siapa dia.

Buku ini merupakan salah satu bentuk kongkrit sebagai upaya akademik untuk melakukan “re-konstruksi” sejumlah instrumen dalam berbagai tingkat kesarjanaan pikiran Kristen untuk menghasilkan dan membangun “Gerakan Kebangkitan Intelektual Kristen di Indonesia”. Artinya, ini masih tetap dalam bingkai “revivalis dan pembaharuan nilai-nilai spiritual Kristen” yang masih ada dengungnya dan masih penting hingga detik ini, tetapi dalam wujud dan lewat jalan atau lembaga akademik yang lain. 


Hal yang tidak terpungkiri, segala bentuk dan manifestasi kebangkitan dan pembaharauan di dalam diri, sistem sosial dan institusi Kristen, selalu mensyaratkan rekonstruksi kesadaran menjadi Kristen, yang dibangun lewat Firman Tuhan yang ternarasikan di dalam Alkitab, dan seluruh ajaran Kristen. Jika kita setuju dengan hal itu, maka hal mendasar yang mestinya dilakukan adalah membongkar atau mendekonstruksi kembali, dalam artian kritisi positif, konstruktif dan kontributif, segala bentuk doktrin, tradisi dan warisan Kristen secara lisan atau tertulis itu sendiri terlebih dahulu agar diketahui secara pasti apa sesungguhnya yang telah, sedang, dan yang akan terjadi dari hal-hal yang sering sudah terlanjur dianggap “sakral atau keramat” itu.


Padahal, itu hanya kebiasaan yang sering karena penjagaan ortodoksi yang “dibikin-bikin” sendiri lewat cara indoktrinasi dan berujung pada indoktrinasi kembali pula. Hal seperti inilah yang sering pula tidak disadarai atau tidak tersengaja, atau mungkin saja disengaja secara sistematis. Setelah memahami dengan benar tentang segala sesuatu di dalamnya dan faktor situasi, sosial, politik dan kepentingan di dalamnya kala itu semua dibuat, maka penting dikaji dan dibentuk kembali dengan cara yang lebih segar dan baru.
            

Cara ini penting dimiliki untuk membangun kesadaran diri baru sebagai Kristen, dan menghidupkannya kembali sesuai dengan spirit zamannya disini ini dan sekarang ini, sesuai dengan kebutuhan dan setting sosial dan masalahnya. Hal yang tidak boleh dinegasikan terkait dengan keilmuan Kristen, ternyata masih pada taraf rekonstruksi ilmu-ilmu Kristen, sesuai dengan spirit zaman. Ini terjadi karena memang sesuai dengan tuntutan hari ini saja.
                 

Saya sebagai intelektual Kristen merasa bertanggung jawab secara sosial kepada Tuhan, komunitas masyarakat beragama dan komunitas intelektual Kristen, dan keilmuan Kristen itu sendiri untuk mengkonstruksi ilmu-ilmu kristen, setidaknya agar kita tidak lagi inferior ketika disandingkan dengan keilmuan lainnya dan komunitas masyarakat beragama dan berilmu lainnya. Bagi saya, kali ini hanya bersifat temporer, jika tidak malahan masih bersifat emergensi, yang kita inginkan sebenarnya belum tiba, yakni “Gerakan Intelektual Kristen di Indonesia” dalam berbagai dimensi yang massiv dan eksplosif. Kita para pekerja spiritual, intelektual, dan sosial sedang ditunggu untuk itu. Tentulah penciptaan literatur merupakan salah satu andil yang tidak lagi kecil nilainya untuk merenggut tujuan yang lebih besar itu.

                
Jika sudah demikian, maka  formasi logika atau struktur berpikirnya harus “dibetulkan ulang” terlebih dahulu. Inilah alasan akademiknya materi kajian yang termuat dalam buku ini penting diakumulasi dan dikuasai menjadi separangkat alat berpikir, berilmu, dan bertindak untuk terlibat proaktif dan partisiaktif dalam megaproyek “Gerakan Kebangkitan Intelektual Kristen di Indonesia”. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan langsung, saya melihat bahwa  sekolah tinggi teologi atau pendidikan tinggi keagamaan Kristen dalam ragam level kesarjanaannya akan sangat hakiki sifat dan posisinya untuk diposisikan dan difungsikan dalam proyek  spritual, intelektual dan sosial ini. 


B. Struktur Buku

Ada 7 bagian struktur berpikir yang saya buat sendiri ketika menulis buku ini. Bagian 1, yakni pendahuluan. Saya memposisikannya sebagai peta intelektual dari seluruh isi buku ini. Dengan memahami bagian ini, maka akan mudah tergambar jalan intelektual yang akan ditempuh, dan apa saja gambaran ringkas soal masalah yang terjadi dalam logika dan realitas keilmuan Kristen.


Bagian 2, yakni soal logika. Saya menjelaskan konstruksi logika sebagai alat atau cara berpikir dan bernalar, sekaligus saya menempatkannya sebagai ilmu pengetahuan yang dilihat dari ragam dimensinya. Dengan belajar bagian ini, maka kita akan memiliki struktur berpikir, berilmu dan beriman.


Di bagian 3 yakni bahasa dan kontribusinya. Saya menjelaskan bagaimana posisi sentral bahasa dalam memainkan argumen, baik secara verbal maupun secara tertulis. Lewat bahasalah  logika berpikir akan dapat diukur konsistensi, kontinuitas, kejelasan, kepadatan, memecahkan masalah, mengkonstruksi proposisi, argumen dan mengembangkannya.


Bagian 4, yakni proposisi. Disini saya sedang melakukan pembetulan proses pembentukan kata, term, kalimat, bahasa yang sangat vital dalam berlogika. Dengan mempelajari ini, maka akan  betul dan tepatlah cara kita mengekpresikan hasil proses penalaran kita didalam akal budi kita.
Di bagian 5, yakni keputusan, penalaran, dan penyimpulan. Disini saya sedang menjelaskan bagaimana sebenarnya proses keputusan, penalaran dan cara kita membuat kesimpulan dalam berlogik dan berargumentasi. Dengan mempelajari ini, maka kita akan sangat terbantu untuk membuat dan memilih kalimat-kalimat yang argumentatif dan empiris karena telah melewati proses penyimpulan yang benar.

Bagian 6, yakni salah atau sesat pikir. Di bagian ini saya lebih banyak menjelaskan apa itu salah dan sesat pikir, bagaimana itu terjadi dan klasifikasinya. Dengan mempelajari ini, akan sangat membantu kita untuk mengkritisi secara kreatif-kritis dan kritis kreatif terhadap semua praktek indoktrinasi yang sering kali tidak disadari itulah yang terjadi. Ini mendesak dipelajari untuk membantu kita tidak mudah begitu saja percaya dengan apa yang kita, lihat, terima, dan jumpai dalam kehidupan keilmuan dan keimanan.


Dibagian paling akhir dari buku ini, saya inventarisir sejumlah literatur berbahasa Inggris yang saya baca dan pekerjakan untuk  membantu saya merumuskan apa yang saya inginkan dalam hal cara berlogika yang sedang saya usung lewat buku ini. Sejumlah buku ini bisa dipakai oleh siapa saja untuk dipeiksa dan ditelusuri lebih lanjut untuk membantunya dalam rangka menuliskan atau meciptakan bukunya sendiri.


Itulah poin yang lebih penting dari sekedar diskusi berapi-api, bantah-membantah yang sengit, debat-mendebat yang membara. Meskipun itu semua ada gunanya, tetapi jika hanya puas dan berkeringat disitu saja karena dorongan emosional dan dengan terpacunya adrenalin, maka itu semua tidak akan bisa menghasilkan sesuatu yang kongkrit dalam bentuk karya ilmiah literatur sendiri.


Penting untuk diketahui, bahwa setiap sub-poin akhir dalam setiap bagian buku ini saya selalu membuat poin khusus hubungan antara materi yang dikaji dengan keilmuan Kristen. Ini hanya sebagai cara cerdas akademik dari saya saja untuk sanggup mengkorelasikan dan memposisikan logika ini sebagai kata kerja yang bisa bekerja secara kongkrit dan kontributif. Tujuan saya kait-mengkaitkannya hanya dalam rangka mengkampanyekan penggunaan cara berpikir untuk membantu gerakan kebangkitan intelektual Kristen di Indonesia.


Saya tidak lagi mau, jika logika itu hanya diposisikan dalam bentuk kata benda, yang hanya berupa penjelasan-penjelasan deskriptif atau ekspositoris saja. Jika hanya itu saja, kita hanya konsumer ilmu saja, yang tidak bisa dijadikan sebagai alat kerja intelektual yang operasional. Kini masanya Intelektual Kristen sebagai produser, selamat tinggal mentalitas konsumer, tukang stempel dan tukang stiker keilmuan.


C. Siapa Pembaca Buku Ini?           

Buku ini dikhususkan untuk mahasiswa sekolah tinggi teologi atau pendidikan keagamaan Kristen, khususnya program studi teologi atau PAK, yang ingin mengkonstruksi logika berilmunya di level sarjana S1-S3, tanpa menegasikan khalayak umum lainnya. Buku ini memang cocok bagi mereka yang sadar diri, sadar iman, dan sadar Tuhan itu ada dan penting bagi hidupnya dan orang lain disekitarnya, sehinga ingin mengkritisi dirinya sendiri sebagai Kristen. Kesadaran ini saya harapkan menghasilkan niat atau minat dan tindakan untuk menciptakan cara-cara dan model-model atau multi-pendekatan baru berpikir dan beriman, berilmu dan berteologi secara praksis dalam lingkup akademik dan kesehariannya.


Saya mengharapkan teori dan aksi nilai dan prakteknya menjadi setara. Keduanya haruslah dilakukan dengan cara yang berbeda dan kreatif-kritis atau kritis-kreatif yang belum pernah dirasakan dengan sensasi dan rasa sebelumnya. Dengan memahami hal-hal ini, maka pembaca akan tahu, bahwa memang buku ini ditulis untuk kebutuhan itu, dan bagi pembaca yang sedang mencari-cari buku teks teoritis dan sosio-praksis mata kuliah Logika, anda akan menjumpai disini.


D. Pengakuan        

Buku ini merupakan buku sumber belajar yang saya tulis sendiri menjadi referensi utama bagi mahasiswa di kelas mata kuliah “Logika” sekolah tinggi teologi atau agama Kristen, dimana saya sebagai dosen pengampunya.  Gaya menuturkan, pilihan cara mengekspresikan, pilihan kata-kata yang tidak biasa sengaja saya lakukan disini, sebagai cara “marketing diri dan ilmu” yang sengaja saya pilih untuk “menjebak” atau mengattraksi, sehingga menaikkan tensi kreatif pembacanya, dan mempersuasinya untuk memikirkannya dari sisi yang lain, sehingga pembacanya terlibat secara emosional dan intelektual, lalu ia menulis bukunya sendiri.


Saya mengakui, untuk menulis buku ini saya mengkonsumsi literatur yang terkait dengan filsafat umum dan ilmu logika umum dari bahasa Inggris. Sejumlah literatur tersebut saya kritisi dan rekonstruksi sendiri menjadi pemahaman untuk menciptakan buku logika Kristen, yang memang sedikit bilangannya, khususnya terkait dengan persoalan logika. Artinya referensinya, lebih banyak saya acu secara langsung dari sumber pertama, dan penulis orang pertama, demi mengejar kualitasnya.


Jika mau dirunut kebelakang, sejujur dan sebenarnya kaitannya dengan ide dibalik buku ini, saya sebenarnya hanya karena “tersetrum” sehingga terinduksi dan menjadi sadar diri oleh hasil dari cara berpikir dan pemikiran Intelektual Muslim, Muhammad Abed al-Jabiri. Ia menulis buku yang terkait langsung dengan formasi nalar Arab[1].


Ia yang karena kecintaaannya pada Tuhannya, perdaban dunia Arab dan bangsanya Maroko, dengan sudut pandang kritisnya terhadap segala bentuk tradisi Arab dan Islam menuju pembebasan yang sebelumnya terpenjara dengan ortodoksi, wewenang, otoritas, kekuasaan, politikisasi yang melingkari sejak  awal hingga kini. Disini, saya tidak sedang menjadi pengagum atau pengikut al-Jabiri, tetapi kelebihan orang lain, sangat bijak jika dipekerjakan untuk mengatasi kekurangan lain yang saya miliki.


Kali ini, bagi saya lebih fokus pada kreatifitas-kritis atau kritis-kreatifnya dalam cara berpikir dan berilmu itu sangat mulia, jika dilihat dari niat dan tujuannya. Itulah yang unik dan kontributif untuk bisa saya pekerjakan dalam buku ini, tanpa lagi sibuk memperkarakan “siapa Tuhannya atau Allahnya” atau kebenaranNya dan kesalahanNya. Soal itu, hanya IA yang bisa menjawabnya. Itupun mungkin terjadi ketika kita berjumpa denganNya, sayangnya itu hanya akan terjadi di masa nanti.


Al-Jabiri bertindak karena sadar panggilanNya, sesuai dengan “kapasitasnya.” Ia menggunakan “talentanya” untuk mengkritisi formasi nalar Arab yang ternyata sangat berdampak pada gaya hidup dan orientasi teologis, intelektulis, dan tindakan hidup keseharian bangsa dan dunia mereka, yang sudah terlanjur dianggap Islami.


Padahal, jika semakin dikritisi, ternyata lebih banyak hanya sebagai budaya, kebiasan, dan adat-istiadat lokal Arab dan suku yang mengitarinya saja, yang sering tidak ada sama sekalii hubungannya dengan agama. Parahnya, semua keterlanjuran itu menjadi cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan “orang lian”. Kaitannya dengan Kristen, hanya berbeda lokasi, identitas teologis, dan ekspresi atau selebrasi keAgamaan atau keTuhanannya, tetapi komplikasi persoalan dan impaknya dalam segala bidangnya tidak ada bedanya. Yang berbeda cuman terminologi atau bahasa-bahasa dan para penggunanya saja.


Sejak periode awal sejarah Islam, pemikiran Arab telah didominasi oleh penghormatan atau penjagaan tradisi dan analisis tekstual. Dalam karya yang kreatif-kritsi-inovatif, filsuf dunia Arab kontemporer Mohammed Abed Al-Jabiri berusaha untuk memetakan rute menuju modernitas melalui proposisi bahwa menghormati textualism dan tradisi tidak bertentangan dengan logika atau rasionalisme. Baik sejarah dan filsafat adalah kunci untuk evolusi sistem pengetahuan dan cara penalaran dalam budaya Arab.



Terlepas dari apa yang ada dibalik pemikirannya, dan reaksi terhadapnya, pemikirannya telah menjadi pengaruh besar dalam dunia Arab pada Islam dan wacana modernitas. Semangat inilah yang ingin saya hidupkan disini dan bertujuan untuk memberikan wawasan yang menarik ke dalam arus pemikiran Kristen kontemporer. Tetapi saya tidak sedang mengatakan agama atau Tuhan bisa diterima ketika itu rasional. Tetapi sama dengan maksud dari Roger Trigg harus ada rasionalitas dalam agama[2]. Saya ingin menegaskannya, yang saya maksudkan adalah cara, ekspersi dan selebrasi kita beragama atau berTuhan dan berilmu harus dengan cara yang rasional, dalam arti bisa dijelaskan dan diterima akal sehat dan oleh orang yang sehat.


E. DAFTAR ISI

Bagian 1: PENDAHULUAN 
A.     Apa yang Didiskusikan Disini, Mengapa?
B.     Struktur Buku
C.     Siapa Pembaca Buku Ini?
D.     Pengakuan
E.     Ucapan Terima Kasih 

Bagian 2: LOGIKA 
           A.     Berikan Perhatianmu!
B.     Historisitas Logika
C.      Definisi Logika
D.     Cara Memposisikan Logika
E.      Pentingnya Belajar Logika
F.      Hubungan Logika dengan Keilmuan Kristen

Bagian 3: BAHASA DAN KONTRIBUSINYA 
           A.    Berikan Perhatianmu!
B.    Ciri Khas Bahasa secara Generik
C.     Hubungan Bahasa-Logika dengan Keilmuan Kristen

Bagian 4: PROPOSISI
A.    Berikan Perhatianmu!
B.    Definisi Proposisi
C.    Proposisi Kategoris
D.    Proposisi Hipotesis
E.     Hubungan Proposisi dengan Keilmuan Kristen   

Bagian 5: KEPUTUSAN, PENALARAN, DAN PENYIMPULAN
A.    Berikan Perhatianmu!
B.    Penalaran
C.    Penyimpulan
D.    Hubungan Keputusan, Penalaran, dan Penyimpulan dengan Keilmuan Kristen

Bagian 6: SALAH ATAU SESAT BERPIKIR
A.   Berikan Perhatianmu!
B.   Defenisi Salah atau Sesat Berpikir
C.   Sejumlah Alasan Penyebab dan Akibat Salah atau Sesat Berpikir
D.   Salah atau Sesat Berpikir Formal
E.    Salah atau Sesat Berpikir Informal
F.    Hubungan Salah atau Sesat Berpikir dengan Keilmuan Kristen

Bagian 7: DAFTAR PUSTAKA


F. Legalitas dan Identitas Buku:

Penulis    : “Bang” Elia Tambunan, S.Th., M.Pd.

Judul       : Mempekerjakan Logika: Merekonstruksi Cara Berpikir Menuju Kebangkitan  Intelektual Kristen

ISBN      :  978-602-99935-6-1 (Resmi di Katalog Dalam Terbitan Perpustakaan Nasional R.I-Jakarta)

Penerbit   : illumiNation, Yogyakarta
Tahun      : Desember, 2011
Harga      : Rp. 30.000., (tambah ongkos kirim)
Kategori  : Logika, Pendidikan Agama dan Teologi Kristen





[1]Mohammad Abed al-Jabri, The Formation of Arab Reason: Text, Tradition and the Construction of  Modernity in the Arab World (London: I.B.Tauris & Co. Ltd., 2011), h. 31. 

[2]Roger Trigg, Rationality and Religion (Malden, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1998), h. 1-7.