Wednesday, October 5, 2011

Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Multikultural: Rekonstruksi Teori ke Sosio-Praksis

Keterangan Isi Buku:

        Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Multikultural: Rekonstruksi Teori ke Sosio-Praksis, inilah fokus issu disini. Karena itu, saya sedang bertanya, apakah memang benar selama ini kita telah mempraktekkan pendidikan agama Kristen secara teologis, sosiologis, dan akademis? Pertanyaan ini di arahkan untuk menciptakan motiv baru untuk memperluas wilayah kajian PAK terbaru dari spirit dan sisi sosio-praksis edukasinya. Dimensi pendidikan multikultural selama ini yang hanya dari sisi teologis dan edukasi PAKnya saja, tidak lagi bisa demikian. Hal itu hanya mengkaji soal konsep alamiah atau naturalisme multietnik belum sampai pada dinamika sosial, perubahan sosial, bahkan tensi kreatif dan tensi konflik didalamnya dengan cara melihat dari dalam kedua komunitas masyarakat beragama itu.
                Kini semua orang sedang asik membicarakan issu multikulturalisme dengan berbagai sebutan, sejak akhir dekade 1960an dan awal 1970an. Tapi issunya fokus pada pengakuan hak-hak hidup politik, sosial, budaya dan agama, sebagai warga  warga negara yang sah. Dibelahan dunia yang lain Eropa, Amerika, dan Australia migran atau keturunan, issu ini malahan memarginalisasikan mereka dalam banyak hal.
               Jika pendidikan multikultural di Barat, sebagai kritik terhadap perasaan superior dan sentralitas keturunan Eropa atau biasa disebut eurocentric (secara genealogis ras berkulit putih). Ini menjadi instrumen kritik terhadap monokultur keturunan dan geneologis Eropa. Kontras dengan setting sosial di Indonesia. Kita bukan lagi soal konflik etnisitas. Secara realitas historis, sedari dulu jika dilihat dari konsep “indigenous people” atau orang asli Indonesia (saya: bermaksud status warga negara, bukan urutan kronologis genealogisnya), “orang Indonesia” telah ada di kepulauan nusantara ini, bahkan sebelum kita berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan jauh sebelum bentuk negara Barat itu ada.
          Indonesia salah satu negara yang tidak “tergoncang” soal migran, “slavery” atau perbudakan, levelitisme “kasta sosial,” pendatang atau yang didatangi, tuan dan majikan, yang sangat tajam issunya di Barat, tidak terlalu merisaukan disini. Karena itu, tidak serta merta bisa mengadopsi teori dan pemikiran Barat secara sosio-praksis.
            Disini, kita sedang “menuntut” kesahihan atau kebebasan sosio-praksis terkait dengan hak hidup beragama lengkap dengan ekspresi keberagamaanya, yang belum benar-benar diakui atau dibebaskan dalam artian sebenarnya. Artinya persoalan kita khususnya Islam dan Kristen, bukan teori dan pemikiran, juga bukan lagi soal legalitas hukum dan jaminan perlindungannya, dan juga bukan soal hak-hak politik seperti di negara Barat tadi.
          Persoalan besar kita disini, telah berhasil menciptakan konflik berlinang darah. Ini ekses dari cara-caramengekspresikan kebebasan beragama yang memang diakui dalam realitas multikulturalisme dan pluralisme. Diperburuk lagi dengan konsep ummah atau jemaah, dakwah, syiar, jihad teologis dari komunitas masyarakat beragama Islam. Ekklesiologi, missiologi di komunitas masyarakat beragama Kristen. Hal ini semakin bergelimangan darah terkait soal issu konversi atau pondah-pindah agama diantara keduanya. Ditambah dengan semakin menaiknya perasaan “majority minded.” Akibatnya, ada perasaan yang menguat, bahwa yang lebih banyaklah yang selalu harus menang.” Di lain pihak, diperparah dengan perasaan superior teologi dan teologi superior. Bahkan, ada pemikiran lain, bahwa munculnya terorisme sosial dan intimidasi sosial karena tidak mengakui multikulturalisme, tetapi ternyata sebagai upaya penyeragaman, yang sering akan diseragamkan dibawah ikatan hukum agamanya si penyeragam.
            Menimbang realitas ini, issu agama, dan etnisitas masih dianggap sebagai pusat konfliknya, tetapi tampaknya sisi politisnyalah yang menguat. Akibatnya ini menjadi tensi dan konflik diantara keduanya, maka lahir pulalah terorisme sosial dan intimidasi sosial, yang makin biasa kita nikmati akhir-akhir ini. Disinilah tugas edukasi dan eduaksi dari PAK untuk menaikkan kesadaran kritis di pihak Kristen agar tercapai “pendidikan multikulturalisme dan pluralisme.” Agar memahami secara proporsional, mau tidak mau PAK harus memperluas wilayah kajiannya memasuki komunitas masyarakat beragama Islam, selain dirinya sendiri. Disinilah fungsi dan kelebihan Islamic Studies di buku ini bisa dipekerjakan, bukan lagi Islamologi seperti cara tradisional selama ini.
        PAK sedang membutuhkan revolusi atau progresivitas secara kritis dengan pendidikan kritis pendidikan multikulturalisme, dan hanya itulah metodologi kerja akademiknya. Disinilah ekspektasi tinggi dialamtkan kepada PAK. Ia dituntut untuk berevolusi atau menunjukkan progresivitas untuk menghasilkan kesepahaman dan kesalingberterimaan untuk sanggup hidup bersama atau “living together” dalam artian yang sebenarnya diantara Islam dan Kristen.
          Jika saja, kita mau mengkritisi dimensi pengajaran PAK dari PL, secara general bahkan tidak “mengakui” multikulturalisme dan pluralisme. Bahkan, terjadinya multikulturalisme kala itu (dalam artian jumlah, bukan realitas) adalah karena hukuman ALLAH karena kesombongan manusia, bukan karena perjanjian atau covenant denganNYA. Di lain pihak, sesuai dengan spirit dan sistem pemerintahan di kala itu, bangsa Ibrani atau Israel dilarang keras untuk kawin mawin dan hidup bersama, dan berdampingan bersama dengan bangsa Samaria, dan diluar Israel di kala itu, apalagi jika sudah berbicara soal urusan teologi, ketuhanan dan cara-caranya.
            Ini menjadi pertimbangan kritis dan krusial ketika berbicara pendidikan multikultural dan plural lewat kaca mata teologis PAK. Bahkan Yesus sendiri saja, “seakan-akan” menangguhkan kepada murid-muridnya keluar dari wilayah homogen atau satu etnik atau satu wilayah saja. Artinya wilayah garapan pendidikan yang multi dan plural itu sejak PL hingga PB di ayat itu sangat terbatasi. Tentu hal ini dengan alasan dan argumentasi yang sangat spesial dan menyangkut dari otoritasi dan kedaulatanNYA sendiri. Artinya hanya bangsa didalam ibrani atau Yahudi di Israellah yang menjadi sasaran eduaksinya di kala itu. hal itulah yang menyebabkan pendidikan sebelumnya bersifat mono, dan berentitas tunggal semata.
        Jika sudah demikian, maka PAK dituntut untuk sanggup memberikan analisis mendalam dan komprehensif soal latar belakang yang kuat dalam isu-isu konseptual, teoritis, dan filsafat dalam pendidikan multikultural. Jika demikian, maka PAK juga dituntut untuk sampai bisa pada strategi mengajar untuk studi etnis dengan cara etnis itu melihat dirinya sendiri, bukan dengan caranya PAK itu. PAK juga sedang terpanggil untuk membantu memberikan pemahaman perkembangan teoritis, konseptual, dan penelitian baru di lapangan.
          Sialnya, hingga hari ini PAK belum banyak memiliki cerdik pandai untuk itu dan belum juga melakukan penelitian dalam berbagai disiplin sebagai tindakan untuk merekonstruksi dasar pendidikan multikultural dari sisi Kristen. Sayangnya, PAK memang belum sampai kesana. Buku ini memberikan perkembangan baru dalam teori dan cara pergi ke penelitian yang berkaitan dengan ras, budaya, etnis, dan bahasa. Buku ini berkontribusi soal ini untuk menawarkan hasil analisis secara teori, pemikiran, dan sosio-praksis secara positif, realitis dan berimbang, khususnya ke dimensi terdalam di dalam diri dan komunitas masyarakat beragama Islam dan Kristen.
           
Struktur Pemikiran Buku
             Bab I, kita sedang melakukan kritik sosiologi terhadap teologi agar ia merekonstruksi ajarannya, soal pendidikan, agama, dan komunitas masyarakat Kristen. Tampaknya, sudah waktunya untuk merubuhkan tembok besar Missiologi, Ekklesiologi untuk bisa hidup bersama dalam setting sosio-teologis.       Bab II, saatnya PAK untuk mengkritis transformasi hukum agama, aturan organisasional dan denominasional yang semakin giat diformatisasikan menjadi regulasi dan legislasi sosial. Ternya inilah faktor terkuat sebabkan terorisme sosial dan intimidasi sosial. Hal itu semakin diperburuk dengan doktrin purifikasi teologi.
            Menguatnya hal itu seakan melupakan bahwa kita hidup bersama di negara ini, tidak ada si Goliath yang besar atau si Daud yang “kicil” disini. Padahal, kita berdua si IS dan si KRIS, diasuh dan disusui oleh ibu pertiwi yang sama dan satu. Kita berdua seharusnya melakukan purifiaksi hidup dan sosial, seperti yang dijelaskan di bab III. Bab IV Aksi inilah yang sebaiknya dipekerjakan PAK untuk “mengedukasi dan mengeduaksi” masyarakatnya. Sehingga hasilnya bisa dipakai untuk mengembangkan model PAK yang bisa “klik” dan “fit” dengan masyarakat, entah siapapun dia, itulah keinginan kita di Bab V.
           
Siapa Pembaca Buku Ini?         
                 Buku ini sangat penting untuk mahasiswa S1-S3 di pendidikan tinggi teologi atau agama Kristen dalam memposisikan dan mempekerjakan pendidikan agama Kristen dalam realitas masyarakat multikultural dan agama yang plural menjadi kerangka kerja analisis akademik agar berhasil di dalam kelas, tetapi juga sukses dalam realitas. Inilah yang bisa dipakai untuk membantu mahasiswa memahami multikulturalisme dan  pluralisme dan kompleksitas persoalan latar belakang pemahaman terhadapnya, dan prokonsepsi teologis, kadang dicampur-bauri dengan orientasi dan cara berbudaya.
            Bagi masyarakat Kristen yang lebih luas, juga dimintai pertangggung jawaban sosialnya disini untuk tidak menghilangkan sistem nilai teologis Kristen yang dikonstruksi dan diakumulasi dari pengajaran gereja masing-masing. Tetapi penting pula untuk sadar sosiologis, ketika ajaran itu menyalahi realitas sosial, yang menyimpang bukan ajarannya, tetapi caranya untuk memposisikan itu menurut setting sosial dimana masyarakat Kristen itu hidup bersosialisasi dan mensosialisasikan TUHAN ALLAHnya.
             Jika sudah sampai demikian, maka kita akan bisa merancang dan menerapkan strategi pengajaran yang efektif yang mencerminkan keragaman etnis dan budaya. Hasilnya bisa kita siapkan untuk mempersiapkan sebuah pedoman dalam membangun program edukasi yang multikultural dalam teori, pemikiran, dan praksisnya. Jika memang kita bersedia, maka yang dituntut dari Kristen adalah kemauan secara ikhlas dan tulus menunjukkan tindakan sosial kongkrit yang bisa mendidik untuk itu. Bagi kita itu benar, bahkan dengan kebisaan ini pulalah, maka kita bisa mendesain dan mengembangkan program-program pendidikan dan sosio-praksisnya yang berkaitan erat dengan keragaman manusia lengkap dengan segala dimensi diversititasnya.

Pengakuan      
            Buku ini merupakan buku sumber dan pegangan yang saya rekonstruksi sendiri menjadi referensi utama bagi mahasiswa di kelas mata kuliah “PAK dalam Masyrakat Majemuk” di sekolah tinggi teologi atau agama Kristen, dimana saya sebagai dosen pengampunya. Tentulah banyak separasi, komparasi, dan gaya menuturkan lewat pilihan cara mengekspresikan atau pilihan kata-kata, dalam memposisikan issu dalam tulisan. Ini hanya cara yang sengaja saya pilih untuk menaikkan tensi kreatif pembacanya, dan mempersuasinya untuk memikirkannya dari sisi yang lain, sehingga pembacanya terlibat secara emosional dan intelektual.
            Bahkan, saya memilih menggunakan kata ganti personal pertama “saya” ketimbang kaga ganti ketiga “penulis”, dengan maksud mendekatkan dialog interaktif antara saya dengan pembaca, bukan karena alasan subjektif. Subjektifitaspun bukan diukur dengan penggunaan dan pemilihan kata subjek saya atau penulis, tetapi lewat validitas dan reabilitas data dan fakta. Intinya, lewat tulisan ini saya hanya ingin lebih dekat sebagai sahabat dan teman sejawat dan teman pembaca.
            Saya mengakui, untuk menulis buku ini saya meminjam dan mempekerjakan ilmu pendidikan umum, tetapi juga pendidikan Kristen dari “hasil pemikiran akademik” dan “literatur dalam level seorang akademisi dan praktisi” berbahasa Inggris yang mereka hasilkan, dan dari penutur berbahasa Indonesia. Artinya referensinya, memang lebih banyak saya acu secara langsung dari sumber pertama, dan penulis orang pertama. Tetapi saya kembangkan sendiri untuk mendukung konstruksi teoritik dan sosio-praksis yang saya gagas.
            Ini sengaja saya lakukan demi menjaga kualitas dan kesahihan referensi sebuah “academic writing” dan buku teks akademik saja. Tetapi karena yang fokus saya soroti adalah komunitas masyarakat beragama Islam dan Kristen, maka banyak juga literatur Indonesia yang saya acu. Ini memang harus demikian, karena setting sosial dan lingkup masalahnya adalah diantara Islam dan Kristen, sudah seharusnya literaturnya terkait itu.
            Latar belakang teoritis dan pemikiran saya kembangkan dari hasil pemikiran dan penelitiannya James A. Banks. Professor James A. Bank adalah Ketua Studi Keragaman dan Direktur Pusat Pendidikan Multikultural di University of Washington, Seattle.  Dia adalah mantan presiden American Educational Research Association (AERA) dan Dewan Nasional untuk Studi Sosial (NCSS). Dia adalah anggota Akademi Nasional Pendidikan. Profesor Bank adalah spesialis dalam pendidikan multikultural, kajian etnis,dan pendidikan ilmu sosial. Ia seorang  Pofesor dan periset pemegang gelar doktor kehormatan dari lima perguruan tinggi dan universitas dan The UCLA Medal dari University of California, Los Angeles,dewan kehormatan tertinggi di Universitas itu. Ia juga Profesor Tamu di Columbia University.
            Sayangnya, karena ia lebih fokus dalam persoalan multikultural masyarakat Amerika yang memiliki karakteristik masalahnya tersendiri, yang tidak sama dengan setting sosial Indonesia. Lagipula apa yang dijelaskan Banks, lebih cocok saya posisikan sebagai kerang metodologi berpikir saja. Itu tidak sesua ketika berbicara soal sosio-praksisnya di Indonesai, yang lebih banyak soal tensi dan konflik “individu dan kelompok” dalam komunitas masyarakat beraagama, bukan warga negara seperti yang bayak disoroti Banks, dan pemikir dan praktisi pendidikan multikultural Barat lainnya. Karenanya, saya lebih senang mengembangkan dan melokalisasikan issu ini lebih khusus kedalam komunitas masyarakat beragama Islam dan Kristen, sebagai fokus analisisnya. Intinya, realitas faktual yang terjadi di Indonesia, menurut saya penting untuk merekonstruksi kembali soal pendidikan keberagamaannya secara teori, pemikiran, apalagi jika terkait langsung dengan sosio-praksisnya.
            Mungkin juga ada saja data dan fakta terbaru soal pendidikan Kristen terbaru yang terlewatkan di buku ini. Tetapi, perbedaan dan ketidaktercantuman data dan fakta (termasuk salah ketik) itu merupakan peluang untuk saling mengkritisi, mendekonstruksi, dan merekonstruksi secara konstruktif dalam artian sejatinya. Tetapi apapun itu, tetaplah seharusnya diargumentasikan secara empiris dan bisa ditangungjawabi dipublikasi buku lain. Meskipun cara pandang kita berangkat dari sisi yang  berbeda, tetapi tujuan akhir kita adalah sebagai komunitas masyarakat beragama Islam dan Kristen lewat pendidikan agamanya harus sampai bisa hidup bersama dengan yang lain, tidak menjadi soal status teologi, sosiologis dan intelektualnya, termasuk fisik dan etnisitasnya. Selamat melakukannya dan selamat membaca!

Elia Tambunan

Yogyakarta, 24 Agustus 2011


DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                    

BAB I
KRITIK SOSIOLOGI TERHADAP TEOLOGI UNTUK  “mengiluminasi” MASYARAKAT MULTIKULTURAL
A. Rekonstruksi Ulang Pendidikan Agama Kristen
1. Pendidikan: Proses Edukasi ke Eduaksi
2. Agama: Bukan Doktrin, tetapi Ilmu
3. Masyarakat Kristen: Bukan Objek tetapi Subjek
B. Rubuhkan Tembok Besar Missiologi, Ekklesiologi, Bangunlah Sosio-Teologi  

BAB II
TRANSFORMASI AGAMA MENJADI REGULASI 
DAN LEGISLASI “sebabkan” TERORISME SOSIAL DAN INTIMIDASI SOSIAL
A. Regulasi dan Legislasi Konstitusionalmenjadi Hukum Agama
B.  Regulasi dan Legislasi Sosial menjadi Organisasional dan Denominasional
C. Transformasi Agama menjadi Regulasi dan Legislasi sebabkan Terorisme dan Intimidasi Sosia

BAB III
REALITAS MASYARAKAT MULTIKULTURAL “living together” DI INDONESIA
A. Islam dan Kristen juga Manusia, Itu Realitas
B. Sesama Manusia harus Hidup Bersama
C. Murnikan Kembali Doktrin Purifikasi Teologi Lakukan Purifiaksi Hidup dan Sosial

BAB IV
PAK “mengedukasi dan mengeduaksi” MASYARAKAT MULTIKULTURAL
A. Pendidikan Masyarakat Multikultural dan Agama Plural
B.  Prinsip-Prinsip PAK
C. Pendekatan PAK
D. Strategi PAK

BAB V
PENGEMBANGAN MODEL PAK “klik” dan “fit” DENGAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL
A. Meregangkan Wilayah Kajian PAK
B.  Bukan lagi PAK tetapi AKP
C. Tinggalkan Islamologi Masuki Islamic Studies
D. Lupakan Pedagogi: Gunakan Andragogi

DAFTAR PUSTAKA

Legalitas dan Identitas Buku:
Penulis    : Elia Tambunan, S.Th (PAK)., M.Pd.
Judul       : Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Multikultural:
                     Rekonstruksi Teori ke Sosio-Praksis
ISBN        : 978-602-99935-2-3 (Resmi di Katalog Dalam Terbitan Perpustakaan Nasional R.I
Penerbit : illumiNation, Yogyakarta
Tahun      : Agustus, 2011
Harga      : Rp. 38.000., (tambah ongkos kirim)
Kategori : Pendidikan Agama, Masyarakat, Kristen, Islam, Multikulturalisme dan Pluralisme

Sunday, September 18, 2011

Sebagai Guru Kristen: Bagaimana Metode Mengajar?

Keterangan Isi Buku:

SEBAGAI GURU KRISTEN: Bagaimana metode mengajarnya? Ini adalah ketrampilan secara lengkap bagaimana sesungguhnya mengajar? Atau “how to teach?” Artinya, guru adalah pusat perhatian disini. Buku ini menyediakan metode dan ketrampilan mengajar secara lengkap agar guru Kristen memahami dengan benar bagaimana sesungguhnya mengajar dan panggilan atau tanggung jawab sosialnya untuk mengajar.
       Guru Kristen bertanggung jawab sosialnya untuk mengajar untuk itulah ia belajar dan diajar sebelumnya. IA penting mengakumulasi berbagai kecakapan teknis atau metodis dan sosio-praksis. Itu sebagai faktor penting dalam panggilannya untuk mengajar di sekolah dan Gereja Kristen. Bagiamana guru melakukan  mandatnya, dan bagaimana dampaknya sosialnya? Bagaimana keterlibatan siswa dan komunitas masyarakat beragama Kristen di dalam pendidikan Kristen secara proaktif? Bagaimana cara mengevaluasi itu semua? Pertanyaan itu menggugah dan menggugat kesadaran kritis guru sehingga muncul kreatifitasnya untuk merevolusi diri sendiri dan metode mengajar guru tersebut. Jawabannya ada dalam buku ini.
            Yesus bisa menjadi teladan disini. Yesua “dimatikan” di salib bukan karena cintaNya kepada teks-teks Kitab Suci. Tetapi karena mempertontonkan pengajaranNya kepada khalayak ramai, dan hidup sama persis seperti apa yang diajarkanNya dan tetapt seperti terdokumentasi dalam Kitab Suci. Yesus bukan mati Ia juga bukan karena IA menjaga-jaga kemurnian atau ortodoksi doktrin dari pengajaranNya. Tetapi karena IA menggunakan pengajaranNya mengubah hati dan hidup orang banyak, yang belum pernah terjadi sebelumnya.
            IA pantas dan tepat menjadi role model bagi guru Kristen sebagai Guru dan Hamba, sekaligus siswa dari GURU dan BAPANYA. Kini, guru Kristen bukan lagi hanya  guru bagi siswanya. Tetapi, ia juga sebagai guru masyarakat dan komunitasnya. Guru Kristen menjadi panduan yang hidup bagi siswa dan masyarakat untuk hidup secara spiritual, sosial, dan intelektual sesuai dengan Firman Allah yang diajarkannya.
        Buku ini merupakan pasangan intim dari buku “Gereja sebagai Komunitas Edukasi: Bagaimana Melakukannya?” yang juga saya tulis senidiri. Artinya kedua buku ini menjadi partner yang tidak boleh diceraikan. Saya sengaja desain sendiri buku ini bagi guru Kristen, secara partikular dalam sistem persekolahan, tetapi juga sistem pelayanan, pengajaran di Gereja Kristen. Saya menjelaskan ini berdasarkan pendekatan teoritis dan pengalaman empiris dari sudut sosiologi mengajar di pendidikan keagamaan Kristen. Ini membantu mereka yang berniat dan berminat mengajar dan belajar bersama dengan siswanya semangat revolusionis dan progressif. Bagi guru Kristen metode mengajar ini akan bisa bekerja membantunya lebih banyak, jika ia rela untuk mempekerjakannya. Lewat buku ini guru Kristen dipersuasi untuk mengeksplorasi bagaimana cara mengajar yang terbaik untuk siswanya, bukan lagi untuk dirinya sendiri.
         Bagi siswa proses mengajar seperti ini akan membantu dan menemani mereka untuk menemukan sendiri cara belajarnya yang terunik dan khas miliknya sendiri, dan yang paling menyenangkan baginya. Kesenangan belajar ini akan menolongnya menjadi Kristen yang mengerti dan hidup dalam kekristenan yang ia dapatkan dari hasil pengajaran disekolah dan digereja. Lewat proses belajar ini pula, ia sendiri akan menemukan karakternya sendiri seperti karakter Kristus agar mereka hidup berkarakter Kristen. Lewat pengajaran guru, mereka akan menemukan, bahwa betapa sukar dan sengsaranya siswa yang tidak atau belum menemukan Yesus sebagai juruselamatnya dalam proses pengajaran lewat muatan atau isi materi yang dipelajarinya bersama dengan gurunya.

Siapa Pembaca Buku Ini?         
            Buku ini dikhususkan untuk Mahasiswa sekolah tinggi teologi atau agama, khususnya program studi PAK dan Teologi S1-S3, yang ingin menjadi guru Kristen. Ini bermanfaat untuk mengkonstruksi kompetensi dalam panggilan, pelayanan pengajaran yang edukatif. Buku ini  membantu anda untuk mengkritisi dan menciptakan metode baru untuk mengajar di sekolah dan digereja Ini adalah buku teks akademik secara teoritis, pemikiran dan  praksis.
        Buku ini saya sangat generik dalam artian bisa dipergunakan di tingkat satuan pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi, juga di gereja. Tetapi juga bersifat partikular karena ini sebagai buku kerja akademik dalam  proses bagaimana mengajar. Hal itu demikian agar bisa diapplikasikan kesuruh dimensi pendidikan dan pelayanan agama Kristen dimana saja.
            Saya menyediakan ini sebagai bantuan untuk menggugat dan menggugah diri sendiri. Apakah semua pengetahuan terkait dengan sistem pedagogiknya telah kontributif terhadap karakteristik, kebutuhan, pengalaman dan realitas kehidupan siswa di sekolah, jemaat di gereja, dan di masyarakat? Jika anda spesialis pembelajaran pendidikan Kristen di sekolah dan di pendidikan tinggi, atau di gereja yakni perancang kurikulum nasional dan institusional, pengembang metodologi, proses, isi dan materi pendidikan Kristen, terkait dengan metode mengajar inilah buku teks yang tepat sebagai buku referensi utama. Ini membantu anda untuk bisa merancang sendiri pendidikan Kristen kearah yang lebih baru secara teori, pemikiran dan praksisnya.
           
Pengakuan      
          Buku ini merupakan buku sumber dan pegangan yang saya rekonstruksi sendiri menjadi referensi utama bagi mahasiswa di kelas mata kuliah “Mentode Mengajar” di sekolah tinggi teologi atau agama Kristen, dimana saya sebagai dosen pengampunya. Tentulah banyak separasi, komparasi, dan gaya menuturkan lewat pilihan cara mengekspresikan atau pilihan kata-kata, dalam memposisikan issu dalam tulisan. Ini hanya cara yang sengaja saya pilih untuk menaikkan tensi kreatif pembacanya, dan mempersuasinya untuk memikirkannya dari sisi yang lain, sehingga pembacanya terlibat secara emosional dan intelektual.
            Bahkan, saya memilih menggunakan kata ganti personal pertama “saya” ketimbang kaga ganti ketiga “penulis”, dengan maksud mendekatkan dialog interaktif antara saya dengan pembaca, bukan karena alasan subjektif. Subjektifitaspun bukan diukur dengan penggunaan dan pemilihan kata subjek saya atau penulis, tetapi lewat validitas dan reabilitas data dan fakta. Intinya, lewat tulisan ini saya hanya ingin lebih dekat sebagai sahabat dan teman sejawat dan teman pembaca.
           Saya mengakui, untuk menulis buku ini saya meminjam dan mempekerjakan ilmu pendidikan umum, tetapi juga pendidikan Kristen. Hanya dua footnote dari buku ini berbahasa Indonesia. Selebihnya saya kembangkan sendiri dari “hasil pemikiran akademik” dan “literatur dalam level seorang akademisi dan praktisi” berbahasa Inggris yang mereka hasilkan. Artinya footnote atau referensinya, lebih banyak saya acu secara langsung dari sumber pertama, dan penulis orang pertama. Ini sengaja saya lakukan demi menjaga kualitas dan kesahihan referensi sebuah “academic writing” dan buku teks akademik saja.
         Latar belakang teoritis dan pemikiran pengajaran yang membangun dan mengembangkan karakter yang baik saya memposisikan dan mengembangkan diri dari  pemikiran dari Thomas Lickona, Ph.D. IA adalah seorang psikolog perkembangan dan Profesor pendidikan di SUNY- State University of New York di Cortland. Disana ia telah melakukan pekerjaan yang memenangkan penghargaan dalam pendidikan guru. Dia juga menjadi seorang dosen tamu atau visiting professor at Boston and Harvard Universities. Ia pernah menjadi seorang presiden dari Asosiasi Pendidikan Moral, Dewan Direksi dari Kemitraan Pendidikan Karakter di SUNY.
            Ia adalah konsultan sekolah-sekolah tentang pendidikan karakter dan pembicara di konferensi untuk guru, orang tua, pendidik agama, dan kelompok-kelompok lain yang peduli tentang perkembangan moral orang muda. Dia menjadi dosen “lintas” di beberapa universitas Amerika Serikat dan dunia pada subyek pembinaan pengembangan karakter di sekolah dan rumah. Sayangnya, ia lebih fokus menulis secara umum. Oleh karena itu, saya mengembangkan dan melokalisasikan kepada bagaimana cara guru Kristen untuk mendidik, membangun dan mengembangkan karakter siswa di sekolah dan di jemaat untuk memiliki karakter Kristus.
           Mungkin juga ada saja data dan fakta terbaru soal pendidikan Kristen terbaru yang terlewatkan di buku ini. Tetapi, perbedaan dan ketidaktercantuman data dan fakta (termasuk salah ketik) itu merupakan peluang untuk saling mengkritisi, mendekonstruksi, dan merekonstruksi secara konstruktif dalam artian sejatinya. Tetapi apapun itu, tetaplah seharusnya diargumentasikan secara empiris dan bisa dipertangungjawabkan lewat publikasi buku lain.
          Meskipun cara pandang kita berangkat dari sisi yang  berbeda, tetapi motiv dan tujuan akhir kita adalah sebagai pendidik Kristen yang melayani pekerjaan spiritual, berbasis sosial dan intelektual. Sehingga sekolah dan gereja menghasilkan manusia yang berkarakter Kritus dan Kristen sejati. Selamat melakukannya dan selamat membaca!


DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I
PROSES BELAJAR PROAKTIF DAN PARTISIPASIF
A. Filsafat Mengajar
1.  Dasar Teologis dan Sosiologis
2.  Kompetensi Guru Kristen
B.  Siswa sebagai Fokus Perhatian Mengajar
C. Mengajar Pertumbuhan Karakteristik Spiritual dan Intelektual

BAB II
MENGAJAR SAMA NILAINYA DENGAN BELAJAR
A. Perencanaan Mengajar
B. Metode Mengajar
C. Teknologi Mengajar dari Tuhan untuk Tuhan
D. Analisis Kesulitan dan Hasil Mengajar

BAB III
EVALUASI MENGAJAR
A. Evaluasi Guru dan sekolah
B.  Evaluasi Gereja dan Pengajarannya
C. Evaluasi Keterlibatan Masyarakat Kristen

Daftar Pustaka

Legalitas dan Identitas Buku:
Penulis    : Elia Tambunan, S.Th (PAK)., M.Pd.
Judul       : Sebagai Guru Kristen: Bagaimana Metode Mengajar?
ISBN       : 978-602-99935-2-3 (Resmi di Katalog Dalam Terbitan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia)
Penerbit   : illumiNation, Yogyakarta
Tahun     : Agustus, 2011
Harga      : Rp. 35.000., (tambah ongkos kirim).
Kategori  : PAK, Gereja, Pendidikan, dan Perencanan, Teori, Praktek, dan Evaluasi Mengajar

Monday, September 12, 2011

Gereja sebagai Komunitas Edukasi: Bagaimana Melakukannya?

Mengapa Kita Membicarakan Ini?
           Gereja sebagai Komunitas Edukasi: Bagaimana Melakukannya? Ini yang sedang saya jelaskan disini. Mengapa kita menghabiskan energi untuk membicarakannya? Apa kepentingan, tujuan untuk menjelaskan soal itu? Saya hanya ingin “menggiring” konsentrasi kita tertuju pada pertanyan dasar dibuku ini: “bagaimana melakukannya atau how to do it?”
    Terlihat sangat sederhana dan biarkanlah sesimple itu. Tetapi bagaimana sebenarnya dasar pemahamannya? Bagaimana metodologi pelayanan untuk melakukannya? Bagaimana model-model yang diinginkan sesuai dengan realitas dan spirit zaman postmodernitas seperti saat ini? Bagaimana tangggung jawab sosial gereja, jemaat terhadap Tuhan dan komunitas masyarakat beragama Kristen dan di luarnya yang hidup dalam kenyataannya kita jumpai sudah multikultural dan plural?
        Terlepas dari semua itu, intinya saya ingin mempromosikan gagasan the church as learning and community center.” Artinya, Gereja sebagai pusat komunitas beragama Kristen yang intelektual dan intelektual yang Kristen, serta sebagai pusat pembelajaran yang komprehensif untuk pendidikan Kristen. Pemahaman ini penting untuk menuntun pelaku dan penggiat PAK gereja lokal melakukannya di dalam gereja agar dilakukan juga secara komprehensif. Jika kita sepakat dengan itu, bahwa dalam seluruh dimensi pelayanannya, baik administrasi, penjangkauan, dan pendampingan pastoral, gereja berfungsi sebagai komunitas belajar, bukan lagi hanya komunitas orang beiman secara tologis semata. Kapanpun dan dimanapun orang-orang Kristen sedang dibentuk menjadi gambaran Yesus Kristus melalui pelayanan, dan disana ada pendidikan Kristen berlangsung.
          Pendidikan Agama Kristen adalah nama yang kita berikan kepada bahwa proses pembentukannya dan pelaksanaan edukasinya, dan disebut Kristen untuk mengedukasi seluruh dimensi kekristenan, baik yang tertulis dalam Kitab Suci atau “in book” dan dalam kehidupan keseharian atau “daily life”. Inilah yang penting untuk dipahami gereja dalam melaksanakan tugas-tugas dan praktek pendidikan Kristen.
            Proses melakukannya saya bangun diatas fondasional perkataan Yesus sendiri yang terdokumentasi dalam Matius 28: 20: “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Saya memahami substansi kata “ajar” disana lebih fokus artikulatif dari horison ilmu pendidikan agama Kristen. Kata ini secara sederhanya saya pahami sebagai tugas publik dan tanggung jawab sosial dari penggiat atau pelaku PAK di gereja lokal.
     Perintah Illahi yang Akbar ini diterjemahkan menjadi melakukan tindakan pendidikan, atau mengedukasi jemaat, masyarakat, dan bangsa atau semua orang melakukan Firman yang diucapkan atau diajarkan, dan diteladankan Yesus, dan semua yang terdokumentasi di dalam Alkitab itu. Kata ini besifat perintah atau “commission” atau mandat akbar, layaknya Allah kita yang Akbar itu.
         PAK disini saya tempatkan dalam artian tindakan dan tanggung jawab sosial yang kongkrit untuk mengedukasi jemaat. Proses edukasinya dengan pendekatan multidisciplinary. Misalnya dengan ragam dan integrasi pendekatan teologi (dengan 5 pembidangannya: historika, biblika, sistematika, praktika-PAK Anak hingga Dewasa, dan bidang-bidang umum, khususnya missiologi, dan ekklesiologi), ilmu pedagogi (teori belajar, ilmu kependidikan), sosiologi (gereja dan komunitas masyarakat beragama), psikologi umum dan perkembangan, manajemen dan kepemimpinan, dan manajemen pendidikan. Intinya PAK bisa berintegrasi dengan sains, sosial sains, dan sains humanities lainnya. Hal itu semua tentu dilaksanakan dalam PAK gereja lokal dalam situasi dan konsidi tertentu sesuai dengan levelnya.
            Tetapi, bukan berarti dengan mengatakan itu PAK di gereja lokal menjadi campur baur, tidak jelas. Tetapi malahan akan semakin jelas cara dan pelaksanaan edukasinya. Dengan multi-pendekatan ini, saat bersamaan jemaat gereja lokal dituntut oleh status dan identitas illahi, teologis dan sosiologisnya untuk membawa PAK itu turun merakyat ke jalan-jalan dan kelorong-lorong memasuki secara mendalam ke dalam seluruh dimensi kehidupan masyarakat di sekitarnya, sesuai dengan setting sosial masing-masing dimana gereja itu bersosialisasi dan mensosialisasikan dirinya.  
          Tujuan akhirnya dari PAK di dalam gereja adalah menjadikan semua orang sebagai Kristen yang matang atau dewasa secara spiritual atau “Christian maturity”. Tetapi bukanlah selalu harus diterjemahkan sebagai upaya-upaya Kristenisasi. Kita lebih baik fokus pada kematangan spiritual, sosial dan intelektual. Itulah yang bisa berdampak kongkrit bagi arena sosial yang lebih luas, dan itulah tugas utama dari PAK gereja lokal.
           Mengapa harus demikian, karena realitas atau kondisi masyarakat setempat yang sesungguhnya, lengkap dengan nilai-nilai didalamnya itulah yang menuntun semua dimensi program dan pelayanan PAK, seharusnya dilakukan oleh para penghiat dan pelaku PAK. Artinya, seluruh bentuk pelayanan PAK di gereja itu harus merupakan integrasi dari nilai-nilai teologi dan perkembangan seluruh dimensi kehidupan manusia. Metodologi pelayanan kedua hal ini harus dikerjakan dengan metode dan pendekatan sains, sosial sains, dan sains humanities lainnya. Untuk itulah salah satu keinginan dari buku ini, setidaknya bisa menambah bagaimana melakukan PAK di gereja lokal dan membantu mengurai masalah-masalah internalnya.
         Dimensi pelayanan gereja yang edukatif itu masih bisa terus semakin dikembangkan diperluas menjadi dimensi yang menjadi eduaktif dalam tataran sosio-praksisinya Dengan demikian, kita memang bisa menggunakan gereja pusat komunitas belajar atau “church as learning center community” untuk pendidikan agama dan komunitas masyarakat beragama Kristen. Disamping sebagai pusat pelayanan teologis melulu. Jika ini yang kita lakukan, maka tidak akan ada yang “mencibir” jika saya katakan memang gereja adalah salah satu instrumen yang paling tepat dan lengkap sebagai  model untuk agen perubahan sosial atau “agent of social change” itu.
             Pemahaman ini penting untuk menuntun pendidikan agama Kristen di dalam gereja agar dilakukan juga secara komprehensi dan professional. Inilah menjadi issu  fundamental dalam hal teori, pemikiran dan sosio-praksis PAK gereja lokal di zaman postmodernitas, disini dan sekarang ini. Untuk itu, pemikiran pendidikan dan prasisnya dalam buku penting disambut oleh semua pihak yang terlibat dalam membina pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Kristen.


Catatan   : Essay ini merupakan introduksi dan daftar isi dari buku yang saya tulis.
 
DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I DASAR PEMAHAMAN PELAYANAN PAK DI GEREJA LOKAL
A. Fondasi Pelayanan PAK di Gereja
1.  PAK Memenuhi Kebutuhan Hidup Semua Orang
2.  Issu-issu Fondasional Pelayanan PAK
3.  PAK adalah Edukasi Orang Kristen
4.  PAK Melayani Kebutuhan Hidup Semua Orang
a.  PAK sebagai Instrumen Gereja
b.  Asumsi Teoritis PAK: Teologis dan Psikologis
c.  Ilmu Pedagogi PAK di Gereja Lokal

BAB II METODOLOGI PELAYANAN PAK DI GEREJA LOKAL
B.  Metodologi untuk Perkembangan PAK di Gereja
1.  Kurikulum PAK: Muatan Isi dan Materi
2.  Perencanaan Mengajar dan Belajar PAK
3.  Mengorganisasi PAK Sesuai Setting Sosial
4.  Mempertemukan Teori dan dan Sosio-Praksis

BAB III MODEL PELAYANAN PAK DI GEREJA LOKAL
C. Mendesain Model PAK di Gereja
1.  Pelaksanaan PAK di Gereja Lokal
2.  Orang yang Terlibat dan Bertanggung Jawab
3.  Peran dan Kontribusi Penggiat dan Pelaku PAK
4.  Evaluasi PAK

BAB IV TANGGUNG JAWAB SOSIAL PAK DI GEREJA LOKAL
D. Sosio-Edupraksis PAK di Gereja
1.  Pendekatan dan Proses Pelayanan
2. Sosio-edupraksis PAK
3. Pelayanan PAK Sesuai Realitas dan Spirit Zaman
4.  Fungsi dan Tanggung Jawab Sosial PAK
   
Daftar Pustaka

Penulis    : Elia Tambunan, S.Th (PAK)., M.Pd.
Judul        : Gereja Sebagai Komunitas Edukasi: Bagaimana Melakukannya?
ISBN        : 978-602-99935-2-3 (Katalog Dalam Terbitan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia)
Penerbit : illumiNation, Yogyakarta
Tahun     : Agustus, 2011
Harga      : Rp. 38.000., (tambah ongkos kirim).
Kategori : PAK, Gereja, Pendidikan, Teori dan Praktek Mengajar